[Fakta atau Hoaks] Benarkah Jogging dan Bersepeda Rawan Tularkan Corona Bahkan pada Jarak 10-20 Meter?

Rabu, 15 April 2020 15:48 WIB
 
[Fakta atau Hoaks] Benarkah Jogging dan Bersepeda Rawan Tularkan Corona Bahkan pada Jarak 10-20 Meter?

Narasi bahwa seseorang yang melakukan olahraga lari atau jogging serta bersepeda rawan tertular dan menularkan virus Corona Covid-19 bahkan pada jarak 10-20 meter viral di media sosial. Informasi ini diklaim berasal dari para peneliti asal Belgia dan Belanda.

Di Facebook, narasi tersebut dibagikan salah satunya oleh akun Rohadi Abu Faiz, yakni pada 10 April 2020. Akun ini menulis sebagai berikut:

"Bagi yg tetap ngotot jogging dan sepedaan
Ternyata anda rawan tertular dan rawan menularkan COVID-19 bahkan pada jarak 20 meter sekalipun.

Lho bukannya jarak aman 1 meter social distancing..?
Tidak berlaku.
Itu untuk bila sama sama diam.
Ketika bergerak apalagi semakin cepat.. maka daya kibas angin akan menerbangkan luas virus ke mana.
Jadi kalau ada yg bersepeda melintas di depan anda.. maka bisa jadi ada virus yg ikut terkibas anginnya ke anda.

Ini hasil studinya
https://medium.com/@jurgenthoelen/belgian-dutch-study-why-in-times-of-covid-19-you-can-not-walk-run-bike-close-to-each-other-a5df19c77d08

Kenapa bersepeda dan lari di luar rumah menjadi tetap berbahaya... karena akan menjadikan COVID-19 aerosol terkena kibasan angin gerakan kecepatan itu."

Akun Rohadi Abu Faiz juga membagikan beberapa gambar tangkapan layar dari laporan studi yang dilakukan oleh peneliti Belgia dan Belanda itu, yakni Bert Blocken, Fabio Malisia, Thijs van Druenen, dan Thierry Marchal. Hingga artikel ini dimuat, unggahan tersebut telah dibagikan lebih dari 1.700 kali.

Gambar tangkapan layar unggahan akun Facebook Rohadi Abu Faiz.

Adapun tautan yang dibagikan oleh akun Rohadi Abu Faiz berisi artikel yang diunggah oleh akun Jurgen Thoelen di Medium, yang dalam profilnya mengklaim sebagai pengusaha, mengenai studi Bert Blocken dkk. Dalam artikel itu, dicantumkan pula tautan ke laporan studi Bert Blocken dkk.

Dalam laporan yang disebut white paper ini, disebutkan bahwa studi itu menyelidiki apakah jarak fisik sejauh 1,5 meter cukup aman diterapkan ketika berjalan, berlari, atau bersepeda. Penelitian ini pun menemukan bahwa jarak aman sejauh 1,5 meter hanya berlaku dalam kondisi diam. Saat berjalan, berlari, atau bersepeda, slipstream atau pergerakan udara membuat droplet terbang lebih jauh. Karena itu, penelitian ini menganjurkan untuk berjalan, berlari, atau bersepeda secara bersebelahan atau membentuk formasi diagonal, tidak membentuk formasi depan-belakang.

Studi ini juga menyatakan, tanpa adanya angin, jarak fisik sejauh 1,5 meter hanya aman bagi dua orang yang berjalan, berlari, atau bersepeda secara bersebelahan. Sementara itu, jarak aman antara satu orang dengan orang lainnya yang membentuk formasi depan-belakang ketika berjalan dengan kecepatan 4 km per jam adalah sekitar 5 meter, ketika berlari dengan kecepatan 14,4 km per jam adalah sekitar 10 meter, dan ketika bersepeda dengan kecepatan 30 km per jam adalah sekitar 20 meter.

Apa benar orang yang jogging serta bersepeda rawan tertular dan menularkan virus Corona Covid-19 bahkan pada jarak 10-20 meter?

PEMERIKSAAN FAKTA

Berdasarkan pemeriksaan terhadap white paper tersebut oleh Tim CekFakta, tertulis bahwa studi itu masih berstatus "preprint". Preprint merupakan dokumen ilmiah yang dipublikasikan sebelum menjalani peer-review. Peer-review adalah sebuah proses pemeriksaan oleh para pakar lain yang memiliki keahlian di bidang penelitian yang diperiksa. Peer-review bertujuan untuk membuat sebuah penelitian memenuhi standar disiplin ilmiah dan keilmuan.

Dalam sebuah tulisan yang berbentuk tanya-jawab yang diunggah oleh Blocken di akun Twitter-nya, ia mengakui bahwa studinya tersebut memang belum menjalani peer-review. Menurut Blocken, kita tengah menghadapi situasi yang luar biasa. Karena itu, studi ini penting dipublikasikan untuk membantu mengurangi risiko penyebaran Covid-19. "Prioritasnya adalah kesehatan masyarakat," katanya.

Meskipun begitu, dilansir dari Vice, ratusan ilmuwan lain telah berhasil menerbitkan penelitian tentang virus Corona Covid-19 yang telah menjalani peer-review dalam beberapa pekan terakhir. "Perlindungan atas publikasi ilmiah diberlakukan karena suatu alasan, dan kita telah melihat selama pandemi ini bahwa proses yang terburu-buru memicu terbitnya publikasi ilmiah yang tidak akurat," demikian laporan yang ditulis oleh Vice.

