[Fakta atau Hoaks] Benarkah Semangka yang Berongga Berbahaya untuk Dikonsumsi?

Selasa, 17 Desember 2019 12:54 WIB
 
[Fakta atau Hoaks] Benarkah Semangka yang Berongga Berbahaya untuk Dikonsumsi?

Informasi bahwa semangka yang berongga berbahaya untuk dikonsumsi beredar di media sosial. Salah satu akun yang membagikan informasi itu adalah akun Facebook Farid Hilman, yakni pada Sabtu, 14 Desember 2019. Akun ini membagikan rangkaian foto semangka yang diberi keterangan semangka yang ditumbuhkan dengan pupuk yang mengandung forchlorfenuron akan membuat semangka memiliki rongga dan berbahaya jika dikonsumsi.

Berikut isi lengkap keterangan rangkaian foto yang dibagikan akun Farid Hilman:

Jika kamu menemukan seperti ini, segera buang semangka Anda. BAHAYA! Buah semangka menjadi salah satu buah paling segar dan paling banyak diminati orang karena memiliki sejuta manfaat sehat untuk tubuh kita.

Akan tetapi, seiring perkembangan zaman buah semangka yang benar-benar sehat untuk dimakan sepertinya sudah jarang ditemukan. Hal ini dikarenakan banyak para petani yang menggunakan pupuk berbahaya untuk nyuburin tanaman semangka.

Salah satunya pupuk yang mengandung forchlorfenuron. Pupuk ini berfungsi untuk memperbesar ukuran semangka hingga 20 persen dengan masa panen yang relatif lebih cepat.

Ciri yang paling menonjol jika buah semangka tersebut mengandung forchlorfenuron yakni memiliki rongga kosong di bagian inti buah. Hal ini dikarenakan proses pembesaran buah yang lebih agresif dalam waktu yang relatif lebih cepat.

Berdasarkan penelitian dari Environmental Protection Agency (EPA) atau Badan Perlindungan Lingkungan Amerika Serikat mengungkapkan bahwa forchlorfenuron bersifat sitotoksik dan memicu gangguan kesehatan, di antaranya:

- Menyebabkan masalah pada kulit
- Jika tertelan menimbulkan toksisitas pernafasan
- Meningkatan lesi mortalitas
- Menyebabkan masalah pada perut janin. Wanita hamil dilarang untuk mengonsumsi buah atau sayur hasil pemupukan dengan forchlorfenuron ini, sebab bisa meningkatkan risiko kelainan pada fungsi pencernaan janin.

Gambar tangkapan layar unggahan akun Farid Hilman di Facebook yang memuat informasi keliru mengenai semangka yang berongga.

Benarkah semangka yang berongga berbahaya untuk dikonsumsi?

PEMERIKSAAN FAKTA

Berdasarkan penelusuran Tim CekFakta Tempo, seperti dikutip dari situs Mashed.com, rumor ini muncul sejak peristiwa meledaknya semangka di Cina pada 2011. Penyebabnya, karena para petani yang tidak sabaran menggunakan forchlorfenuron berlebihan untuk memperbesar semangka mereka. Forchlorfenuron merupakan zat regulator pertumbuhan tanaman yang legal digunakan di Cina.

Rumor bahwa semangka yang berongga berbahaya untuk dikonsumsi pun menyebar di Indonesia. Tempo menemukan sedikitnya 58 artikel yang memuat informasi serupa sejak 2014. Namun, beberapa situs yang memuat artikel mengenai bahaya semangka yang berongga tersebut tidak dapat lagi diakses.

Salah satu blog yang pernah memuat artikel tentang bahaya semangka yang berongga adalah blog Nuansa Islam, yakni pada 10 Januari 2017. Isi artikel dalam blog tersebut identik dengan informasi yang terdapat pada keterangan rangkaian foto yang diunggah akun Farid Hilman.

Dikutip dari Watermelon.org, situs resmi The National Watermelon Promotion Board (NWPD), organisasi non-profit asal Orlando, Amerika Serikat, yang fokus pada peningkatan permintaan konsumen semangka, rongga yang terbentuk di tengah semangka dikenal dengan sebutan hollow heart.

Pada umumnya, menurut NWPD, hollow heart pada semangka bisa terjadi karena pola cuaca yang mengganggu pada musim semi dan awal musim panas. Namun, NPWD menyatakan bahwa hal tersebut tidak berdampak negatif terhadap rasa, kualitas, atau pun keamanan produk semangka.

