[Fakta atau Hoaks] Benarkah Ma'ruf Amin Minta Anak-anak Dijauhkan dari Alquran untuk Cegah Radikalisme?

Kamis, 21 November 2019 16:34 WIB
 
[Fakta atau Hoaks] Benarkah Ma'ruf Amin Minta Anak-anak Dijauhkan dari Alquran untuk Cegah Radikalisme?

Narasi yang menyebut bahwa Wakil Presiden Ma'ruf Amin ingin mencegah radikalisme sejak tingkat PAUD dengan menjauhkan anak-anak dari Alquran beredar di media sosial. Salah satu akun yang membagikan narasi itu adalah akun Hasanudin di halaman Facebook Suara Rakyat Indonesia pada Rabu, 20 November 2019.

Narasi tersebut berasal dari artikel yang dimuat di blog MerdekaInd. Artikel yang dipublikasikan pada 19 November 2019 itu berjudul: Ma'ruf Ingin Cegah Radikalisme Sejak Tingkat PAUD, "Jauhkan Anak-Anak Dari Al-Quran".

Dalam unggahannya, akun Hasanudin juga menambahkan narasi: "Sejak lepas.sarung ganti celana(bkn cingkrang) tmbah ngawur pernyataan ya...#efeknyeburkekolam." Sampai artikel ini dimuat, unggahan akun tersebut telah disukai 397 kali, dikomentari 318 kali, dan dibagikan 183 kali.

Gambar tangkapan layar unggahan akun Hasanudin di halaman Facebook Suara Rakyat Indonesia.

Benarkan Wapres Ma'ruf Amin meminta anak-anak dijauhkan dari Alquran untuk mencegah radikalisme?

PEMERIKSAAN FAKTA

Untuk memeriksa klaim tersebut, Tim CekFakta Tempo menelusuri pemberitaan terkait. Hasilnya, tidak ditemukan berita di media arus utama yang berisi klaim bahwa Wapres Ma'ruf Amin meminta anak-anak dijauhkan dari Alquran untuk mencegah radikalisme.

Tempo pun memasukkan paragraf pertama artikel blog MerdekaInd di atas dalam mesin pencarian Google. Hasilnya, ditemukan bahwa artikel blog MerdekaInd tersebut berasal dari berita di situs media CNN Indonesia yang dimuat pada 15 November 2019.

Namun, oleh blog MerdekaInd, judul berita CNN Indonesia itu ditambah dengan kalimat "Jauhkan Anak-Anak Dari Al-Quran". Judul asli berita CNN Indonesia hanyalah "Ma'ruf Ingin Cegah Radikalisme Sejak Tingkat PAUD". Dalam berita itu pun, tidak terdapat pernyataan Ma'ruf yang meminta anak-anak dijauhkan dari Alquran untuk mencegah radikalisme.

Gambar tangkapan layar berita CNN Indonesia yang isinya disalin oleh blog MerdekaInd.

Rupanya, dalam artikelnya, blog MerdekaInd menambahkan kalimat baru di bawah foto yang menampilkan Ma'ruf. Kalimat itu berbunyi: "Karena sering terjadi salah mengartikan alquran, sehingga mereka dengan sangat mudah didoktrin menjadi radikal akhirnya menjadi teroris."

Seolah-olah, kalimat itu merupakan kutipan pernyataan Ma'ruf. Namun, saat kalimat tersebut ditelusuri dengan mesin pencarian Google, tidak ditemukan berita di media arus utama yang memuat kalimat itu yang diucapkan oleh Ma'ruf.

Terkait Ma'ruf Amin Tinggalkan Sarung

Dikutip dari situs Suara.com, saat serah terima jabatan di Istana Wakil Presiden pada 21 Oktober 2019, Wapres Ma'ruf Amin memang tidak mengenakan sarung, melainkan jas dan celana panjang. Namun, dalam rapat pertama Kabinet Indonesia Maju di Istana Merdeka pada 24 Oktober 2019, seperti dikutip dari laman Kompas.com, Ma'ruf kembali mengenakan sarung.

Berdasarkan arsip pemberitaan Tempo, gaya Ma'ruf Amin yang khas dengan sarung dan baju koko mempengaruhi orang-orang di lingkungan kantor wakil presiden. Hal itu, salah satunya, terlihat saat Ma'ruf hendak salat Jumat bersama para stafnya di Masjid Baiturrahman, Kompleks Istana Wakil Presiden, pada 25 Oktober 2019.

Saat itu, Ketua Majelis Ulama Indonesia nonaktif tersebut mengenakan sarung berwarna putih. Para staf Ma'ruf pun, seperti Kepala Sekretariat Wapres Mohammad Oemar, Asisten Deputi Komunikasi dan Informasi Publik Sekretariat Wapres Rusmin Nuryadin, dan Deputi Bidang Dukungan Kebijakan Pembangunan Manusia dan Pemerataan Pembangunan Bambang Widianto, kompak mengenakan sarung.

Sebelum dilantik sebagai wakil presiden, Ma'ruf Amin pernah menyatakan kesiapannya jika harus melepas sarungnya dan memakai celana saat bertugas. Ma'ruf bercerita bahwa ia sebenarnya sudah merasa nyaman dengan gaya berpakaian khasnya, yakni baju koko, jas, kopiah, dan sarung. Namun, jika gayanya itu dilarang oleh peraturan pakaian resmi, ia siap melepasnya. "Sampai hari ini, saya masih pakai sarung sebelum dilarang," katanya.

KESIMPULAN

Berdasarkan pemeriksaan fakta di atas, narasi yang menyebut bahwa Wakil Presiden Ma'ruf Amin ingin mencegah radikalisme sejak tingkat PAUD dengan menjauhkan anak-anak dari Alquran merupakan narasi yang keliru. Narasi itu terdapat dalam artikel di blog MerdekaInd yang menyalin isi berita CNN Indonesia, namun judulnya telah diubah.

IBRAHIM ARSYAD