Rabu, 14 November 2018

[Fakta atau Hoax] Benarkah Rekaman Percakapan Pilot dan Co-Pilot Berasal dari Black Box Lion Air ?

Selasa, 6 November 2018 19:25 WIB
 
[Fakta atau Hoax] Benarkah Rekaman Percakapan Pilot dan Co-Pilot Berasal dari Black Box Lion Air ?

Rekaman yang diklaim sebagai percakapan antara pilot dan copilot sebelum pesawat jatuh, beredar di media sosial. Beberapa informasi bahkan menyebutkan bahwa rekaman itu adalah pilot dan copilot maskapai Lion Air JT 610 jenis Boeing 737 Max 8 sebelum jatuh di Tanjung Karawang, Senin pagi 29 Oktober 2018.

Rekaman percakapan itu antara lain diunggah di Youtube oleh akun Febri ARN pada 31 Oktober 2018 dengan durasi 3 menit 1 detik. Rekaman itu menyertakan video visual pesawat Lion Air yang bagian lambungnya tertulis Boeing 737 Max 8. Unggahan tersebut telah ditonton 12.171 kali.

Versi berbeda diunggah dalam website http://idstory.ucnews.ucweb.com, yang kemudian disebarkan di Facebook pada 29 Oktober 2018. Dalam website tersebut, rekaman itu berdurasi 4 menit 17 detik dengan visual pesawat Adam Air. Hingga 3 November, unggahan itu telah dibagikan 14,7 ribu kali.

Pesawat Adam Air rute Surabaya-Manado, Sulawesi Utara, memang pernah jatuh pada 1 Januari 2007. Saat itu, pesawat Boeing 737-400 bernomor registrasi PK-KKW itu jatuh di Perairan Majene, Sulawesi Barat. Dugaan tersebut berdasarkan penemuan kotak hitam di Perairan Majene pada 27 Agustus 2007.

Apakah rekaman percakapan itu berasal dari black box pesawat Adam Air atau Lion Air JT 610?

Petugas menunjukkan kotak berisi bagian dari 'blackbox' yang merupakan 'flight data recorder' (FDR), setelah kotak tersebut tiba di kantor Komisi Nasional Keselamatan Transportasi, Jakarta, 12 Januari 2015. TEMPO/Imam Sukamto

Penelusuran Fakta

Black Box Lion Air JT 610 baru ditemukan pada 1 November 10.05 oleh tim gabungan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), TNI Angkatan Laut, serta Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas). Black Box kemudian diserahkan kepada KNKT pada 19.10 WIB.

Namun Kepala Tim investigasi penerbangan KNKT, Oni Soerjo Wibowo, mengaku belum tahu jenis Black Box yang sudah ditemukan ini. Sebab, dalam satu black box ada dua komponen yaitu Cockpit Voice Recorder (CVR) dan Flight Data Recorder (FDR).

Oni mengatakan akibat dari adanya benturan keras, kedua Black Box ini menjadi terbelah. Tapi apapun itu, kata Ony, satu bagian lainnya masih akan terus dicari, agar data yang mereka miliki lebih komprehensif.

Kementerian Komunikasi dan Informatika telah merilis bahwa rekaman tersebut, sama sekali tidak ada kaitannya dengan insiden jatuhnya pesawat Lion Air JT 610 rute.

"Rekaman Black box yang benar adalah rekaman dari black box pesawat Adam air Flight 574 rute penerbangan Surabaya-Manado bukan rekaman Black box Lion Air JT-610," ujar Plt Kepala Biro Humas Kemkominfo Ferdinandus Setu, dalam keterangan tertulis yang diterima Tempo Kamis, 1 November 2018.

Majalah Tempo memperoleh transkrip utuh rekaman di dalam kokpit dengan ATC. Isi rekaman tersebut akan melengkapi data dari perekam data suara (VDR) dan perekam data penerbangan (FDR) di kotak hitam pesawat dengan nomor registrasi PK-LQP itu.

Rekaman ATC mencatat pesawat hanya sempat mengudara selama 12 menit sebelum hilang kontak. Dalam penerbangan yang singkat itu, kopilot Harvino melaporkan pesawat mengalami masalah pada sistem kendali. Penerbang tidak tahu kecepatan dan ketinggian pesawat. Pesawat juga terbang manual.

Di tengah situasi itulah pesawat meminta posisi holding atau berputar-putar sambil mengatasi masalah pada ketinggian 5.000 kaki. Saat pesawat berusaha menanjak dan bertahan di ketinggian 5.000 kaki, pemandu di Terminal East meminta pilot terus bermanuver sesuai dengan kepadatan trafik lalu lintas udara.

Saat pesawat terdeteksi anjlok dari ketinggian 5.300 ke 4.500 kaki, barulah pemandu mengarahkan pesawat mengontak pemandu lain untuk menjalani prosedur pendaratan. Saat itu, kopilot kembali mengatakan sistem kontrol penerbangan bermasalah sehingga harus terbang manual.

Pemandu menangkap sinyal bahaya dan langsung menyiagakan landasan pacu serta jalur menuju bandara. Saat itu, waktu menunjukkan pukul 06.30 WIB. Dari rekaman ATC, sinyal pesawat hilang pada Senin pukul 06.32 WIB atau Ahad 23.32 waktu universal (UTC). Artinya, pesawat hilang kontak dua menit setelah pemandu di sektor kedatangan, yang khusus mengurus pesawat-pesawat yang hendak mendarat, meminta JT 610 kembali ke bandara.

Lalu apakah rekaman itu berasal dari black box Adam Air? Departemen Perhubungan pernah membuat rilis untuk membantah hal ini pada 03 Desember 2008. Dalam rilisnya, Dephub menyatakan bahwa rekaman yang beredar luas di internet itu palsu karena berbeda dari rekaman yang asli.

Fakta pertama, rekaman pada black box hilang pada saat pesawat berada pada ketinggian 9.920 kaki atau di 3 kilometer lebih di atas permukaan laut. Sehingga mustahil terdengar suara dentuman sebagaimana pada rekaman yang beredar saat ini.

Kedua, kecepatan pesawat yang mencapai kecepatan maksimum Mach 0.926 (hampir setara kecepatan suara), yang menghasilkan tekanan grafitasi dalam kabin mencapai hingga 3,5 g. Dengan tekanan sebesar itu, tidak menutup kemungkinan, badan pesawat telah hancur karena gesekan udara yang besar, sebelum akhirnya masuk ke dalam air.

Kejanggalan lainnya adalah suara teriakan Allahu Akbar berulang-ulang kali dengan volume yang sangat keras. Padahal faktanya, pada rekaman asli hanya terdengar sebanyak empat kali dengan suara yang tidak jelas dan terdengar blur.

Terakhir, durasi rekaman asli yang disimpan KNKT sepanjang 32 menit 34 detik.

Kesimpulan

Dari penelusuran fakta itu, bisa disimpulkan bahwa rekaman suara pilot dan kopilot yang beredar di media sosial itu bukan berasal dari black box Lion Air yang jatuh di Tanjung Karawang. Termasuk juga bukan rekaman asli dari black box Adam Air yang jatuh di Perairan Majene, 1 Januari 2007.


IKA NINGTYAS

 

  •