Keliru, Serbuan Burung Gagak dan Nyamuk Besar di Cina Gemparkan Arab

Jumat, 13 Agustus 2021 06:56 WIB
 


 
Keliru, Serbuan Burung Gagak dan Nyamuk Besar di Cina Gemparkan Arab

Sebuah video berisi klaim berita serbuan burung gagak dan nyamuk-nyamuk besar di Cina menggemparkan Arab, diunggah pada 7 Agustus 2021. Serbuan gagak dan nyamuk itu disebut akan menimbulkan wabah penyakit baru setelah Covid-19 di Cina. 


Narasi ini disampaikan pada detik ke-30 hingga satu menit pertama berbarengan dengan tampilan ilustrasi video ribuan burung yang terbang di langit sebuah kota. “Sekarang kita makin yakin dengan perkembangan terbaru di Cina, dan ini diberitakan di televisi arab, di Al Jazeera, bahwa gagak yang sangat banyak mendatangi negeri atau kota-kota Cina,” bunyi narasi video tersebut.


Selain  gagak, serbuan nyamuk berukuran jumbo juga disebutkan memenuhi berbagai daerah di Cina. “Kemudian juga saat ini ada nyamuk-nyamuk yang berukuran besar-besar, memenuhi kota-kota, perkampungan-perkambangan, lembah-lembah, dan ini akan menimbulkan wabah penyakit baru. Luar biasa, berlapis-lapis yang dialami Cina." 


Selanjutnya, narasi video berisi ceramah yang mengajak umat Islam untuk berdoa dan mendekatkan diri pada Tuhan Yang Maha Esa.

Tangkapan layar unggahan yang mengklaim serbuan burung gagak dan nyamuk besar di Cina Gemparkan Arab.

 
PEMERIKSAAN FAKTA


Dari hasil pemeriksaan, Tim Cek Fakta Tempo tidak menemukan pemberitaan di Al Jazeera maupun media Arab lainnya tentang serbuan gagak dan nyamuk berukuran besar di Cina ini. Sementara itu, narasi dan video yang ditampilkan pernah beredar pada Januari 2020, saat virus penyebab Covid-19, SARS-CoV-2 pertama kali mewabah di Wuhan, Cina. Namun ribuan burung di langit Cina tersebut tidak terkait dengan Covid-19. 


Untuk menelusuri klaim tersebut, Tempo memasukkan berbagai kata kunci terkait serbuan gagak dan nyamuk jumbo di Cina dalam bahasa Inggris dan Arab ke mesin pencari Google. Termasuk menelusurinya di situs media Al Jazeera. Hasilnya, Tempo tidak menemukan pemberitaan mengenai hal tersebut pada 2021. 


Beberapa artikel berbahasa Arab yang muncul, merujuk pada beberapa video viral pada Januari-Februari 2020 yang mengklaim ribuan gagak menyerbu Wuhan sebagai tanda kematian. Seperti yang dipublikasikan oleh situs Sky News Arab pada 14 Februari 2020. Namun klaim ini sudah dibantah oleh pemeriksa fakta AFP. Menurut AFP, video tersebut diambil oleh seorang pria bernama Hua Yi di Jalan Wencheng, Xining, Qinghai. Kawanan burung gagak itu menjadi fenomena yang biasa terjadi sejak dia pindah pada September 2019, di awal musim dingin. 


Tempo juga menelusuri video-video kawanan burung yang dikompilasi dalam video di Facebook tersebut. Hasilnya, seluruh video itu pernah dimuat oleh kanal Epoch Times di Youtube pada 28 Januari 2020 dengan judul Video kawanan burung gagak di langit di Jingzhou, Hubei dan Video burung gagak di langit di Yichang, Hubei.


Menurut organisasi nirlaba yang memeriksa bias media, Media Bias Fact Check, mengkategorikan pemberitaan Epoch Times cenderung bias karena memuat publikasi pseudosains, mempromosikan teori propaganda, konspirasi serta banyak gagal melakukan pemeriksaan fakta. 


Video kawanan burung di langit Cina adalah bagian dari migrasi burung tahunan. Dikutip dari situs media Cina, Xinhua pada 2018 misalnya, ada 20 ribu burung terbang ke timur laut Cina untuk singgah di Cagar Alam Nasional Danau Xingkai, sebelum bermigrasi menuju lebih jauh ke selatan pada musim dingin. 
"Setiap tahun, dari pertengahan September hingga pertengahan November, burung migran dari Rusia singgah di cagar alam tersebut," kata Liu Huajin dari cagar alam.


Total ada delapan rute migrasi burung di dunia. Tiga rute di antaranya melewati China.

Terkait nyamuk berukuran jumbo


Sedangkan terkait klaim serangan nyamuk berukuran jumbo juga tidak terjadi setelah Covid-19. Dikutip dari Cek Fakta Tempo, Sejak 2017, Beijing memang menghadapi peningkatan populasi nyamuk, terutama jenis nyamuk harimau Asia (Aedes albopictus). Nyamuk ini adalah salah satu spesies nyamuk paling invasif di dunia yang membawa penyakit demam berdarah, virus Zika, dan penyakit mematikan lainnya.


Nyamuk harimau Asia menyumbang sekitar 14 persen dari total populasi nyamuk di Beijing pada 2017, hampir empat kali lipat ketimbang pada 2013. Pada Mei 2018, Beijing pun meluncurkan kampanye pengendalian nyamuk untuk mengurangi risiko penyakit menular seperti demam berdarah.


KESIMPULAN


Dari pemeriksaan fakta di atas, klaim berita serbuan burung gagak dan nyamuk-nyamuk besar di Cina yang menggemparkan Arab adalah keliru. Sebagian dari narasi ini disebarkan sejak akhir Januari 2020, ketika wabah SARS-CoV-2 terjadi di Wuhan, Tiongkok. Kawanan burung seperti dalam video adalah fenomena migrasi burung migran tahunan. Cina memang menjadi jalur migrasi berbagai jenis burung migran di musim dingin. Selain itu terkait klaim serangan nyamuk berukuran jumbo terjadi sejak 2017. 


Tim CekFakta Tempo


 


  •  

    Selengkapnya