[Fakta atau Hoaks] Benarkah Indonesia Satu-satunya Negara yang Jadi Kelinci Percobaan Vaksin Covid-19 dari Cina?

Senin, 27 Juli 2020 17:14 WIB
 
[Fakta atau Hoaks] Benarkah Indonesia Satu-satunya Negara yang Jadi Kelinci Percobaan Vaksin Covid-19 dari Cina?

Akun Facebook Yamada Himura Yamashita membagikan gambar tangkapan layar unggahan akun Twitter @podoradong pada 21 Juli 2020. Gambar tangkapan layar itu berisi klaim bahwa Indonesia adalah satu-satunya negara di dunia yang menjadi kelinci percobaan vaksin Covid-19 dari Cina.

Hanya satu2nya di dunia, ada pemerintah yang bahagia merelakan rakyat negerinya menjadi kelinci percobaan vaksin dari China. Sementara China sendiri tak mau mengujicobakan pada rakyatnya sendiri," demikian cuitan akun @podoradong yang terdapat dalam gambar tangkapan layar tersebut.

Tweet akun @podoradong itu pun diamini oleh akun Yamada Himura Yamashita dengan memberikan narasi senada, "Innalillahi. Bahkan. Rakyatnya Pun Mau dijadikan Kelinci Percobaan. Ya Allah. Berikan Kami Pertolongan Mu untuk Menjatuhkan Rezim Dzalim Ini."

Gambar tangkapan layar unggahan akun Facebook Yamada Himura Yamashita.

Narasi ini beredar usai 2.400 vaksin Sinovac dari Cina didatangkan ke Indonesia untuk diuji klinis tahap ketiga pada Agustus 2020. Vaksin Covid-19 itu akan diujicobakan terhadap 1.620 sukarelawan. Uji coba tersebut akan dilakukan oleh pemerintah yang bekerja sama dengan PT Bio Farma.

Benarkah Indonesia satu-satunya negara yang menjadi kelinci percobaan vaksin Covid-19 dari Cina?

PEMERIKSAAN FAKTA

Berdasarkan penelusuran Tim CekFakta Tempo, Indonesia bukan satu-satunya negara yang melakukan uji klinis vaksin Sinovac dari Cina. Sebelum uji klinis ke negara lain, Cina pun telah menguji coba vaksin tersebut terhadap hewan serta warga negaranya.

Negara lain yang menjadi tempat uji coba vaksin Sinovac asal Cina adalah Brasil. Di sana, uji coba vaksin itu akan dilakukan oleh 12 pusat penelitian di enam negara bagian, yakni Sao Paulo, Brasilia, Rio de Janeiro, Minas Gerais, Rio Grande do Sul, dan Parana dengan melibatkan 9. ribu sukarelawan.

Menurut Dimas Covas, Direktur Instituto Butantan, pusat penelitian yang didanai oleh negara bagian Sao Paulo, uji coba tersebut dianggap sebagai salah satu studi yang paling menjanjikan untuk memerangi Covid-19, yang hasil uji klinisnya diharapkan selesai akhir tahun ini. Perjanjian dengan Sinovac tidak hanya mencakup percobaan, tapi juga pemindahan teknologi untuk memproduksi vaksin Covid-19 secara lokal.

Selain Brasil, Bangladesh menjadi negara lainnya yang melakukan uji coba vaksin Sinovac fase ketiga. Pekan lalu, badan penelitian medis Bangladesh mengumumkan bahwa uji coba yang akan dilakukan oleh Pusat Internasional untuk Penelitian Penyakit Diarrheal (ICDDR-B) ini dimulai bulan depan dan melibatkan 4.200 sukarelawan. "Setengahnya akan mendapatkan vaksinasi," kata Mahmood Uz Jahan, direktur Dewan Penelitian Medis Bangladesh (BMRC).

Kandidat vaksin Sinovac diproduksi oleh perusahaan Sinovac Biotech Ltd, perusahaan biofarmasi yang berbasis di Cina yang berfokus pada penelitian, pengembangan, pembuatan, dan komersialisasi vaksin penyakit menular manusia. Sebelum membuat vaksin Covid-19, Sinovac pernah membuat vaksin untuk hepatitis A dan B, influenza musiman, pandemi influenza H5N1 (flu burung), influenza H1N1 (flu babi), gondong, dan rabies anjing. Pada 2009, Sinovac adalah perusahaan pertama di dunia yang menerima persetujuan untuk vaksin influenza H1N1.

