[Fakta atau Hoaks] Benarkah Banser Ingin Bebaskan Papua Tapi Tidak Mendapat Anggaran Pemerintah?

Kamis, 22 Agustus 2019 16:07 WIB
 
[Fakta atau Hoaks] Benarkah Banser Ingin Bebaskan Papua Tapi Tidak Mendapat Anggaran Pemerintah?

Akun Ilham Hidayatullah membagikan tulisan opini berjudul “Serangan Umum Banser 20 Agustus 2019: Sebuah Epic Sejarah Paling Heroik Membebaskan Papua” di beranda Facebook-nya pada Rabu, 21 Agustus 2019.

Opini yang diklaim karya blogger Nasrudin Joha itu berisikan narasi tentang terjunnya Barisan Ansor Serba Guna atau Banser ke Papua untuk menyelamatkan kedaulatan negara.

Tulisan tersebut juga mengutip sebagian pernyataan salah seorang dari Banser yang sedang berpidato:

"Saudara sekalian, sebangsa dan setanah air. Kita, tidak mungkin hanya berkhidmat dalam kata. Kita telah berikrar, Pancasila selamanya, NKRI harga mati. Karena itu, kasus pemberontakan OPM ini selain panggilan negara, juga panggilan jiwa. Jiwa-jiwa BANSER kita dipanggil, untuk mempersembahkan karya dan pembelaan terbaik untuk bangsa”.

Gambar tangkapan layar unggahan akun Facebook Ilham Hidayatullah pada Rabu, 21 Agustus 2019.

Dalam bagian akhir tulisan disebutkan bahwa rencana serangan itu batal karena pemerintah tidak memberikan anggaran kepada Banser. Bernada satir, tulisan panjang tersebut ditutup dengan kalimat:

“Namun, karena ketaatan pada Imam besar mereka, BANSERP akhirnya pulang kerumah masing-masing. Semua perbekalan, amunisi, senjata, tank baja, pesawat tempur, yang kesemuanya milik BANSERP kembali digudangkan. Baru akan dikeluarkan lagi tahun depan saat karnaval, pada 17 Agustus 2020.”

Narasi ini dilengkapi dengan 11 gambar. Tempo memilih tiga gambar yang memungkinkan untuk diverifikasi, yakni:

- Gambar yang mirip gambar tangkapan layar media online berjudul, “Gus Yaqut: Kami NKRI dan Kami Tidak Takut ke Papua. Tapi maaf, anggaran tidak ada dari pemerintah”. Gus Yaqut atau yang bernama lengkap Yaqut Cholil Qoumas adalah Ketua Umum Gerakan Pemuda Ansor (GP Ansor).
- Meme pasukan Banser dengan teks “Kami mendukung Banser untuk segera berangkat ke Papua!”. Meme ini juga mengutip teks “Bendera merah putih dibakar, Kantor DPRD Papua Barat diserbu” yang disebut bersumber dari media online Kumparan edisi 19 Agustus 2019.
- Foto Bendera Merah Putih yang dibakar di sebuah drum.

Artikel ini juga akan memeriksa tiga hal, yaitu:
- Benarkah blogger Nasrudin Joha menulis opini tentang rencana serangan umum Banser ke Papua?
- Benarkah Ketua Umum GP Ansor Yaqut Cholil Qoumas berkata, “Kami NKRI dan Kami Tidak Takut ke Papua. Tapi maaf, anggaran tidak ada dari pemerintah”?
- Benarkah ada pembakaran bendera Merah Putih di Papua dan bagaimana konteks peristiwanya?

PEMERIKSAAN FAKTA

Benarkah opini tersebut ditulis Nasrudin Joha?

Tempo memeriksa halaman blogger dengan nama pena Nasrudin Joha di Facebook dan blog pribadinya, yakni nasrudinjoha.blogspot.com dan nasrudinjoha.home.blog.

Dengan memasukkan kata kunci “banser” dan “Papua”, Tempo tidak menemukan artikel opini “Serangan Umum Banser 20 Agustus 2019: Sebuah Epic Sejarah Paling Heroik Membebaskan Papua” di halaman Facebook ataupun blog Nasrudin.

Hanya ada satu tulisan Nasrudin tentang Papua, yakni berjudul “Setelah gagal menjaga tiga nyawa tentara, rezim pembohong Jokowi membual bebaskan Siti Aisyah”, pada 14 Maret 2019. Tulisan ini pun tidak menyinggung soal Banser. Isinya berbeda dengan yang dibagikan oleh Ilham Hidayatullah.

Yaqut juga telah membantah isi artikel tersebut. “Jelas hoaks,” kata dia kepada Cek Fakta Tempo. Artinya, isi artikel itu bohong.

Gambar tangkapan layar salah satu foto dalam unggahan akun Facebook Ilham Hidayatullah.