Menurut instruksi inspeksi Departemen Pertanian AS, hollow heart pada semangka terbentuk karena pertumbuhan yang sangat cepat yang biasanya terjadi saat musim hujan. Biasanya, hal ini terjadi pada semangka yang berukuran besar. Namun, hollow heart juga bisa terjadi pada semangka yang berukuran kecil.

Dikutip dari situs Mashed.com, Gordon Johnson, asisten profesor di Departemen Ilmu Tumbuhan dan Tanah dari University of Delaware, dalam penelitiannya pada 2014 menemukan bahwa hollow heart pada semangka berhubungan dengan proses penyerbukan di awal pertumbuhan.

Menurut Johnson, penyerbukan yang tidak maksimal dapat mengurangi pelepasan hormon tumbuhan yang mengontrol perkembangan jaringan pada semangka yang berujung pada hollow heart. Cuaca buruk yang terjadi di awal musim tanam, kata dia, dapat meningkatkan risiko tersebut.

Situs Mashed.com pun menyatakan, karena hollow heart pada semangka bukan penyakit, melainkan kegagalan dalam proses penyerbukan di awal pertumbuhan, semangka yang berongga aman untuk dikonsumsi.

Terkait Forchlorfenuron

Dalam keterangan rangkaian foto yang diunggah akun Farid Hilman, terdapat klaim bahwa Environmental Protection Agency (EPA) atau Badan Perlindungan Lingkungan AS menyatakan forchlorfenuron bersifat sitotoksik dan memicu gangguan kesehatan.

Namun, dikutip dari laman Liputan6.com, berdasarkan lembar fakta EPA, penggunaan forchlorfenuron tidak berbahaya, baik bagi lingkungan, hewan, maupun manusia.

Meskipun begitu, ditemukan beberapa efek samping pada hewan yang ditemukan dalam studi EPA, antara lain meningkatkan kerontokan bulu serta mortalitas hewan kanak-kanak dan mengurangi berat saat lahir serta ukuran kotoran.

Dikutip dari situs cek fakta Snopes, forchlorfenuron pernah digunakan di AS, yakni untuk anggur dan kiwi. Forchlorfenuron terbukti meningkatkan bobot rata-rata kiwi hingga 46 persen.

Efek Samping Mengkonsumsi Semangka Berlebihan

Dilansir dari situs NDTV.com, meskipun semangka memiliki banyak manfaat, mengkonsumsinya dalam jumlah besar dapat menyebabkan dampak yang negatif bagi tubuh. Buah ini memiliki sekitar 92 persen air, merupakan sumber vitamin A, B6, dan C, serta mengandung kalium dan bahan kimia nabati yang bermanfaat, seperti likopen dan citrulline.

Berikut ini beberapa efek samping dari mengkonsumsi semangka berlebihan:

  • Dapat menyebabkan diare dan masalah pencernaan lainnya
  • Dapat meningkatkan kadar gula darah
  • Dapat meningkatkan risiko peradangan hati
  • Dapat menyebabkan hidrasi berlebihan atau keracunan air
  • Dapat menyebabkan masalah kardiovaskular

Berapa banyak semangka yang bisa dikonsumsi dalam satu hari? Menurut ahli nutrisi dan fisiologi, Ritesh Bawri, sebanyak 100 gram semangka mengandung sekitar 30 kalori. Karena sebagian besar isi semangka adalah air, seseorang bisa dengan mudah mengkonsumsinya hingga 500 gram atau sekitar 150 kalori.

Padahal, dalam setiap 100 gram semangka, terkandung sekitar enam gram gula. Jika seseorang bisa mengkonsumsi semangka hingga 500 gram, gula yang masuk ke tubuhnya bisa mencapai 30 gram. "Idealnya, konsumsi gula dari seluruh makanan yang masuk ke tubuh kita dalam satu hari adalah 100-150 gram," kata Bawri.

KESIMPULAN

Berdasarkan pemeriksaan fakta di atas, narasi bahwa semangka yang berongga berbahaya untuk dikonsumsi merupakan narasi yang keliru. Rongga yang ada pada semangka, yang disebut hollow heart, berhubungan dengan proses penyerbukan di awal pertumbuhan. Penyerbukan yang tidak maksimal dapat mengurangi pelepasan hormon tumbuhan yang mengontrol perkembangan jaringan pada semangka yang berujung pada hollow heart. Sementara itu, berdasarkan penelitian, penggunaan forchlorfenuron tidak berbahaya, baik bagi lingkungan, hewan, maupun manusia.

ZAINAL ISHAQ

Anda punya data/informasi berbeda, kritik atau masukan untuk artikel cek fakta ini? Kirimkan ke cekfakta@tempo.co.id



  •  

    Selengkapnya