Belum Ada Bukti, Aneka Penyakit Berbahaya Mengintai Tubuh Jika Minum Air Dingin Setiap Hari

Jumat, 4 November 2022 15:14 WIB

Belum Ada Bukti, Aneka Penyakit Berbahaya Mengintai Tubuh Jika Minum Air Dingin Setiap Hari

Sebuah video reels berisi narasi aneka penyakit berbahaya yang disebabkan oleh konsumsi air dingin, beredar di Facebook, 25 September 2022. 

Video tersebut dibagikan dengan klaim bahwa sejumlah penyakit fatal dan mengerikan mengintai tubuh jika sering minum air es. 

Video tersebut memuat klaim bahwa minum air es setiap hari menimbulkan penyakit karena dapat membekukan makanan berminyak, memicu terbentuknya batu ginjal, menyebabkan pusing, perut buncit, perut kembung, membuat tubuh terus terasa haus, memperlambat detak jantung, menyebabkan pembekuan di otak, hilangnya nutrisi dalam tubuh, dan memicu radang tenggorokan.

Tangkapan layar video yang membacakan narasi minum air es setiap hari dapat menimbulkan penyakit fatal

Hingga artikel ini dimuat, video tersebut telah mendapat 156 komentar. Benarkah sejumlah penyakit berbahaya mengintai tubuh jika minum air es setiap hari?

PEMERIKSAAN FAKTA

Belum ada bukti ilmiah yang menunjukkan bahwa minum air dingin tidak baik bagi tubuh. Namun penderita migrain dan akalasia (kesulitan menelan makanan dan minuman) tidak dianjurkan minum air dingin, karena dapat memperburuk gejalanya.

Untuk memverifikasi klaim di atas. Tim Cek Fakta Tempo menelusuri pemberitaan terkait melalui sejumlah media maupun situs kredibel.

Dikutip dari situs Medical News Today, sebuah studi tahun 2001 yang melibatkan 669 wanita menunjukkan bahwa minum air dingin dapat menyebabkan sakit kepala pada beberapa orang.

Para peneliti melaporkan sebanyak 7,6 persen peserta mengalami sakit kepala setelah minum 150 mililiter air es melalui sedotan. Mereka juga menemukan bahwa peserta dengan migrain aktif dua kali lebih mungkin mengalami sakit kepala setelah minum air dingin dibandingkan mereka yang tidak pernah mengalami migrain.

Beberapa orang mengklaim bahwa mengkonsumsi minuman dan makanan dingin dapat menyebabkan sakit tenggorokan atau pilek. Namun, tidak ada bukti ilmiah untuk mendukung klaim ini.

Sebuah studi 2012 menemukan bahwa minum air dingin memperburuk gejala pada orang dengan akalasia. Akalasia adalah kondisi langka yang dapat membuat sulit menelan makanan dan minuman. Minum air panas dapat membantu menenangkan dan mengendurkan pipa makanan bagi partisipan studi. Serta membuat makanan dan minuman lebih mudah ditelan. 

Sebuah penelitian kecil dari tahun 2013 menyelidiki efek air minum pada suhu yang berbeda pada enam orang yang mengalami dehidrasi, setelah berolahraga ringan, di ruangan yang panas dan lembab.

Para peneliti menemukan bahwa mengubah suhu air mempengaruhi respons berkeringat para peserta dan seberapa banyak air yang mereka minum. Suhu air optimal dalam penelitian ini adalah 16°C (60,8°F), yang merupakan suhu air keran yang dingin karena peserta minum lebih banyak air dan lebih sedikit berkeringat.

“Para peneliti menyimpulkan bahwa air minum pada suhu 16°C mungkin merupakan suhu terbaik untuk rehidrasi pada atlet yang mengalami dehidrasi,” bungi kutipan yang dilansir dari independent.co.uk.

Minum minuman dingin bukan salah satu penyebab serangan jantung, menurut Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) di Amerika Serikat dan Layanan Kesehatan Nasional (NHS) di Inggris.

CDC menyatakan bahwa faktor risiko utama penyakit jantung adalah tekanan darah tinggi, kolesterol tinggi, dan merokok. Baik CDC dan NHS mengatakan bahwa penyebab utama serangan jantung adalah penyakit arteri koroner, yang disebabkan oleh penumpukan plak di arteri yang menuju ke jantung.

Mengutip Rappler.com, penumpukan lemak di hati juga tidak terbuat dari air atau disebabkan oleh air. Komponen lemak bukanlah molekul air, melainkan asam lemak yang merupakan asam karboksilat rantai lurus.

Molekul asam karboksilat mengandung atom karbon, tetapi molekul air tidak. Institut Nasional Diabetes dan Penyakit Pencernaan dan Ginjal dari Institut Kesehatan Nasional di Amerika Serikat juga tidak memasukkan air minum dalam daftar penyebab penyakit hati berlemak non-alkohol.

Institut Ginjal dan Transplantasi Nasional di Filipina tidak memasukkan minum air dingin dalam daftar indikasi penyakit untuk transplantasi hati.

Efek minum air dingin mungkin berbeda untuk setiap orang, tergantung faktor internal dan eksternal. Faktor internal bisa berhubungan dengan sistem kekebalan tubuh dan bagaimana tubuh merespon sesuatu yang memiliki suhu rendah. Faktor eksternal dapat berupa cuaca dan aktivitas.

“Ingatlah bahwa teori hanya berlaku ketika Anda minum air mineral es dingin. Coke, es teh, dan es kopi tidak dihitung,” dikutip dari thejakartapost.com.

KESIMPULAN

Berdasarkan pemeriksaan fakta Tempo, video dengan klaim bahwa sejumlah penyakit berbahaya mengintai tubuh jika minum air es setiap hari adalah belum terbukti

Efek minum air dingin berbeda untuk setiap orang, tergantung faktor internal dan eksternal. Faktor internal bisa berhubungan dengan sistem kekebalan tubuh dan bagaimana tubuh merespon sesuatu yang memiliki suhu rendah.

Sedangkan faktor eksternal dapat berupa cuaca dan aktivitas.

TIM CEK FAKTA TEMPO

** Punya informasi atau klaim yang ingin Anda cek faktanya? Hubungi ChatBot kami. Anda juga bisa melayangkan kritik, keberatan, atau masukan untuk artikel Cek Fakta ini melalui email cekfakta@tempo.co.id