Keliru, Klaim WWF Digunakan Sebagai Organisasi Untuk Tempat Pencucian Uang

Senin, 4 Oktober 2021 10:39 WIB
 


 
Keliru, Klaim WWF Digunakan Sebagai Organisasi Untuk Tempat Pencucian Uang

Unggahan yang mengklaim organisasi World Wide Fund for Nature (WWF) digunakan sebagai tempat pencucian uang dari hasil perdagangan anak dan politik lingkungan mafia beredar di  facebook.

Unggahan ini pertama kali beredar pada 1 September 2021 dengan menambahkan narasi:

“WWF didirikan pada 11 September 1961 Julian Huxley, Peter Markham Scott, Yolanda Farr, Bernhard zur Lippe-Biesterfeld, Philip Mountbatten (Duke of Edinburgh), Edward Max Nicholson, Guy Mountfort, Godfrey A. Rockefeller Sosialis (mafia) menggunakan organisasi semacam itu untuk pencucian uang untuk menempatkan sesuatu yang "baik" di depan mereka (dalih), untuk perdagangan anak, agenda politik mereka seperti hari Jumat untuk masa depan: kebohongan perubahan iklim, pajak CO2, propaganda vaksinasi, UNICEF IMF - PROGRAM dan lebih banyak. Semua organisasi ini dikendalikan oleh satu organisasi: PBB. PBB berarti SATU dan menunjukkan karakter terpusat dari kediktatoran dunia yang terpusat, dengan tatanan keuangan yang dikendalikan secara terpusat, tentara dan polisi dunia yang dikendalikan secara terpusat, keadilan dunia yang dikendalikan secara terpusat, kesehatan dunia yang dikendalikan secara terpusat = Big Pharma, Pendidikan dunia yang dikendalikan secara terpusat, dll”.

Lantas benarkan WWF digunakan sebagai tempat pencucian uang mafia dari hasil perdagangan anak?

Tangkapan layar unggahan klaim WWF Digunakan Sebagai Organisasi Untuk Tempat Pencucian Uang


PEMERIKSAAN FAKTA 

Untuk membuktikan klaim atas, cekfakta Tempo mula-mula menelusuri informasi awal terkait histori organisasi WWF. Hasilnya WWF diketahui merupakan organisasi konservasi non pemerintah yang didirikan 11 September 1961. 

Dilansir dari laman resmi WWF, organisasi ini didirikan dengan semangat untuk melindungi spesies yang terancam oleh pembangunan manusia. Awalnya Victor Stolan seorang pengusaha terinspirasi oleh serangkaian artikel di surat kabar Inggris yang ditulis oleh Sir Julian Huxley tentang perusakan habitat dan satwa liar di Afrika Timur. Victor Stolan lalu mendesak organisasi internasional untuk mengumpulkan dana untuk konservasi. Ide tersebut kemudian dibagikan kepada Max Nicholson, Direktur Jenderal lembaga pemerintah Inggris, Nature Conservancy, yang dengan antusias menerima tantangan tersebut.

Nicholson kemudian berinisiatif melakukan penggalangan dana baru untuk dapat membantu IUCN dan kelompok konservasi lainnya menjalankan misi konservasi. Dia menyusun rencana pada April 1961 yang menjadi dasar pendirian WWF, yang kemudian disahkan oleh dewan eksekutif IUCN dalam sebuah dokumen yang dikenal sebagai Morges Manifesto. Nicholson dan – termasuk Sir Peter Scott, anggota dewan eksekutif IUCN yang telah menandatangani Morges Manifesto dan kemudian menjadi wakil presiden pertama WWF.

Dikutip dari Media Indonesia, WWF dulunya bernama World Wildlife Fund dan Worldwide Fund for Nature.  Saat ini organisasi ini menjadi salah satu organisasi lingkungan terbesar di dunia yang memiliki 28 organisasi nasional dengan kantor pusat di Gland, Swiss.  Dalam sejarah WWF, ditemukan beberapa penyumbang terbesar, termasuk Chevron dan Exxon (masing-masing lebih dari US$50 ribu pada 1988), Philip Morris, Mobil, dan Morgan Guaranty Trust. 

Sebagai organisasi konservasi terkemuka di dunia, WWF saat ini bekerja di hampir 100 negara. Di setiap level, WWF telah berkolaborasi dengan orang-orang di seluruh dunia untuk mengembangkan dan memberikan solusi inovatif yang melindungi komunitas, satwa liar, dan tempat tinggal mereka. WWF bekerja untuk membantu masyarakat lokal melestarikan sumber daya alam yang mereka andalkan; mengubah pasar dan kebijakan menuju keberlanjutan; dan melindungi dan memulihkan spesies dan 

WWF juga menghubungkan ilmu konservasi mutakhir dengan kekuatan kolektif mitra di lapangan. Lebih dari 1 juta pendukung di Amerika Serikat dan 5 juta secara global, dan kemitraan WWF dengan masyarakat, perusahaan, dan pemerintah. Pekerjaan WWF difokuskan pada enam tujuan yaitu ketahanan pangan, perubahan iklim, air tawar, margasatwa, kehutanan dan kelautan. 

Di Indonesia, Organisasi ini mulai berkiprah pada 1962 sebagai bagian dari WWF Internasional. Pertama kali yang dilakukan adalah melakukan penelitian di Ujung Kulon untuk menyelamatkan populasi Badak Jawa yang nyaris punah. Saat itu hanya tersisa sekitar 20 individu saja. Bekerjasama dengan Kementerian Kehutanan, lambat laun jumlah populasi satwa bercula satu itu meningkat hingga stabil sekitar 40-50 individu pada survey tahun 1980-an.

Pada tahun 1996, WWF resmi berstatus yayasan, menjadi sebuah entitas legal, yang berbadan hukum sesuai ketentuan di Indonesia. Adalah Prof. Emil Salim, Pia Alisjahbana dan Harun Al Rasjid yang menjadi pendorong berdirinya Yayasan WWF Indonesia. Organisasi ini memiliki Dewan Penyantun sendiri, independen dan fleksibel dalam penggalangan dana dan pengembangan program. 

Dalam menjalankan organisasi, sumber dana WWF lebih banyak mengandalkan dari aksi penggalangan donasi dari publik. Pada 2020 organisasi ini berhasil menggalang dana publik sebesar $276 juta.

Sementara WWF-Indonesia tidak menerima dana dari APBN atau APBD, tetapi memperoleh dukungan dana lebih dari 40 lembaga donor, aid agencies, filantropi, serta dukungan lebih dari 100,000 supporter WWF di seluruh Indonesia. 

Sumber dana dan laporan keuangan Yayasan WWF Indonesia selalu diaudit oleh auditor terpercaya, dan dipublikasikan secara terbuka setiap tahunnya.
 
KESIMPULAN

Berdasarkan hasil pemeriksaan tim cekfakta Tempo, klaim yang mengatakan organisasi World Wide Fund for Nature (WWF) digunakan sebagai tempat pencucian uang mafia dari hasil perdagangan anak dan politik lingkungan, keliru. WWF diketahui merupakan organisasi konservasi non pemerintah yang sumber dananya diperoleh dari donasi publik. Setiap tahun keuangan organisasi ini dipublikasikan secara terbuka pada publik.  

TIM CEKFAKTA TEMPO


 


  •  

    Selengkapnya