Benarkah pernyataan Ketua Umum GP Ansor Yaqut Cholil Qoumas?

Tempo menggunakan Google Reverse Image untuk menelusuri gambar tangkapan layar media online yang berisi foto Yaqut. Hasilnya, foto itu sebelumnya dipublikasikan di situs Radar Malang pada 23 Mei 2019.

Berita asli untuk foto tersebut berjudul “Gus Yaqut: Lepas Ego Politik Jangka Pendek, Saatnya Rekonsiliasi”. Adapun beritanya berisi tentang permintaan Yaqut kepada masyarakat untuk tidak terprovokasi dengan demonstrasi pasca Pemilihan Presiden di Jakarta pada 21-2 Mei 2019, sama sekali tidak menyangkut rencana Banser ke Papua.

Dengan demikian, gambar yang beredar dengan judul “Kami NKRI dan Kami Tidak Takut ke Papua. Tapi maaf, anggaran tidak ada dari pemerintah” adalah hasil suntingan.

Dihubungi Cek Fakta Tempo, Yaqut pun membantah pernah menyatakan bahwa Banser bersedia ke Papua untuk membela NKRI. “Jelas itu hoaks. Banser tahu mana batasan yang boleh dan bisa dilakukan, mana yang tidak,” katanya melalui aplikasi pesan WhatsApp pada Kamis, 22 Agustus 2019.

Sebaliknya, Yaqut malah menginstruksikan seluruh kader Banser untuk mengamankan dan menjaga asrama mahasiswa Papua di seluruh Indonesia. Hal itu menyusul adanya peristiwa pengepungan asrama mahasiswa Papua di Surabaya beberapa waktu lalu sehingga bedampak pada kerusuhan yang meluas di Papua.

"Kita tahu itu dari steatment-nya Gubernur Papua, mereka membutuhkan Banser untuk menjaga. Hari ini, saya sudah perintahkan seluruh kader Banser untuk menjaga asrama-asrama mahasiswa Papua, untuk silaturahmi ke mereka, dan kalau perlu menjaga asrama mereka kalau mereka membutuhkan," kata Yaqut di sela-sela acara Muktamar Partai Kebangkitan Bangsa di Nusa Dua, Bali, pada Rabu, 20 Agustus 2019.

Benarkah bendera Merah Putih dibakar di Papua?

Tempo menelusuri berita itu di situs berita Kumparan sebagaimana yang diklaim dalam meme yang beredar. Hasilnya, Kumparan memang menurunkan berita itu pada 19 Agustus 2019 dengan judul yang sama dengan meme “Bendera Merah Putih Dibakar, Kantor DPRD Papua Barat Diserbu”.

Pembakaran bendera Merah Putih itu terjadi di Manokwari, Papua Barat, pada Senin, 19 Agustus 2019. Ribuan orang melakukan aksi secara spontan dengan membakar ban dan memblokade jalan utama, Jalan Yos Sudarso, Jalan Trikora Wosi, dan Jalan Maniunggal Amban.

Namun, konteks pembakaran bendera Merah Putih itu adalah sebagai bentuk protes atas tindakan rasisme yang diduga dilakukan kepada mahasiswa Papua di Surabaya dan Malang.

Menurut Simon, warga Jalan Sanggeng Manokwari, aksi tersebut merupakan bentuk kekecewaan massa terhadap insiden pengepungan asrama mahasiswa Papua di Surabaya.

Simon menambahkan aksi damai itu digelar agar pemerintah secepatnya menyelesaikan permasalahan mahasiswa Papua di Surabaya dan Malang agar mereka dapat berkuliah dengan baik.

Adapun meme yang berisi seruan “Kami mendukung Banser untuk segera berangkat ke Papua” bermula dari situs Suara Nasional yang menurunkan berita berjudul “Warganet Setuju Banser Dikirim ke Papua Gebuk OPM” pada 4 September 2018. Isi berita itu didapat dari opini warganet di fanspage Suara Nasional atas berita berjudul “Menunggu Keberanian Banser Gebuk OPM di Papua”.

Meme ini tidak relevan dihubungkan dengan kondisi di Papua saat ini. Kontennya pun sangat provokatif.

KESIMPULAN

Dari pemeriksaan di atas, Tempo menyimpulkan bahwa narasi yang diunggah tersebut keliru karena:
- Isi artikel tidak bisa dipertanggungjawabkan kebenarannya dan telah dibantah oleh Ketua Umum GP Ansor Yaqut Cholil Qoumas.
- Judul berita pada gambar tangkapan layar terkait pernyataan Yaqut adalah hasil suntingan.
- Meme terkait Banser bersumber dari berita pada 2018 yang tidak relevan dan provokatif.

IKA NINGTYAS

Anda punya data/informasi berbeda, kritik atau masukan untuk artikel cekfakta ini? Kirimkan ke cekfakta@tempo.co.id