Lebih dulu diuji coba di Cina

Sebelum diujicobakan ke luar Cina, vaksin Sinovac telah terlebih dahulu menjalani uji coba fase I dan fase II yang melibatkan sejumlah warga Cina. Sinovac memulai pengembangan kandidat vaksin dari virus yang tidak aktif, yang disebut CoronaVac, pada 28 Januari 2020.

Pada 13 April, Administrasi Produk Medis Nasional Cina NMPA) memberikan persetujuan untuk uji klinis fase I dan fase II di Cina, yang dimulai pada 16 April di Provinsi Jiangsu. Uji klinis fase I dan fase II itu melibatkan orang dewasa yang sehat, berusia 18-59 tahun. Mereka diberi vaksin selama 14 hari.

Hasil awal fase I dan fase II itu menunjukkan tidak ada efek samping yang serius pada 743 sukarelawan yang diberi vaksin. Lebih dari 90 persen sukarelawan pun mengalami serokonversi atau perkembangan antibodi yang dapat dideteksi pada mikroorganisme dalam serum sebagai akibat dari infeksi atau imunisasi. Serokonversi ini ditemukan pada uji klinis fase II atau 14 hari setelah selesainya vaksinasi dua dosis pada hari nol dan hari 14.

Produksi vaksin sendiri membutuhkan proses yang panjang. Pusat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Amerika Serikat (CDC) menjelaskan ada enam tahap yang biasanya diperlukan dalam pengembangan vaksin , yakni eksplorasi, pra-klinis, pengembangan klinis, tinjauan peraturan dan persetujuan, produksi, dan kontrol kualitas.

Pengembangan klinis meliputi tiga fase. Selama fase I, sejumlah orang menerima vaksin percobaan. Pada fase II, studi klinis diperluas dan vaksin diberikan kepada orang-orang yang memiliki karakteristik (seperti usia dan kesehatan fisik) yang mirip dengan orang-orang yang menjadi sasaran vaksin baru. Pada fase III, vaksin diberikan kepada ribuan orang dan diuji efikasi dan keamanannya. Pelibatan warga di Brasil, Bangladesh, dan Indonesia termasuk dalam fase III ini.

Sinovac bukan satu-satunya kandidat vaksin Covid-19

Selain Sinovac, vaksin lain juga diproduksi oleh perusahaan-perusahaan yang berbasis di AS dan Inggris. Sama halnya dengan Sinovac, perusahaan-perusahaan itu juga menerapkan prosedur yang mengujicobakan vaksin buatannya kepada warga negara lain.

Di Australia misalnya, beberapa vaksin Covid-19 sedang diuji coba. Salah satunya adalah vaksin yang sedang dikembangkan oleh Clover Biopharmaceuticals yang berbasis di Cina. Perusahaan bioteknologi yang berbasis di AS, Novavax, pun sudah memulai uji coba vaksinnya di Australia pada Mei dan diperkirakan akan segera memperluas pengujiannya ke AS dan negara-negara lain.

Uji coba skala besar akan dimulai di AS pada Agustus oleh kandidat vaksin yang dikeluarkan oleh Universitas Oxford. Uji coba vaksin ini didanai oleh pemerintah Inggris.

KESIMPULAN

Berdasarkan pemeriksaan fakta Tempo, klaim bahwa Indonesia satu-satunya negara yang menjadi kelinci percobaan vaksin Covid-19 dari Cina, padahal Cina tidak mau mengujicobakan vaksin itu pada rakyatnya sendiri, menyesatkan. Selain Indonesia, uji coba vaksin Sinovac fase III dilakukan di Brasil dan Bangladesh. Uji klinis tersebut merupakan prosedur yang umum dilakukan dalam pengembangan vaksin. Sebelum menguji coba pada populasi yang lebih besar pun, uji klinis vaksin Sinovac pada fase I dan fase II telah dilakukan pada sejumlah warga Cina.

IKA NINGTYAS

Anda punya data/informasi berbeda, kritik atau masukan untuk artikel cek fakta ini? Kirimkan ke cekfakta@tempo.co.id



  •  

    Selengkapnya