Kepada Vice, ahli epidemiologi dari Pusat Dinamika Penyakit Menular Harvard, William Hanage, mengatakan bahwa viralnya penelitian Blocken itu berbahaya. Hingga kini, para ilmuwan belum bisa memastikan seberapa jauh virus Corona Covid-19 dapat menyebar lewat udara. Beberapa ahli juga berspekulasi bahwa risiko penularan Covid-19 di luar ruangan kemungkinan lebih kecil.

Selain itu, droplet memang membawa virus. Tapi tidak berarti bahwa siapa pun yang terpapar droplet dari napas seseorang akan terinfeksi. Transmisi Covid-19 tergantung pada sejumlah faktor. Para ilmuwan meyakini salah satu faktor yang penting adalah "viral load", yakni ukuran dari seberapa banyak virus yang terdapat dalam tubuh seseorang.

Menurut ahli epidemiologi Dicky Budiman saat dihubungi Tim CekFakta Tempo pada 14 April 2020, hingga kini, belum ditemukan bukti adanya penularan Covid-19 melalui jogging atau bersepeda. Riset yang dilakukan oleh Blocken pun masih dalam tahap awal. Artinya, perlu dilakukan penelitian lebih lanjut.

Selain itu, riset yang dilakukan oleh Blocken tersebut menyalahi etika. Pasalnya, penelitian itu tidak disampaikan melalui jurnal. "Tapi melalui media sosial sehingga dapat diterima berbeda oleh masyarakat. Riset ini belum dipublikasikan di jurnal dan belum melalui mekanisme peer-review," kata Dicky.

Riset serupa, menurut Dicky, memang pernah dilakukan, yakni di ruang tertutup seperti perpustakaan dan pusat perbelanjaan. Namun, dalam menyikapi potensi penularan Covid-19, baik di ruang terbuka maupun di ruang tertutup, prinsip utamanya adalah penyakit ini ditularkan melalui droplet, dan potensi lainnya aerosol. "Faktor lingkungan juga tentu berpengaruh."

Saat ini, kata Dicky, para peneliti masih melakukan riset mengenai sejauh mana kemungkinan penularan Covid-19 secara aerosol. Namun, para ahli epidemiologi berpandangan bahwa sejauh ini aktivitas di ruang terbuka yang tidak ramai atau tidak dipadati banyak orang masih aman.

Menurut Dicky, agar tetap hidup, virus harus senantiasa berada di dalam cairan tubuh penderita, baik ingus, bersin, ataupun batuk. Artinya, ketika keluar dari tubuh penderita, cairan itu akan terpengaruh oleh gravitasi. "Jadi, tidak beterbangan ke sana-sini," tuturnya.

Dicky juga mengatakan bahwa terinfeksinya seseorang oleh Covid-19 dipengaruhi banyak faktor. Pertama, viral load atau jumlah virus yang menyerang. Kedua, imunitas tubuh atau bagaimana tubuh merespon serangan virus. "Jadi, melihat faktor ini, rasanya jauh kemungkinan teori Blocken terpenuhi," katanya.

Meskipun begitu, Dicky mengingatkan bahwa, ketika berolahraga, masyarakat harus tetap memberlakukan jaga jarak fisik. "Kalau mau olahraga, boleh saja. Asal sendiri atau di lokasi yang memungkinkan jarak antar orang sangat longgar. Makin jauh tentu makin bagus. Pakai masker kain dan jauhi keramaian," ujar kandidat doktor di Universitas Griffith Australia tersebut.

Dikutip dari The Guardian, peneliti senior kesehatan global di Universitas Southampton, Michael Head, mengatakan bahwa seseorang yang jogging tetap harus menjaga jarak meskipun risiko penularan virus kecil. "Tetap ada risiko di sana, tapi risikonya akan sangat kecil," kata Head pada 23 Maret 2020.

Menurut Head, ketika seseorang berlari, memang ada saat di mana dia berada di belakang orang lain, lalu melewati orang tersebut. Namun, jangka waktu untuk berada di dekat orang lain itu akan minimal. "Jika Anda berlari dan melewati seseorang dalam beberapa detik, di ruang terbuka pula, risiko penularan ketika itu kecil," tuturnya.

KESIMPULAN

Berdasarkan pemeriksaan fakta di atas, klaim bahwa orang yang jogging serta bersepeda rawan tertular dan menularkan virus Corona Covid-19 bahkan pada jarak 20 meter belum terbukti kebenarannya. Hingga artikel ini dimuat, studi yang memuat klaim itu belum melalui peer-review sehingga belum memenuhi standar disiplin ilmiah dan keilmuan.

Saat ini, para ilmuwan belum bisa memastikan seberapa jauh penyebaran virus Corona Covid-19 lewat udara. Para peneliti pun masih melakukan riset mengenai sejauh mana kemungkinan penularan Covid-19 secara aerosol. Selain itu, banyak faktor yang mempengaruhi terinfeksinya seseorang oleh Covid-19, seperti viral load, imunitas tubuh, dan sebagainya.

IBRAHIM ARSYAD

Anda punya data/informasi berbeda, kritik atau masukan untuk artikel cek fakta ini? Kirimkan ke cekfakta@tempo.co.id



  •  

    Selengkapnya