[Fakta atau Hoaks] Benarkah Penggunaan Kotak Suara Berbahan Kardus Sengaja Dirancang Agar Mudah Ditukar?

Kamis, 28 Maret 2019 07:25 WIB
 
[Fakta atau Hoaks] Benarkah Penggunaan Kotak Suara Berbahan Kardus Sengaja Dirancang Agar Mudah Ditukar?

Penggunaan kotak suara berbahan kertas karton pada Pemilu 2019 mendapat sorotan sejumlah pihak. Akun Jainudin Ngacir menulis narasi di Facebook bahwa penggunaan kotak kardus sengaja dirancang agar mudah ditukar. Informasi itu telah viral sejak diunggah pada 9 Maret 2019.

Akun Facebook Jainudin Ngacir menulis bahwa penggunaan kotak kardus sengaja dirancang agar mudah ditukar. Informasi ini viral sejak diunggah pada 9 Maret 2019.

Jainudin Ngacir mengaku mendapat mendapat pesan khusus dari seseorang yang ia sebut sebagai “orang dalam” di kubu Capres Jokowi. Ia sengaja merahasiakan identitas “orang dalam” tersebut dengan alasan keamanan.

“Kotak kardus itu sengaja dirancang agar mudah pertukaran kotak suara di jalanan. Atau dengan alasan rusak saat di wilayah semacam Irian maka diganti dengan kotak suara baru yang isinya telah dicoblos ke Jokowi,” demikian pesan “orang dalam” yang dikutip Jainudin Ngacir.

Pada kalimat berikutnya dari pesan itu berisi permintaan kepada relawan menjaga dengan ketat keberadaan kotak suara. Jainudin Ngacir menutup narasinya dengan kalimat ajakan agar pesan tersebut disebarkan secara berantai.

“Sampaikan berantai ke semua relawan PADI jangan di grup. Sebab bisa saja ada orang Jokowi. Thanks,” pesan Jainudin Ngacir.

Hingga 27 Maret 2019, informasi tersebut telah mendapat 3200 tanggapan, 1500 komentar dan telah dibagikan 4784 kali.

 

PEMERIKSAAN FAKTA

Sebagaimana diwartakan Tempo.co, Wakil Presiden Jusuf Kalla atau JK mengatakan tidak ada yang salah dengan penggunaan kotak suara berbahan dasar kertas karton untuk pemilihan umum 2019.

“(Berbahan) Seng pun kalau mau dirusak, ya (bisa) dirusak,” kata JK di Kantor Wakil Presiden, Jakarta pada Selasa, 18 Desember 2018.  

JK tidak memungkiri bahwa penggunaan karton lantaran untuk menghemat anggaran. Sebab, harga kotak alumunium saat ini lebih mahal ketimbang dan banyak kotak suara yang dimiliki Komisi Pemilihan Umum (KPU) telah rusak dan harus diganti.

Menurut JK, penggunaan kotak suara berbahan karton seharusnya tak menjadi masalah karena telah disetujui oleh seluruh partai di Dewan Perwakilan Rakyat dan KPU.

JK menuturkan dalam pemilu 2019 tidak semua kotak suara berbahan dasar karton. Kotak ini hanya sebagai tambahan dan pengganti kotak yang rusak.

"Artinya karena penduduk bertambah, TPS (tempat pemungutan suara) bertambah, berarti kotak suara bertambah. Ada yang rusak bertambah. Hanya penambah itu dari kardus," ujarnya.

Ketua KPU Arief Budiman menampik kekhawatiran sejumlah pihak tentang penggunaan kotak suara berbahan karton dalam pemilu 2019. Arief mengatakan banyak negara menggunakan jenis kotak suara tersebut.

"Saya pernah datangi negara-negara penyelenggara pemilu di hampir semua benua, di Afrika, Eropa, Asia," kata dia di Hotel Menara Peninsula, Jakarta, Sabtu, 15 Desember 2018.

Menurut Arief, di sejumlah negara bahkan menggunakan kotak karton yang bahannya lebih tipis. Dia mengatakan tidak ada masalah dalam penggunaan kotak tersebut. "Aman saja," kata dia.

Dia mengatakan kotak suara jenis ini sudah dipakai dalam empat kali pemilihan umum. Dia juga mengatakan bahan dasar kotak tersebut kedap air.

Meski demikian, dia meminta masyarakat dapat memahami makna kedap air. Menurut dia, kotak tersebut dapat bertahan dari percikan air atau terkena air dalam batas yang wajar. "Kalau dimasukan dalam ember ya jelas basah semua," kata dia.

 

KESIMPULAN

Dari fakta di atas, disimpulkan bahwa informasi viral tentang penggunaan kotak kardus sengaja dirancang agar mudah ditukar adalah keliru.

 

Zainal Ishaq

 

  •