[Fakta atau Hoaks] Benarkah Pasar yang Menjual Aneka Satwa Liar Ini Berada di Wuhan Cina?

Kamis, 30 Januari 2020 13:07 WIB
 
[Fakta atau Hoaks] Benarkah Pasar yang Menjual Aneka Satwa Liar Ini Berada di Wuhan Cina?

Video yang diklaim sebagai video suasana Pasar Wuhan di Cina beredar di YouTube. Kanal YouTube yang mengunggah video dengan klaim itu adalah kanal SiLuqmann, yakni pada 28 Januari 2020. Video berdurasi 4 menit 37 detik ini diberi judul "Explore Pasar Wuhan-Virus Corona Diduga Bermunculan".

Video tersebut memperlihatkan sebuah pasar tradisional yang menjual berbagai jenis hewan liar sebagai bahan makanan. Sejumlah pedagang tampak menjual tikus, anjing, kelelawar, ular, musang, dan hewan-hewan lainnya.

Dalam keterangannya, kanal SiLuqmann menulis bahwa pasar ini dikenal sebagai pasar basah karena didominasi aktivitas pemotongan berbagai jenis hewan, seperti ayam, keledai, domba, babi, rubah, musang, tikus, landak, kelinci, kelelawar, koala, ular, dan salamander.

"Pasar basah seperti ini umum di Cina. Tak jauh dari tempat pemotongan hewan, ada kedai makanan laut yang menyuguhkan ikan dan udang segar," demikian yang tertulis dalam keterangan video tersebut.

Kanal ini pun mengutip pernyataan Christian Walzer, Direktur Eksekutif Program Kesehatan Wildlife Conservation Society. "Ini pasar hewan yang diatur dengan buruk, ditambah perdagangan satwa liar ilegal, jadi peluang bagi virus untuk menyebar dari hewan liar ke manusia."

Gambar tangkapan layar unggahan kanal YouTube SiLuqmann yang memuat narasi keliru soal pasar satwa liar.

Benarkah pasar dalam video unggahan kanal SiLuqmann adalah Pasar Wuhan di Cina?

PEMERIKSAAN FAKTA

Tim CekFakta Tempo menemukan sebuah petunjuk dalam video tersebut, yakni tulisan "Kantor Pasar Langowan" pada sebuah papan yang terlihat di detik ke-15. Berbekal petunjuk ini, Tempo melakukan pencarian dengan Google Maps. Hasilnya, ditemukan bahwa Pasar Langowan berada di Indonesia, tepatnya di Toraget, Langowan Utara, Minahasa, Sulawesi Utara.

Selain petunjuk tersebut, dalam video unggahan kanal SiLuqmann, memang terdengar suara seorang pria yang berbicara dalam bahasa Indonesia. Ia menyebut jenis-jenis hewan yang dijual, seperti, "Ini ada tikus, anjing, kucing, ular piton..."

Menurut situs Mongabay pun, Pasar Langowan adalah salah satu pasar tradisional di Sulawesi Utara, selain Pasar Tomohon, yang menjual aneka satwa liar untuk dijadikan sebuah santapan.

Berbekal tiga petunjuk itu, Tempo kemudian memasukkan kata kunci "Pasar Langowan Minahasa" ke kolom pencarian di YouTube. Hasilnya, ditemukan sebuah video yang identik dengan video unggahan kanal SiLuqmann yang diunggah oleh kanal Jerry Mewengkang.

Kanal ini mengunggah video itu sekitar enam bulan yang lalu, tepatnya pada 19 Juli 2019. Durasi videonya lebih panjang, yakni 4 menit 41 detik, serta memiliki kualitas yang lebih baik dibandingkan video yang diunggah kanal SiLuqmann.

Gambar tangkapan layar unggahan kanal YouTube Jerry Mewengkang mengenai Pasar Langowan di Minahasa, Sulawesi Utara.

Video di kanal Jerry Mewengkang itu dibuka dengan sebuah teks yang berbunyi "Pasar Extrem Langowan". Dalam video unggahan kanal SiLuqmann yang diklaim diambil di Pasar Wuhan, bagian video dengan tulisan ini telah dipotong.

Berdasarkan pemeriksaan Tempo, tidak hanya isi videonya yang identik. Musik yang mengiringi serta dan narasi yang diucapkan oleh pria dalam video itu, yang menyebut satu demi satu nama hewan yang dijual di pasar itu, juga sama dengan video unggahan kanal SiLuqmann yang diklaim diambil di Pasar Wuhan.

Selain itu, papan dengan tulisan "Pasar Lawongan" yang menempel di dinding sebuah bangunan di pasar itu, seperti yang terlihat pada detik ke-20, tampak lebih jelas. Tulisan lengkap dalam papan itu adalah "Pemerintah Kabupaten Minahasa Dinas Perdagangan Kantor Pasar Langowan".

KESIMPULAN

Berdasarkan pemeriksaan fakta di atas, pasar satwa liar dalam video unggahan kanal YouTube SiLuqmann bukan Pasar Wuhan di Cina, melainkan Pasar Langowan di Indonesia. Dengan demikian, narasi yang terdapat dalam unggahan tersebut keliru.

IKA NINGTYAS

Anda punya data/informasi berbeda, kritik atau masukan untuk artikel cek fakta ini? Kirimkan ke cekfakta@tempo.co.id



  •  

    Selengkapnya