Menyesatkan, Klaim Para Ilmuwan Amerika Buka Suara Soal Efek Buruk Vaksin Covid-19

Rabu, 25 Januari 2023 16:47 WIB

Menyesatkan, Klaim Para Ilmuwan Amerika Buka Suara Soal Efek Buruk Vaksin Covid-19

Sebuah akun di Instagram mengunggah sebuah video yang diklaim menampilkan ilmuwan Amerika yang berbicara mengenai efek samping vaksin Covid-19.

Pertemuan yang diklaim bagian dari Global Covid-19 Summit itu digelar 11 Mei 2022, diikuti oleh 17.000 dokter dan ilmuwan medis. Salah satu ilmuwan yang hadir di antaranya adalah Dr. Robert Malone, yang disebut sebagai penemu teknologi mRNA di balik vaksin Pfizer dan Moderna.

Dikutip dari laman Global Covid-19 Summit, pertemuan itu sendiri mendeklarasikan 10 hal yang beberapa di antaranya berisi desakan untuk menghentikan vaksin Covid-19, mencabut status darurat nasional, masker tidak memberikan perlindungan yang efektif, dan vaksin Covid-19 menyembunyikan informasi keamanan.

“Keputusan bencana ini datang dengan mengorbankan orang yang tidak bersalah, yang terpaksa menderita kerusakan kesehatan dan kematian yang disebabkan oleh sengaja menahan perawatan kritis dan sensitif waktu, atau sebagai akibat dari suntikan terapi genetik paksa, yang tidak aman dan tidak efektif”.

Benarkah klaim-klaim dalam deklarasi Global Covid Summit?

PEMERIKSAAN FAKTA

Tim Cek Fakta Tempo menggunakan berbagai sumber artikel dari organisasi pemeriksa fakta maupun media kredibel lainnya untuk memverifikasi beberapa klaim dari deklarasi Global Covid-19 Summit. 

Klaim 1: Dr. Robert Malone, penemu teknologi mRNA di balik vaksin Pfizer dan Moderna

Dr. Robert Malone memang mendapatkan gelar medis dari Northwestern University pada tahun 1991 dengan spesialisasi imunologi berdasarkan lisensinya di Maryland Board of Physicians. Malone  juga pernah mengajar patologi di University of California, Davis, dan University of Maryland. 

Namun, klaim bahwa Malone adalah penemu teknologi mRNA di balik vaksin Pfizer dan Moderna adalah tidak akurat. Dilansir New York Times, Kepala Neurologi Anak di Connecticut Children's Medical Center, Dr. Gyula Acsadi mengatakan, keterlibatan Dr. Malone dan lima orang lainnya pada tahun 1990 hanya menulis makalah bahwa menyuntikkan RNA ke otot dapat menghasilkan protein. 

Selain itu, Dr. Alastair McAlpine, seorang dokter penyakit menular anak yang berbasis di Vancouver, British Columbia mengatakan, vaksin adalah hasil dari ratusan ilmuwan di seluruh dunia yang bersama-sama bergabung membuat vaksin tersebut. ”Itu bukan ciptaan satu individu atau temuan dari satu orang,” kata Alastair McAlpine. 

Robert Malone dalam beberapa kali pernyataannya tentang Covid-19 memuat klaim yang tidak akurat. Dilansir dari organisasi pemeriksa fakta di Amerika Serikat, Politifact, Malone  mempromosikan beberapa klaim palsu dan menyesatkan tentang vaksin dan pandemi COVID-19, salah satunya sebagai penemu vaksin mRNA. Kemampuannya untuk berbicara dan fasih menggunakan istilah ilmiah memberinya daya tarik yang besar bagi audiens anti-vaksin.

Akun Malone pernah dilarang oleh Twitter karena melanggar kebijakan misinformasi platform mengenai COVID-19. YouTube juga menghapus video wawancara kontroversial yang dia lakukan dengan pembawa acara podcast Spotify Joe Rogan.

Pada 6 Januari 2022, Cek Fakta Tempo pernah memverifikasi sejumlah pernyataan Malone yang dapat menurunkan kepercayaan publik terhadap vaksin Covid-19. Dia menyatakan bahwa bahwa vaksin mRNA merusak otak, jantung, dan sistem reproduksi, serta vaksin untuk anak-anak tidak bermanfaat. 

Klaim 2: Vaksin Covid 19 membahayakan kesehatan dan menyebabkan kematian karena tidak aman dan tidak efektif. Vaksin COVID-19 akan membuat SARS-CoV-2 lebih berbahaya karena mekanisme yang disebut peningkatan ketergantungan antibodi (ADE).

Dilansir Health Feedback, Antibody-dependent enhancement (ADE) adalah mekanisme yang terjadi ketika antibodi tidak memblokir infeksi oleh virus, tetapi malah meningkatkan kemampuannya untuk menginfeksi sel, yang mengakibatkan penyakit menjadi lebih parah.

Berdasarkan hasil penelitian, vaksin Covid-19 belum menunjukkan tanda-tanda menyebabkan penyakit yang lebih parah dalam penelitian pada hewan, uji klinis, atau peluncuran vaksinasi. Sebaliknya, semua vaksin COVID-19 yang disetujui FDA sangat efektif dalam mencegah penyakit parah.

Dilansir AP, Chris Beyrer, seorang profesor epidemiologi di Sekolah Kesehatan Masyarakat Johns Hopkins Bloomberg, mengatakan klaim tersebut menyesatkan. Beyrer mengatakan "buktinya sangat jelas” bahwa vaksin, bersama dengan penguat vaksin, efektif melawan omicron dalam mencegah penyakit serius, rawat inap, dan kematian.”

Klaim 3: Masker tidak memberikan perlindungan yang efektif

Dikutip dari laman The Johns Hopkins Medicine, masker tetap dapat mencegah penyebaran Covid-10 karena virus corona dapat menyebar melalui tetesan dan partikel yang dilepaskan ke udara saat berbicara, bernyanyi, batuk, atau bersin. Sehingga masker sangat membantu untuk mencegah penyebaran virus di tempat umum dalam ruangan yang ramai, terutama yang berisi campuran individu yang divaksinasi dan yang tidak divaksinasi.

Pusat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (CDC) Amerika Serikat menyatakan memilih masker yang pas sangat penting dan memakainya secara konsisten serta benar sangat dianjurkan. Akan tetapi seseorang perlu mengetahui cara aman menggunakan masker seperti mencuci tangan, menggunakannya secara tepat menutup tanpa celah, dan nyaman saat dipakai dalam waktu lama.

KESIMPULAN

Berdasarkan pemeriksaan fakta, Tim Cek Fakta Tempo menyimpulkan video dengan klaim 17 ribu dokter dan ilmuwan membuka suara terkait efek buruk vaksin saat Global Covid-19 Summit adalah menyesatkan.

Vaksin Covid 19, beserta penguat vaksin (booster), efektif  mencegah penyakit serius, rawat inap, dan kematian yang disebabkan virus corona (SARS-CoV-2).

TIM CEK FAKTA TEMPO

** Punya informasi atau klaim yang ingin Anda cek faktanya? Hubungi ChatBot kami. Anda juga bisa melayangkan kritik, keberatan, atau masukan untuk artikel Cek Fakta ini melalui email cekfakta@tempo.co.id