[Fakta atau Hoaks] Benarkah Virus Corona Mati dalam Suhu 26-27 Derajat dan Saat Terkena Sinar Matahari?

Selasa, 3 Maret 2020 18:49 WIB
 
[Fakta atau Hoaks] Benarkah Virus Corona Mati dalam Suhu 26-27 Derajat dan Saat Terkena Sinar Matahari?

Pesan berantai yang berisi klaim bahwa virus Corona baru, Covid-19, bakal mati dalam suhu 26-27 derajat Celcius dan saat terkena sinar matahari beredar di WhatsApp sejak Selasa, 3 Maret 2020. Pesan ini beredar setelah Presiden Joko Widodo atau Jokowi mengumumkan bahwa ada dua WNI di Indonesia yang positif terinfeksi virus Corona pada 2 Maret 2020.

Bagian awal pesan berantai itu berbunyi, "Teman sekelas keponakan laki-laki, lulus dengan gelar master, dan bekerja di Rumah Sakit Shenzhen. Dia dipindahkan ke Wuhan untuk mempelajari virus pneumonia baru. Dia baru saja menelepon dan meminta saya untuk memberi tahu semua kerabat dan teman saya bahwa jika pilek dan dahak terjadi selama pilek, tidak dapat disimpulkan bahwa itu adalah pneumonia coronavirus tipe baru. Karena coronavirus pneumonia adalah batuk kering tanpa pilek, ini adalah cara paling sederhana untuk mengidentifikasinya."

Kemudian, pesan berantai itu menyebut, "Tipe baru virus pneumonia koroner tidak tahan panas dan akan terbunuh dalam suhu 26-27 derajat. Karena itu, minumlah air panas untuk mencegah virus. Olahraga, Anda tidak akan terinfeksi virus. Jika Anda demam tinggi, tutupi selimut dan minumlah sup jahe untuk menambah energi panas tubuh tanpa perlu vaksin. Makan lebih banyak jahe, merica bawang putih, dan merica bisa menyelesaikannya. Kurangi makan yg manis, asam, dan asin, dan jangan pergi ke daerah cuaca dingin. Virus akan hilang sepenuhnya saat terkena sinar matahari."

Gambar tangkapan layar pesan berantai di WhatsApp yang memuat narasi keliru mengenai virus Corona.

Apa benar virus Corona Covid-19 akan mati dalam suhu 26-27 derajat Celcius dan saat terkena sinar matahari?

PEMERIKSAAN FAKTA

Berdasarkan penelusuran Tim CekFakta Tempo, hingga kini, tidak satu pun penelitian yang menyebut virus Corona Covid-19 bisa mati dalam suhu 26-27 derajat Celcius dan saat terkena sinar matahari.

Dilansir dari arsip pemberitaan Tempo, Kepala Bidang Penelitian Fundamental Lembaga Biologi Molekular Eijkman, Herawati Sudoyo, mengatakan belum ada penelitian mengenai keterkaitan hidup-matinya virus Corona dengan suhu udara.

Menurut Herawati, virus Corona memang akan mati jika dipanasi dengan suhu 56 derajat Celcius selama 30 menit. Namun, dia mengingatkan bahwa suhu di Indonesia tidak mencapai 56 derajat. "Jadi, sangat spekulatif kalau dibilang temperatur akan mengurangi (potensi terjangkit Corona)," ujar Hera pada 1 Maret 2020.

Merujuk laporan cuaca dari Google Weather, suhu di Jakarta pada 1 Maret lalu adalah 29 derajat Celcius. Kategori panas ekstrem memang pernah terjadi pada Oktober 2019 lalu. Namun, saat itu, suhu hanya mencapai 37-39 derajat Celcius.

