[Fakta atau Hoax] Benarkah Gempa dan Tsunami Besar Akan Melanda Indonesia pada 31 Desember 2018?

Kamis, 27 Desember 2018 10:40 WIB
 
Share the Facts
5
1
7
Tempo rating logo Tempo Penilaian:
Keliru
Benarkah Gempa dan Tsunami Besar Akan Melanda Indonesia pada 31 Desember 2018?
Facebook
Minggu, 23 Desember, 2018

Kabar itu dibagikan oleh akun Rudy Beckham AL Batawi di Facebook pada 23 Desember 2018. Selengkapnya ia menulis:

Waspada KIAMAT SUDAH DEKAT...

Malam Tahun Baru 31 Desember 2018 Pukul 24.00 WIB ( 00.00 WIB ) akan terjadi GEMPA dan TSUNAMI BESAR di Seluruh Indonesia dan Dunia untuk itu dihimbau kepada semua Masyarakat Dunia agar BERTAUBAT dan MEMAKMURKAN MASJID menjalankan SHOLAT 5 WAKTU agar kita semua MATI dalam keadaan IMAN dan TAQWA kepada Alloh SWT dan Rosul-Nya.

" Ya Alloh Ya Tuhanku...Bukan kematian yang kami takuti, akan tetapi apakah kami mati dalam keadaan ISLAM dan IMAN atau TIDAK "

" Ya Alloh Ya Tuhanku... Matikan kami dalam memperjuangkan Agama Islam dan Mati Syahid kumpul bersama Para Nabi dan Rosul Mu di dalam Surga Firdaus "
Amin

Dia menyertakan video berita iNews berjudul “Gempa Megathrust Ancam Ibukota”. Berita berdurasi 1 menit 52 detik itu terkait pernyataan BMKG yang meminta masyarakat Jakarta menyiapkan mitigasi bencana untuk menghadapi gempa besar (megathrust) hingga 8,7 skala richter.

Postingan tersebut rupanya memantik banyak respon. Hingga 26 Desember 2018, unggahan di FB itu telah dibagikan 144,9 ribu kali dan mendapatkan 6,9 ribu komentar. Videonya sendiri telah ditonton lebih dari 2,5 juta tayangan.

Benarkah gempa dan tsunami besar akan melanda Indonesia dan dunia?

 

Penelusuran fakta

1. Video lama

Tempo melakukan pencarian video berita itu di kanal resmi iNews di Youtube. Hasilnya, video tersebut sebenarnya adalah berita yang telah dipublikasikan di program iNews siang pada 6 Maret 2018. Tidak ada keterangan bahwa ancaman gempa akan datang pada malam tahun baru 31 Desember 2018. 

2. Gempa tidak dapat diprediksi

Kabar mengenai ancaman gempa megathrust itu pernah menghebohkan publik pada Maret 2018. Tempo pun pernah menurunkan sejumlah laporan untuk memperjelas kesimpangsiuran mengenai gempa megathrust yang dikabarkan akan melanda Jakarta maupun pesisir selatan Jawa.

Potensi gempa megathrust selatan Jawa memang ada. Namun menurut Nugroho Dwi Hananto, peneliti gempa dan kelautan dari Pusat Oseanografi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), tidak ada yang bisa memprediksi kapan persisnya gempa besar akan mengguncang wilayah di sekitarnya, termasuk Jakarta.

"Hingga saat ini belum ada metode untuk memprediksi gempa secara pasti," kata pria yang juga menjabat Kepala Bidang Pengelolaan dan Diseminasi Hasil Penelitian Puslit Oseanografi tersebut kepada Tempo, Senin, 5 Maret 2018.

Nugroho menjelaskan, megathrust ialah sesar (patahan) yang naik dan terbentuk karena adanya zona tumbukan (subduksi) antara kerak samudra dan kerak benua. Zona megathrust di Indonesia, kata dia, memanjang dari utara di Andaman, barat Sumatera, selatan Jawa, utara Papua, dan utara Sulawesi.

