[Fakta atau Hoaks] Benarkah Gereja Ini Dibangun dari Tulang Umat Islam yang Menolak Dikristenkan?

Kamis, 10 September 2020 14:09 WIB
 
[Fakta atau Hoaks] Benarkah Gereja Ini Dibangun dari Tulang Umat Islam yang Menolak Dikristenkan?

Unggahan yang berisi klaim bahwa Gereja Capela dos Ossos di Portugal dibangun dari tulang-tulang umat Islam beredar di media sosial. Menurut unggahan tersebut, umat Islam yang tulang-tulangnya dipakai untuk membangun gereja itu adalah mereka yang menolak untuk dikristenkan.

"Gereja Capela dos Ossos di Kota Evora, Portugis, yang dibangun sepenuhnya oleh seorang biarawan Fransiskan seluruhnya dari tulang-tulang kaum muslim Andalusia yang terbunuh dan dikuburkan di kuburan massal di dekat tempat lokasi gereja," demikian narasi dalam unggahan tersebut.

Menurut unggahan itu pula, di gereja ini, terdapat dua mayat kering yang digantung di dinding, yang salah satunya merupakan mayat anak muslim yang dicekik kemudian dikeringkan. "Capella dos Osos juga mengoleksi sekitar 5 ribu kerangka manusia muslim Moor yang menolak memeluk agama Kristen setelah kejatuhan Andalusia."

Unggahan ini disertai dengan dua foto. Foto pertama memperlihatkan sebuah dinding yang dipenuhi dengan tulang dan tengkorak. Sementara foto kedua menunjukkan sebuah ruangan dengan tembok yang dipenuhi tulang dan tengkorak, di mana di bagian tengah ruangan itu terpasang sebuah salib.

Di Facebook, klaim beserta foto-foto itu diunggah salah satunya oleh akun Puhai Aceh pada 7 Agustus 2020. Di bagian awal, akun ini menulis, "Sebagai umat muslim, wajib tahu sejarah ini.. Betapa biadabnya mereka.. Tapi yang di tuduh radikal/teroris adalah Islam.."

Gambar tangkapan layar unggahan akun Facebook Puhai Aceh.

Apa benar Gereja Capela dos Ossos di Portugal dibangun dari tulang-tulang umat Islam yang menolak dikristenkan?

PEMERIKSAAN FAKTA

Untuk memverifikasi klaim di atas, Tim CekFakta Tempo mula-mula menelusuri jejak digital kedua foto tersebut dengan reverse image tool Google, Yandex, dan TinEye. Hasilnya, ditemukan bahwa dua foto itu diambil dari dua Capela dos Ossos yang berbeda, yakni yang berlokasi di Evora dan di Faro, Portugal.

Foto pertama, yang memperlihatkan sebuah dinding yang dipenuhi dengan tulang dan tengkorak, merupakan foto milik fotografer yang bernama Steve Allen. Foto itu bisa ditemukan di sejumlah situs stok foto, seperti Shutter Stock dan iStock Photo. Di dua situs itu, foto tersebut diunggah pada 2017.

Dalam keterangannya, tertulis bahwa foto itu memang merupakan foto Capela dos Ossos, salah satu monumen paling terkenal di Evora, Portugal. Kapel yang berukuran kecil ini terletak di sebelah pintu masuk Gereja San Francisco. Kapel tersebut diberi nama demikian karena dinding interiornya ditutupi dengan tengkorak dan tulang manusia.

Gambar tangkapan layar situs Shutter Stock yang memuat foto Capela dos Ossos milik Steve Allen.

Dikutip dari Live Science, kapel yang merupakan bagian dari Gereja San Francisco ini dilapisi dengan lebih dari 5 ribu tengkorak yang ditambah dengan berbagai macam tulang manusia lainnya. Pada abad ke-16, tidak ada lagi lahan yang tersisa di lokasi pemakaman milik gereja. Karena itu, para biarawan dari ordo Fransiskan di gereja tersebut menggali makam-makam tua yang sudah lama rusak serta mengawetkan dan merekatkan tengkorak serta tulang dari makam itu ke osuarium.

Dilansir dari Kompas.com, para biarawan menata ribuan tengkorak tersebut untuk pelayanan doa arwah bagi umat saat peringatan hari kebangkitan. Selain itu, tulang-tulang tersebut menjadi pengingat bagi yang orang-orang masih hidup terhadap kematian. Sebuah tulisan tentang kematian tertulis di pintu masuk kapel tersebut, "Nos ossos que aqui estamos, pelos vossos esperamo" yang artinya kurang lebih "Tulang belulang kami berada di sini, menunggu milikmu".

Adapun foto kedua, yang menunjukkan sebuah ruangan dengan tembok yang dipenuhi tulang dan tengkorak, di mana di bagian tengah ruangan itu terpasang sebuah salib, juga merupakan foto Capela dos Ossos, namun yang terletak di Faro, Portugal. Foto yang identik pernah dimuat oleh situs Fortheloveofwanderlust.com dalam artikelnya yang berjudul "Mengunjungi Kapel Tulang di Faro, Portugal".

Kapel ini merupakan bagian dari gereja yang lebih besar, yakni Nossa Senhora do Carmo. Gereja ini selesai dibangun pada 1700-an, sementara Capela dos Ossos selesai dibangun pada 1816. Kapel tersebut dibangun dari tulang lebih dari 1.000 biarawan, dan dihiasi dengan lebih dari 1.200 tengkorak yang ditempatkan secara simetris di seluruh kapel.

Gambar tangkapan layar artikel di situs Fortheloveofwanderlust.com yang memuat foto Capela dos Ossos di Faro, Portugal.

Di atas pintu kapel, terdapat tulisan yang berbunyi "Para aqui a considerar que a este estado has-de chegar" yang artinya kurang lebih "Berhenti dan anggaplah bahwa keadaan ini akan menimpa kita semua". Pada abad ke-18, ketika kapel ini dibangun, penempatan tulang dan tengkorak di dinding tersebut dianggap sebagai bentuk penghormatan terhadap para biarawan.

Penjelasan yang serupa terdapat dalam buku "Lonely Planet Best of Portugal". Dalam buku ini, tertulis bahwa Capela dos Ossos di Faro dibangun di belakang sebuah gereja yang bernama Nossa Senhora do Carmo. Gereja itu selesai dibangun pada 1719. "Capela dos Ossos dibangun pada abad ke-19, dipenuhi dengan tulang dan tengkorak lebih dari 1.000 biarawan sebagai pengingat ketidakkekalan duniawi."

KESIMPULAN

Berdasarkan pemeriksaan fakta Tempo, klaim bahwa gereja dalam foto itu, Capela dos Ossos, dibangun dari tulang-tulang umat Islam yang menolak dikristenkan, keliru. Foto-foto yang menyertai klaim itu merupakan foto dari dua Capela dos Ossos yang berbeda, yakni yang berlokasi di Evora dan di Faro, Portugal. Namun, keduanya tidak dibangun dari tulang umat Islam di Andalusia yang menolak dikristenkan. Tulang-tulang di Capela dos Ossos di Evora berasal dari makam-makam tua di Gereja San Francisco. Sementara Capela dos Ossos di Faro dibangun dari tulang lebih dari 1.000 biarawan.

IBRAHIM ARSYAD | ANGELINA ANJAR SAWITRI

Anda punya data/informasi berbeda, kritik atau masukan untuk artikel cek fakta ini? Kirimkan ke cekfakta@tempo.co.id



  •  

    Selengkapnya