[Fakta atau Hoaks] Benarkah Cina Tembak Massal Warga Wuhan yang Terinfeksi Virus Corona?

Sabtu, 15 Februari 2020 13:51 WIB
 
[Fakta atau Hoaks] Benarkah Cina Tembak Massal Warga Wuhan yang Terinfeksi Virus Corona?

Video yang diklaim sebagai video penembakan massal terhadap warga Wuhan yang terinfeksi virus Corona baru, COVID-2019, viral di media sosial. Di Facebook, video tersebut dibagikan oleh akun Puri Awaniez pada 13 Februari 2020.

"Inilah kondisi di Wuhan terkini yang semakin menggila dan tak terkendali. Penembakan massal mulai diberlakukan pada mereka yang terinfeksi virus Corona. Jeritan terdengar dimana-mana. Kondisi seperti neraka dunia," demikian narasi yang ditulis akun Puri Awaniez.

Gambar tangkapan layar unggahan akun Facebook Puri Awaniez yang memuat narasi keliru mengenai video yang diunggahnya.

Video yang berdurasi 57 detik itu dibuka dengan cuplikan yang memperlihatkan tiga pria berpakaian pelindung yang membawa senjata memasuki lorong apartemen. Dalam cuplikan berikutnya, terlihat sejumlah orang yang tergeletak di tanah dan terdengar suara yang mirip tembakan.

Hingga artikel ini dimuat, video tersebut telah ditonton lebih dari 8 ribu kali. Video unggahan akun Puri Awaniez itu pun sudah dibagikan hingga 437 kali dan direspons hingga 117 kali.

Benarkah pemerintah Cina melakukan penembakan massal terhadap warga Wuhan yang terinfeksi virus Corona COVID-2019?

PEMERIKSAAN FAKTA

Tim CekFakta Tempo menggunakan tools InVID untuk memfragmentasi video unggahan akun Puri Awaniez tersebut menjadi beberapa gambar. Dari sejumlah potongan gambar itu, Tempo menelusuri asal-usulnya dengan reverse image tools, baik milik Google, Yandex, maupun TinEye.

Hasilnya, Tempo menemukan bahwa video yang diunggah akun Puri Awaniez itu adalah gabungan dari tiga video berbeda yang diambil dalam waktu yang berbeda pula. Berikut ini adalah fakta terkait tiga video tersebut:

Video 1 (Detik pertama hingga detik ke-20)

Misinformasi mengenai video tiga pria yang memegang senjata itu pertama kali beredar pada 1 Februari 2020. Salah satu akun yang membagikannya adalah akun Twitter @lym104_hker. Oleh akun ini, video tersebut diberi narasi "Somewhere in Wuhan, three unknown people are wearing protective clothing but holding guns".

Faktanya, tiga pria itu adalah polisi. Namun, ketiganya tidak sedang berada di Wuhan. Berdasarkan nomor yang tertera di badan mobil, yakni G1796, mobil tersebut adalah mobil milik biro kepolisian Kota Yiwu, Provinsi Zhejiang, Cina bagian timur.

Ketiga polisi itu pun tidak melakukan penembakan massal terhadap warga yang terinfeksi virus Corona. Dikutip dari situs China Global Television Network (CGTN), ketiga polisi tersebut dikirim ke Jalan Futian untuk mengatasi anjing gila.

Pernyataan resmi dari polisi berbunyi: "Pada 1 Februari pukul 11.37, polisi Yiwu menerima laporan dari warga sipil yang meminta bantuan untuk menangani anjing yang telah melukai orang-orang di lingkungan Futian. Biro kemudian mengirim tiga polisi bersenjata dengan peralatan pelindung, untuk melindungi dari virus COVID-2019."

Sumber

*****

Video 2 (Detik ke-21 sampai detik ke-35)

Sejumlah orang yang terbaring di tanah bersama para perawat dalam cuplikan tersebut bukanlah warga yang ditembak massal seperti yang diklaim oleh akun Puri Awaniez. Tempo menemukan bahwa video itu pernah beredar sebelumnya pada 26 Januari 2020. Video tersebut diunggah oleh akun Twitter @wongwaaa.

Akun ini menjelaskan bahwa video itu adalah video orang-orang di Wuhan yang terpaksa dirawat di rumah mereka karena rumah sakit sudah penuh dengan pasien yang terinfeksi virus Corona COVID-2019.

Suara yang mirip tembakan dalam video itu pun bukan suara senjata. Tempo memperoleh petunjuk dari komentar akun @siren12041. Akun ini menjelaskan bahwa suara itu adalah suara kembang api atau petasan. Wabah virus Corona memang terjadi saat tahun baru Cina. Bahkan, beberapa desa di Cina menyalakan kembang api atau petasan sebagai tradisi ketika ada anggota keluarga yang meninggal dengan tujuan untuk memberitahu warga lain.

Sumber

*****

Video 3 (Detik ke-36 sampai selesai)

Organisasi cek fakta Perancis, Observers France24, telah memverifikasi video ini dengan mewawancarai Zhang W (bukan nama sebenarnya), salah satu warga Kota Wuzu, Cina, yang berkomunikasi dengan saksi-saksi kejadian dalam video tersebut secara langsung.

Video itu direkam di Kota Wuzu, tepatnya di depan sekolah Siyuan, pada 29 Januari 2020. Orang berjaket kuning dalam video itu bukanlah warga yang ditembak massal, melainkan korban kecelakaan motor.

Zhang W pun menunjukkan sejumlah video yang memiliki beberapa kesamaan dengan video unggahan akun Puri Awaniez, yakni bentuk trotoar dan orang yang tergeletak di tanah dengan sepeda motor di sebelahnya. Terdapat pula jejak kecelakaan yang terlihat, yakni pecahan beton dan bercak darah di dekat sebuah pohon, tidak jauh dari korban.

Selain itu, Zhang W mengirim beberapa gambar tangkapan layar yang berisi diskusinya dengan sekelompok warga Wuzu di aplikasi pesan WeChat serta video lain yang menunjukkan kejadian yang sama, yang direkam dari mobil yang bergerak.

Informasi kecelakaan ini diperkuat dengan siaran pers dari polisi setempat yang dikirim Zhang W ke Observers France24. Siaran pers itu berbunyi:

"Pada 29 Januari sore, kecelakaan tunggal terjadi di Kota Wuzu. Orang tersebut mengendarai skuter. Karena lalu lintas yang buruk, dia bergeser ke sisi jalan, menabrak batu-batu, dan jatuh dengan benturan di bagian belakang kepala. Sayangnya, dia meninggal. Pengemudilah yang bertanggung jawab. Polisi setempat dan staf pusat kesehatan dengan cepat tiba untuk menangani kecelakaan itu."

Sumber

KESIMPULAN

Berdasarkan pemeriksaan fakta di atas, video unggahan akun Facebook Puri Awaniez bukanlah video penembakan massal terhadap warga Wuhan yang terinfeksi virus Corona COVID-2019. Video tersebut merupakan hasil suntingan dengan menggabungkan tiga video yang berbeda, baik konteks maupun waktu pengambilannya. Dengan demikian, narasi yang dibagikan akun Facebook Puri Awaniez keliru. 

IKA NINGTYAS

Anda punya data/informasi berbeda, kritik atau masukan untuk artikel cek fakta ini? Kirimkan ke cekfakta@tempo.co.id



  •  

    Selengkapnya