Senin, 22 Oktober 2018

[Fakta atau Hoax] Setelah Diakuisisi Facebook, Penggunaan WhatsApp Kini Berbayar

Rabu, 18 April 2018 15:26 WIB
 
[Fakta atau Hoax] Setelah Diakuisisi Facebook, Penggunaan WhatsApp Kini Berbayar

Sepanjang pekan lalu, sebuah pesan WhatsApp beredar viral di banyak grup percakapan.  Pesan itu menyatakan bahwa penggunaan aplikasi percakapan WhatsApp tidak lagi cuma-cuma.

Kebijakan pengenaan biaya ini, konon kabarnya, dilakukan setelah WhatsApp diakuisisi oleh raksasa digital Facebook. Agar lebih meyakinkan, pesan tersebut menyertakan berita Tempo.co yang ditulis pada 2014 silam mengenai akuisisi tersebut. 

Baca Juga: Ini Berita Tempo yang ada dalam tautan hoaks soal Whatsapp 

Dalam beberapa pesan berantai, tautan berita Tempo itu tidak bisa diklik, sehingga pembaca tidak bisa memverifikasi konten berita yang dimaksud.

Dari penelusuran redaksi, pesan palsu ini sebenarnya sudah beredar lama, dan terus muncul hingga saat ini.

Untuk memastikan benar tidaknya kabar ini, redaksi menghubungi perwakilan resmi Facebook Indonesia. Mereka memastikan bahwa kabar itu hoaks.

"Pesannya tidak benar. Tidak ada perubahan di aplikasi WhatsApp," ujar Lead Communication Facebook Indonesia Putri Dewanti saat dihubungi melalui pesan singkat, 3 April 2018. "Saya lihat pesannya saja kan menggunakan link berita Tempo dari tahun 2014. Sampai sekarang, WhatsApp masih free penggunaannya," kata Putri.

Dia menegaskan kalau pun ada perkembangan baru mengenai WhatsApp, Facebook atau Instagram, pihaknya pasti akan memberikan informasi.

Laman situs WhatsApp sendiri juga menyediakan informasi serupa. Di sana, ada informasi kalau  WhatsApp menggunakan koneksi Internet ponsel pengguna (4G/ 3G/ 2G/ EDGE atau Wi-Fi) untuk mengirim dan menerima pesan ke teman dan keluarga. Pengguna tidak perlu membayar untuk setiap pesan, selama belum melampaui batas data atau terhubung ke jaringan Wi-Fi gratis.

REFERENSI: Facebook Bantah Kabar Kalau WhatsApp Kini Berbayar

Anda punya data/informasi berbeda,  kritik atau masukan untuk artikel cekfakta ini?  Kirimkan ke cekfakta@tempo.co.id 

 

  •