Sebagian Benar, Narasi Bocah Jepang Berdiri Menunggu Giliran Kremasi Adiknya

Jumat, 9 September 2022 16:38 WIB

Sebagian Benar, Narasi Bocah Jepang Berdiri Menunggu Giliran Kremasi Adiknya

Beredar unggahan foto di Facebook yang menampakkan seorang bocah laki-laki membawa bocah lain di punggungnya dengan narasi bocah Jepang di masa Perang Dunia II (1945) tengah berdiri menunggu giliran kremasi adiknya yang sudah meninggal.

Sang fotografer mengatakan, bocah itu menggigit bibirnya begitu keras agar tidak menangis sehingga darah menetes dari sudut mulutnya.

Tangkapan layar foto yang beredar di Facebook

Saat itulah penjaga meminta: "Berikan padaku beban yang kamu bawa di punggungmu." Bocah itu menjawab: "Dia tidak berat, dia saudaraku".

Foto tersebut diunggah 15 Agustus 2022 dan sudah sudah mendapat  7,8 ribu komentar dan sudah 61 ribu kali dibagikan. Bahkan sampai hari ini, di Jepang foto itu digunakan untuk melambangkan The Power of Love.

PEMERIKSAAN FAKTA

Untuk memverifikasi klaim foto tersebut, Tim Cek Fata Tempo menggunakan bantuan Google Lens dan Google Translate. Tempo menemukan sebuah berita yang menyertakan foto tersebut dengan judul Speaks more than a thousand words' Pope Instructs Distribution di laman situs Sankei.com pada 25 November 2019. 

Foto itu memuat keterangan: Boy Standing at the Crematory" distributed by Pope Francis to emphasize the importance of peace (provided by the Vatican, jointly).

Dalam artikel tersebut dijelaskan, Paus Fransiskus (82 tahun) mengunjungi taman hiposenter di Nagasaki pada 24 September 2019. Selama kunjungan, foto "Boy Standing at the Grill" menarik perhatiannya. Paus Fransiskus meminta agar foto itu dicetak pada kartu dan dibagikan kepada dunia dengan kata-kata "Apa yang telah dibawa oleh perang."

Gambar itu diketahui diambil di Nagasaki pada 1945 setelah bom atom dijatuhkan. Tetapi masih banyak misteri, seperti siapa anak itu dan di mana gambar itu diambil. Foto itu menunjukkan seorang anak laki-laki bertelanjang kaki, menggendong seorang anak yang sudah meninggal di punggungnya. Ia menunggu giliran untuk proses kremasi dengan mulut tertutup rapat. 

Foto itu diambil oleh mendiang Joe O'Donnell yang merupakan pensiunan fotografer militer AS. Setelah kembali ke Jepang, Tuan O'Donnell mengunjungi Jepang beberapa kali untuk mencari anak itu, tetapi tidak pernah ditemukan.

Pada pertengahan Oktober, seorang dokter di kota yang terlibat dalam mendukung para penyintas bom atom berusia 63 tahun bernama Takaya Honda. Ia sedang mencari lokasi syuting di bekas lokasi rumah sakit isolasi di Yagami, Kota Nagasaki. Di sana, disebutkan adanya penemuan sebuah krematorium. 

O'Donnell memberikan kesaksian tentang adanya lubang dangkal di dekat tepi sungai dan informasi dari buku-buku yang memverifikasi foto-foto itu digunakan untuk menyelidiki. Tetapi sayangnya, tidak ada identifikasi yang dibuat.

Sumber: Asahi.com

Antonio Garcia, seorang imam Yesuit berusia 90 tahun dari Nagasaki, berkorespondensi dengan Paus selama bertahun-tahun. Ia melampirkan foto anak laki-laki yang kebetulan dia lihat beberapa tahun lalu tersebut, tanpa ada alasan yang jelas. 

Namun pada akhir tahun 2017, Paus menginstruksikan pejabat gereja untuk membagikan kartu yang dicetak dengan fotonya. "Foto-foto seperti ini berbicara lebih dari seribu kata. Jadi saya ingin membagikannya," kata Paus.

Informasi senada juga terdapat pada laman Asahi.com yang berjudul ‘Who are you standing at the crematory? A piece that moved the Pope’. Dalam artikel tersebut terdapat penjelasan bahwa anak-laki-laki tersebut berusia sekitar 10 tahun. Namun tidak diketahui siapa namanya.

KESIMPULAN

Berdasarkan pemeriksaan fakta di atas, klaim bahwa seorang bocah Jepang berdiri menunggu giliran kremasi adiknya sebagian benar.

Foto itu diambil oleh mendiang Joe O'Donnell yang merupakan pensiunan fotografer militer AS. Tidak ada penjelasan apakah benar fotografer tersebut mengatakan bahwa bocah itu menggigit bibirnya begitu keras agar tidak menangis sehingga darah menetes dari sudut mulutnya.

TIM CEK FAKTA TEMPO

** Punya informasi atau klaim yang ingin Anda cek faktanya? Hubungi ChatBot kami. Anda juga bisa melayangkan kritik, keberatan, atau masukan untuk artikel Cek Fakta ini melalui email cekfakta@tempo.co.id