[Fakta atau Hoaks] Benarkah Tempo Memuat Pernyataan Jokowi Bahwa Korban Meninggal Adalah Takdir?

Selasa, 7 Mei 2019 11:02 WIB
 
[Fakta atau Hoaks] Benarkah Tempo Memuat Pernyataan Jokowi Bahwa Korban Meninggal Adalah Takdir?

Unggahan tangkapan layar situs media tempo.co dengan berita berjudul “Jokowi: Korban Meninggal itu Sudah Takdir Jangan di Perpanjang Lagi” beredar di Facebook. Gambar itu diunggah akun Ade Ade pada 5 Mei 2019.

Unggahan tangkapan layar berita di situs tempo.co yang telah diedit judulnya.

Dalam tangkapan layar itu, tertulis bahwa berita tersebut dipublikasikan 4 Mei 2019, dengan dilengkapi foto Jokowi duduk di meja kerja yang sedang berbincang dengan Wapres RI Jusuf Kalla.

Akun Ade Ade memberikan narasi: "Enteng bener lue ngomongnya jok. Kya gak ada harganya nyawa rakyat. Korban ini ratusan, bukan satu dua yg meninggal.”

Dalam unggahan itu, tidak jelas konteks korban meninggal yang dimaksud si penulis, apakah terkait meninggalnya sejumlah petugas penyelenggara Pemilu 2019 atau korban lainnya.

Hingga 4 Mei 2019, memang jumlah petugas KPPS yang meninggal mencapai 440 orang yang tersebar di 30 provinsi. Untuk jumlah korban yang paling banyak di Jawa Barat sebanyak 111 orang.

Namun benarkah bahwa Jokowi mengeluarkan pernyataan itu dan Tempo menerbitkannya?

 

PEMERIKSAAN FAKTA

Hasil pemeriksaan fakta, Tempo tidak pernah menerbitkan berita tersebut. Judul berita tangkapan layar yang diunggah akun Ade Ade adalah hasil suntingan dari berita tempo.co berjudul “Jokowi Diminta Tak Hanya Pindahkan Ibu Kota, Tapi…” yang dipublikasikan 4 Mei 2019. 

Tangkapan layar berita di tempo.co yang asli, bersama keterangan foto yang diambil dari ANTARA.

Suntingan itu terlihat dari font teks judul yang berbeda dengan font teks yang selama ini dipakai oleh Tempo.co.

Dalam berita asli, foto yang dimuat Tempo berasal dari ANTARA dengan keterangan: Presiden Joko Widodo (kiri) berbincang dengan Wakil Presiden Jusuf Kalla (kanan) sebelum memimpin rapat terbatas di Kantor Presiden, Jakarta, Senin, 29 April 2019. Rapat itu membahas tindak lanjut rencana pemindahan ibu kota.

Berita itu sendiri berisi tentang pernyataan Direktur Eksekutif Komite Pemantauan Pelaksanaan Otonomi Daerah (KPPOD) Robert Na Ending Jaweng yang meminta pemerintahan Joko Widodo tidak hanya mewacanakan pemindahan ibu kota negara ke luar Pulau Jawa. Lebih dari itu, Robert meminta Jokowi ikut mengubah strategi pembangunan yang saat ini berjalan.

Tanpa itu, kata Robert, setiap daerah akan saling berebut untuk mengajukan diri menjadi calon ibu kota. “Karena orang berpikir, untuk mendapatkan fasilitas yang bagus, ya dengan merebut kesempatan sebagai ibu kota,” kata dia dalam diskusi di Cikini, Jakarta Pusat, Sabtu, 4 Mei 2019.

Selama ini, kata Robert, fasilitas pelayanan publik seperti rumah sakit, hingga sekolah selalu terpusat di kota besar seperti ibu kota provinsi maupun kabupaten. Padahal seharusnya, penyediaan pelayanan publik harus mengikuti permintaan dan kebutuhan yang paling tinggi di suatu lokasi.  “Jadi ini harus diubah, layanan publik enggak harus hierarki,” ujarnya.

Wacana pemindahan ibu kota kembali menghangat setelah Jokowi menggelar Rapat Terbatas Kabinet guna membicarakan isu tersebut pada Senin, 29 April 2019. Berdasarkan rapat itu, Jokowi memberi arahan untuk mengambil alternatif pemindahan ibu kota ke luar Jawa.

Kami bandingkan hasil tangkapan layar berita yang palsu dan asli sebagai berikut:

 Saat hasil tangkapan layar kedua gambar ini disandingkan, terlihat bahwa tangkapan layar yang sudah dimodifikasi (kiri) memiliki jenis font berbeda dari yang asli (kanan), dan mengandung kesalahan penulisan.

JOKOWI MENGUCAPKAN BELA SUNGKAWA

Berasumsi bahwa narasi dalam unggahan ini benar merujuk kepada kasus meninggalnya petugas KPPS di Pemilu 2019, Tempo tidak menemukan Joko Widodo pernah mengatakan ucapan seperti yang tertulis dalam tangkapan layar palsu.

Dilaporkan oleh liputan6.com, Presiden Jokowi yang juga paslon nomor urut 01, telah menyampaikan duka cita atas banyaknya petugas Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara (KPPS) yang meninggal dunia dalam Pemilu 2019. Jokowi menyebut para petugas KPPS tersebut sebagai pejuang demokrasi.

"Saya kemarin sudah menyampaikan ucapan berduka cita yang mendalam atas meninggalnya petugas-petugas KPPS, juga beberapa yang di luar KPPS. Saya kira beliau ini adalah pejuang demokrasi yang meninggal dalam tugasnya," ucap Jokowi di Rumah Makan Seribu Rasa Menteng Jakarta Pusat, Senin (22/4/2019).

"Sekali lagi atas nama negara dan masyarakat saya mengucapkan duka yang sangat mendalam," sambungnya.

 

KESIMPULAN

Dari pemeriksaan fakta, tidak benar Tempo mempublikasikan pernyataan Jokowi  tentang takdir korban meninggal. Jokowi pun tidak pernah membuat pernyataan demikian.

 

IKA NINGTYAS