Pada 8 Februari 2020, China Daily juga membantah isu bahwa sinar matahari bisa membunuh virus Corona Covid-19. Suhu iradiasi matahari tidak bisa mencapai 56 derajat Celcius. Sinar ultraviolet pun tidak dapat menyamai intensitas dari lampu ultraviolet. Karena itu, virus tersebut tidak dapat dibunuh oleh sinar matahari.

Gambar tangkapan layar berita di China Daily.

Dengan demikian, klaim bahwa virus Corona Covid-19 bisa mati dalam suhu 26-27 derajat Celcius, yang mana lebih rendah dari 56 derajat Celcius, serta saat terkena sinar matahari tidak berdasarkan pada hasil penelitian yang bisa dipertanggungjawabkan kebenarannya.

Mencegah terinfeksi virus Corona Covid-19

Badan Kesehatan Dunia (WHO) telah memberikan sejumlah tips untuk mencegah infeksi virus Corona Covid-19. Beberapa tips berikut ini dicuplik dari situs resmi WHO:

- Cuci tangan Anda sesering mungkin

Secara teratur dan menyeluruh, bersihkan tangan Anda dengan cairan berbasis alkohol atau sabun dan air. Mengapa? Mencuci tangan dengan sabun dan air atau menggunakan pembersih berbasis alkohol bisa membunuh virus yang mungkin menempel di tangan Anda.

- Ambil jarak dengan seseorang yang sedang batuk atau bersin

Ambil jarak setidaknya 1 meter (3 kaki) dengan seseorang yang sedang batuk atau bersin. Mengapa? Ketika seseorang batuk atau bersin, mereka menyemprotkan tetesan cairan dari hidung atau mulut yang mungkin mengandung virus. Jika terlalu dekat, Anda bisa menghirup tetesan itu, termasuk virus Corona Covid-19 jika orang tersebut terinfeksi virus itu.

- Hindari menyentuh mata, hidung, dan mulut

Mengapa? Tangan kita menyentuh banyak benda dan dapat terkontaminasi dengan virus. Setelah itu, tangan dapat memindahkan virus ke mata, hidung, atau mulut Anda. Dari sana, virus bisa masuk ke tubuh dan membuat Anda sakit.

- Jaga kebersihan pernapasan

Pastikan bahwa Anda dan orang-orang di sekitar Anda menjaga kebersihan pernapasan dengan baik. Anda harus menutup mulut dan hidung dengan siku saat Anda batuk atau bersin. Kemudian, segera buang tisu bekas. Mengapa? Tetesan cairan dari mulut dan hidung dapat menyebarkan virus. Dengan menjaga kebersihan pernapasan, Anda melindungi orang-orang di sekitar Anda dari virus, salah satunya virus Corona Covid-19.

- Jika mengalami demam dan batuk serta sulit bernapas, segera cari pertolongan medis

Tetap berada di rumah jika Anda merasa tidak sehat. Jika Anda mengalami demam dan batuk serta kesulitan bernapas, segera cari bantuan medis. Ikuti arahan otoritas kesehatan setempat. Mengapa? Otoritas nasional dan lokal mestinya memiliki informasi terbaru tentang situasi di daerah Anda. Menelepon terlebih dahulu akan memungkinkan penyedia layanan kesehatan mengarahkan Anda ke fasilitas kesehatan yang tepat. Hal ini juga akan melindungi Anda dan membantu mencegah penyebaran virus dan infeksi lain.

KESIMPULAN

Berdasarkan pemeriksaan fakta di atas, pesan berantai yang menyebut virus Corona Covid-19 akan mati dalam suhu 26-27 derajat Celcius dan saat terkena sinar matahari keliru. Hingga kini, tidak satu pun penelitian yang menyebut virus Corona Covid-19 bisa mati dalam suhu 26-27 derajat Celcius dan saat terkena sinar matahari.

IKA NINGTYAS

Anda punya data/informasi berbeda, kritik atau masukan untuk artikel cek fakta ini? Kirimkan ke cekfakta@tempo.co.id



  •  

    Selengkapnya