[Fakta atau Hoaks] Apakah mencuci dan mengeringkan biji buah-buahan serta menanamnya dapat tumbuh di musim hujan, seperti yang dilakukan di Thailand?

Sabtu, 30 Maret 2019 12:18 WIB
 
[Fakta atau Hoaks] Apakah mencuci dan mengeringkan biji buah-buahan serta menanamnya dapat tumbuh di musim hujan,  seperti yang dilakukan di Thailand?

Sejak dua pekan lalu beredar di WhatsApp grup ajakan untuk tidak membuang biji tanaman buah-buahan ke tempat sampah. Warga disarankan mencuci dan mengeringkan biji tersebut di bawah sinar matahari. Lalu membungkusnya dengan koran dan menyimpannya di mobil. Setiap kali pergi dan menemukan tanah kosong terbuka, buang biji-bijian itu karena bakal berkecambah dengan mudah pada musim hujan mendatang.

Cekfakta: viral di WAG ajakan menanam biji pohon seperti di Thailand

Penulis pesan yang jadi viral itu menjelaskan bahwa Pemerintah Thailand telah mempromosikan ajakan itu kepada warganya sejak beberapa tahun lalu.  Petugas pertanian di desa-desa berkampanye secara agresif dan berhasil. Jumlah pohon buah-buahan di alam telah berlipat ganda, terutama di distrik utara Thailand.

“Mari kita warga Indonesia juga bergabung dengan Thailand dalam inisiatif cemerlang ini untuk menyebarkan kelimpahan di alam dengan cara yang sederhana namun efektif dan berkontribusi kembali bagi generasi kita berikutnya,” tulis pesan itu. Dalam informasi tersebut ditulis bahwa pesan itu merupakan terjemahan bahasa Inggris.

Klarifikasi:

Tempo mewawancarai guru besar konservasi biologi Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia, Jatna Supriatna untuk mengonfirmasi terhadap ajakan yang menjadi viral di WAG.

Memperbanyak tanaman dapat berasal dari biji.  Tingkat kemudahan penanganan benih amat ditentukan oleh karakteristik fisiologis biji dari setiap jenis pohon.

Menurut Jatna Supriatna, berdasarkan ketebalan dan kekerasan kulit biji dan kemampuan biji dapat disimpan, biji-biji pohon dikelompokkan menjadi tipe biji yaitu ortodoks dan recalcitrant.

Biji tipe ortodoks adalah biji-biji yang umumnya berkulit tebal dan keras, kandungan airnya rendah serta dapat disimpan dalam jangka panjang (tahunan). Misalnya mangium, sengon dan sawo kecil.

Sedangkan biji tipe recalcitrant adalah biji-biji yang umumnya berkulit lunak, kandungan air tinggi serta tidak dapat disimpan dalam jangka panjang. Misalnya meranti, mahoni, nangka, durian, rambutan, dan mangga.

Biji pada tipe ortodoks dapat angsung tumbuh apabila diletakan di atas tanah tanpa treatment.

“Sedangkan jenis biji-bijian recalcitrant dapat tumbuh dengan penggemburan tanah sebelum ditanam,” kata Jatna  yang meraih gelar Ph.D dalam bidang biological anthropology dari University of New Mexico, Alburquerque, Amerika Serikat.

Menurut Jatna, biji-bijian kelompok orthodoks tidak harus dibungkus koran dan dikeringkan seperti disarankan informasi yang menyebar lewat WAG.  Namun, katanya, cukup dikering anginkan.

Untuk biji-bijian kelompok recalcitrant seperti  durian dan mangga, memang harus dicuci sampai bersih. Tujuannya untuk menghilangkan jamur. Setelah itu baru ditanam.

Jatna menjelaskan mekanisme hewan sebagai penyebar biji atau dispersal sangat penting. Kalong misalnya, merupakan penyebar biji yang paling baik.

Intervensi manusia sangat penting melalui proses kultivasi yaitu persiapan lahan, penanaman,  pemeliharaan dan pemupukan.

Apakah Pemerintah Thailand mengkampanyekan gerakan menanam buah-buahan kepada  warganya?  Memang,  pada tahun 2005, mereka mengkampanyekan Double A Paper Tree untuk petani padi, jagung dan singkong.  Tujuannya meningkatkan pendapatan petani dengan menanam 200 juta pohon untuk bahan kertas.  

Selain itu ada program The Billion Tree Campaign 2009 di Sirindhorn International Environment Park. Program ini jadi bagian The Billion Tree Campaign was launched in 2006, by the United Nations Environment Programme (UNEP). Kedua program tersebut, tidak mengkhususkan pada gerakan menanam bibit pohon buah-buahan.  

Cekfakta: viral di WAG ajakan menanam biji pohon seperti di Thailand

Kesimpulan:

Berdasarkan klarifikasi, maka pernyataan di WAG soal ajakan menanam bibit pohon seperti yang dilakukan di Thailand, tidak akurat atau "keliru".

UNTUNG WIDYANTO