"Secara statistik, 85 persen gempa bumi dihasilkan zona megathrust," ujar Nugroho. "Baik gempa besar maupun kecil.”

Gempa-gempa masa lalu yang tercatat, Nugroho menjelaskan, biasanya dijadikan acuan untuk menghitung periode dan prediksi gempa masa depan. Perhitungan perkiraan gempa juga dilakukan dari rekaman data karang dan endapan sedimen.

"Tapi perhitungan itu hanya menjadi acuan di mana gempa selanjutnya akan terjadi, di mana ada sesar aktif, termasuk zona megathrust. Bukan untuk menghitung waktu, tanggal, bulan, dan jam berapa gempa akan terjadi," kata Nugroho.

Menurut Nugroho, prediksi gempa yang pasti tidak mungkin dilakukan dengan teknologi yang ada sekarang ini. Sebab, struktur penyebab gempa melibatkan faktor alamiah yang kompleks. Karena itu, Nugroho kembali menekankan, "Tidak ada manusia yang tahu pasti kapan gempa akan terjadi selanjutnya."

3. Menghadapi gempa

Sementara itu Untuk meningkatkan kewaspadaan, BMKG mengimbau masyarakat Indonesia agar meniru cara warga Kobe, Jepang, bersiap menghadapi gempa. Kepala BMKG Dwikorita Karnawati mengatakan kesiapan warga Kobe telah menyelamatkan banyak nyawa saat gempa melanda wilayah Jepang pada 1995.

Gempa Kobe merupakan gempa bumi yang melanda kawasan Jepang pada 17 Januari 1995. Episentrum gempa itu berada di sebelah Utara Pulau Awaji, sebelah selatan Prefektur Hyogo berkekuatan magnitudo 7,2.

Gempa bumi itu terjadi akibat tubrukan tiga lempeng, yaitu lempeng Filipina, lempeng Pasifik, dan lempeng Eurasia. Gempa itu berlangsung selama 20 detik dan mengakibatkan kerusakan besar di kota Kobe yang terletak sekitar 20 kilometer dari pusat gempa. Gempa Bumi memakan korban jiwa sebanyak 6.433 orang yang sebagian besar merupakan penduduk kota Kobe.

Dari bencana itu, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat sebagian besar korban yang selamat itu karena pertolongan diri sendiri, yakni mencapai 34,9 persen. Sementara mereka yang selamat karena pertolongan keluarga sebanyak 31,9 persen, pertolongan teman atau tetangga 28 persen, pertolongan pejalan kaki 2,6 persen, pertolongan oleh tim penyelamat 1,7 persen, dan pertolongan lainnya hanya 0,9 persen.

Karena itu, Dwi mengatakan kesiapan menghadapi bencana telah terbukti dapat memperkecil risiko jumlah korban dan kerugian. Upaya mitigasi gempa, kata dia, harus dilakukan secara sungguh-sungguh dan komprehensif dengan melibatkan kerja sama semua pihak, baik saat terjadi bencana, dan pascabencana.

Untuk menyadarkan masyarakat Indonesia akan mitigasi gempa, Dwikorita meminta semua pihak terus melakukan sosialisasi dan geladi evakuasi soal gempa bumi. Geladi itu, kata dia, harus terus dilakukan secara rutin, baik di sekolah, hotel, dan gedung-gedung publik.

"Latihan itu dapat menjadikan masyarakat lebih paham dan siap dalam menghadapi bencana, serta lebih terampil dan cekatan dala menyelamatkan diri sendiri," kata dia kepada Tempo, 4 Maret 2018.

Kesimpulan

Dari fakta di atas, dapat disimpulkan bahwa kabar yang disebarkan oleh Rudy Beckham AL Batawi di Facebook adalah keliru. Indonesia memang punya potensi gempa dan tsunami, namun datangnya bencana tersebut tidak bisa diprediksi.

IKA NINGTYAS