Sebagian Benar, Ilmuwan California Temukan Obat Tetes Mata yang Bisa Membuat Manusia Melihat dalam Kegelapan

Jumat, 8 Oktober 2021 13:09 WIB
 


 
Sebagian Benar, Ilmuwan California Temukan Obat Tetes Mata yang Bisa Membuat Manusia Melihat dalam Kegelapan

Sebuah foto memperlihatkan seseorang tengah mengarahkan alat injeksi ke bagian mata pria yang berbaring beredar di media sosial. Foto tersebut dibagikan bersama foto lainnya dengan narasi bahwa grup ilmuwan serta hacker biologi asal California telah menemukan obat tetes mata ajaib yang diklaim dapat membuat manusia melihat dalam kegelapan.

Di Instagram, kolase foto tersebut dibagikan akun ini pada 30 September 2021. Akun inipun menuliskan narasi:

“Hal tak terduga ditemukan oleh grup ilmuwan serta hacker biologi asal California, Science for Messes (SfM), mereka telah menemukan obat tetes mata ajaib yang diklaim dapat membuat manusia melihat dalam kegelapan.

Mereka menggunakan Chlorin e6 (Ce6), yang ditemukan pada ikan laut. Senyawa ini juga dapat digunakan untuk mengobati kebutaan dan kanker.”

Hingga artikel ini dimuat, unggahan tersebut telah mendapat 170 komentar dan 130 ribu likes. Apa benar ilmuan California telah menemukan obat yang dapat membuat manusia melihat dalam kegelapan?

Tangkapan layar unggahan dengan klaim Ilmuan California Temukan Obat Tetes Mata yang Dapat Membuat Manusia Melihat dalam Kegelapan

PEMERIKSAAN FAKTA

Untuk memverifikasi klaim di atas, Tim CekFakta Tempo menelusuri pemberitaan terkait melalui sejumlah media kredibel. Hasilnya, temuan para peneliti di California tersebut masih bersifat subyektif. Para peneliti yang terlibat dalam proyek tersebut mengingatkan bahwa studi lebih lanjut harus dilakukan untuk mengukur efek dari solusi ce6 ini secara objektif.

Dilansir dari Mic.com, Science for the Masses (SftM), sekelompok biohacker yang berbasis Tehachapi, California, berteori bahwa mereka dapat meningkatkan penglihatan pada malam hari.

Untuk melakukan ini, kelompok tersebut menggunakan sejenis analog klorofil yang disebut Chlorin e6 (Ce6), yang ditemukan pada beberapa ikan laut dalam dan kerap digunakan sebagai metode untuk mengobati rabun senja.

"Melanjutkan penelitian itu, kami pikir ini akan menjadi sesuatu ke depannya," kata petugas medis lab, Jeffrey Tibbetts, kepada Mic.

"Ada cukup banyak makalah yang membicarakan tentang menyuntikkannya pada model seperti tikus secara intravena seperti yang telah digunakan sejak tahun 60-an sebagai pengobatan untuk berbagai jenis kanker. Setelah melakukan penelitian, langkah berikutnya diambil."

Untuk melakukannya, anggota tim peneliti biokimia Gabriel Licina menjadi kelinci percobaan.

Tim membuka mata Licina sementara sejumlah kecil larutan diteteskan ke bola mata menggunakan pipet, dan kemudian diberi waktu untuk menyerap. Licina kemudian memakai lensa kontak hitam untuk menghindari paparan cahaya yang berlebihan.

Dia kemudian dibawa ke sebuah lapangan, dan menguji penglihatannya terhadap kelompok kontrol yang tidak diberi tetesan seperti dirinya. Mereka diminta untuk mengidentifikasi bentuk-bentuk yang tergantung di pohon, dan kemudian mengidentifikasi orang-orang yang tidak bergerak pada jarak hingga 50 meter.

Hasilnya direkam dan diunggah ke situs mereka. SftM mengatakan penglihatan malam Licina membawanya ke tingkat keberhasilan 100 persen dalam mengenali target, sedangkan kelompok kontrol hanya mencetak 33 persen.

Ketika ditanya tentang risiko terhadap penglihatannya sendiri, Licina mengatakan, "Lebih sulit untuk menuntut diri sendiri. Kami telah melakukan penelitian, kami telah memeriksa dua kali lipat semua sumber dan makalah jurnal kami,” kata Licina seperti dilansir dari newsweek.com.

"Kami serius dengan apa yang kami lakukan, kami serius tentang sains, jadi itu berarti kami membaca banyak makalah jurnal. Kami meneliti tentang ini."

Licina menjelaskan apa yang terjadi "Ini tidak seperti 'oh my gosh, aku punya penglihatan super!'," katanya.

"Ini lebih seperti gelap menjadi redup, semuanya sedikit lebih terang. Bukan cahaya yang terlihat gila, terbakar dan malapetaka, tetapi lebih halus, 'oh saya bisa melihat sesuatu!'"

Sebelumnya, Science for the Masses, telah menerbitkan sebuah makalah berjudul “A REVIEW ON NIGHT ENHANCEMENT EYEDROPS USING CHLORIN E6” yang dimuat situs resmi mereka pada 25 Maret 2015.

Dalam makalah tersebut telah dicantumkan disclaimer bahwa peningkatan amplifikasi cahaya mungkin memiliki efek buruk pada struktur seluler mata jika tidak digunakan dengan benar dan beberapa bahan yang digunakan dalam campuran ini tidak boleh digunakan pada manusia atau hewan.

Perlu dicatat bahwa lebih banyak pengujian perlu dilakukan pada proyek khusus ini. Pengujian yang dilakukan saat ini bersifat subjektif. Sebuah stimulator Ganzfeld dan electroretinigraph akan digunakan untuk mengukur jumlah sebenarnya dari peningkatan stimulasi listrik dari mata, memberikan jumlah yang sulit diukur dengan tingkat amplifikasi.

Dimungkinkan juga untuk menguji rentang penglihatan mana yang sedang diperkuat juga. Namun, mengingat hasil saat ini dan kerangka kerja sebelumnya pada teknik ini, tampaknya adil untuk mengatakan bahwa teknik ini berhasil mengklaim untuk amplifikasi cahaya rendah di mata manusia.

Temuan ini adalah pengalaman subjektif. Subjek tidak mengalami efek samping setelah pemberian. Pengujian awal tampaknya menunjukkan peningkatan penglihatan cahaya redup ini terjadi. Pengujian lebih lanjut diperlukan untuk mengkonfirmasi dan mengukur tingkat peningkatan pada subyek kesehatan.

Pada akhir makalah juga ditekankan bahwa studi lebih lanjut harus dilakukan untuk mengukur efek dari solusi ce6 ini secara objektif.

Suatu produk medis, seperti obat maupun vaksin harus menjalani serangkaian proses uji sebelum bisa dipasarkan. Rangkaian uji tersebut sebagai bukti kuat yang mendukung bahwa obat aman dan efektif untuk mengatasi suatu penyakit.

Dilansir dari US Food and Drug Administration (FDA) penelitian praklinis sebuah obat diperlukan untuk menjawab pertanyaan dasar tentang keamanan obat.

“Penelitian klinis" mengacu pada studi, atau uji coba, yang dilakukan pada manusia. Saat pengembang merancang studi klinis, mereka akan mempertimbangkan apa yang ingin mereka capai untuk masing-masing Fase Penelitian Klinis yang berbeda dan memulai Proses Penyelidikan Obat Baru (IND), sebuah proses yang harus mereka lalui sebelum penelitian klinis dimulai.

Proses yang harus dilalui sebelum penelitian klinis dimulai meliputi,  merancang uji klinis, studi fase penelitian klinis, proses penyelidikan obat baru, meminta bantuan FDA, peninjau oleh tim FDA IND hingga mendapat Persetujuan.

Dikutip dari situs resmi Centers for Disease Control and Prevention (CDC), di Amerika Serikat, undang-undang federal melarang distribusi dan transportasi produk obat yang tidak disetujui oleh Food and Drug Administration (FDA).

Untuk mengizinkan perawatan pasien dengan produk obat yang tidak berlisensi, FDA dapat mengizinkan penggunaan obat atau produk biologis di bawah aplikasi Investigational New Drug (IND).

Aplikasi IND bukanlah permintaan persetujuan, tetapi permintaan pengecualian dari hukum federal. Permohonan IND mencakup protokol untuk penggunaan klinis obat atau biologis yang tidak berlisensi dan harus diserahkan untuk ditinjau ke FDA dan diizinkan untuk melanjutkan sebelum agen apa pun dilepaskan di bawah status IND.

 

KESIMPULAN

Berdasarkan pemeriksaan fakta Tempo, klaim bahwa ilmuan California telah menemukan obat yang dapat membuat manusia melihat dalam kegelapan, sebagian benar. Temuan para peneliti di California tersebut masih bersifat subyektif, sebab masih memerlukan studi yang lebih lanjut untuk mengukur efek dari solusi Ce6 ini secara objektif.

Karena masih dalam tahap penelitian, maka temuan tersebut belum bisa dikatakan sebagai obat. Di AS sendiri suatu produk medis, seperti obat maupun vaksin harus menjalani serangkaian proses uji mulai dari merancang uji klinis, studi fase penelitian klinis, proses penyelidikan obat baru, meminta bantuan FDA, peninjauan oleh tim FDA-IND hingga mendapat Persetujuan.

TIM CEK FAKTA TEMPO


 


  •  

    Selengkapnya