Lupa Kata Sandi? Klik di Sini

atau Masuk melalui

Belum Memiliki Akun Daftar di Sini


atau Daftar melalui

Sudah Memiliki Akun Masuk di Sini

Konfirmasi Email

Kami telah mengirimkan link aktivasi melalui email ke rudihamdani@gmail.com.

Klik link aktivasi dan dapatkan akses membaca 2 artikel gratis non Laput di koran dan Majalah Tempo

Jika Anda tidak menerima email,
Kirimkan Lagi Sekarang

Keliru, Vaksin Covid-19 Mengandung Microchip yang Bisa Nyalakan Lampu

Selasa, 22 Juni 2021 16:42 WIB

Keliru, Vaksin Covid-19 Mengandung Microchip yang Bisa Nyalakan Lampu

Video yang memperlihatkan seorang pria paruh baya sedang menunjukan lampu yang menyala saat didekatkan ke lokasi bekas suntikan vaksin Covid-19 di lengannya beredar di Facebook. Hal itu pun diklaim sebagai bukti bahwa vaksin Covid-19 mengandung perangkat elektronik, yakni microchip.

Akun ini mengunggah tautan sebuah blog yang memuat video tersebut pada 31 Mei 2021. Akun itu pun menulis narasi dalam bahasa Korea yang jika diterjemahkan berarti:

"Fakta menakjubkan, magnet menempel di lokasi vaksin, terutama jika Anda memiliki bohlam, bohlam dapat menyala. Artinya, ada perangkat dalam vaksin. Jika Anda tidak memiliki perangkat yang bisa berfungsi, mengapa cahaya datang dari bohlam? Microchip memainkan peran itu."

Gambar tangkapan layar unggahan di Facebook yang berisi klaim keliru terkait vaksin Covid-19.

PEMERIKSAAN FAKTA

Untuk memverifikasi klaim tersebut, Tim CekFakta Tempo menelusuri informasi resmi dan pemberitaan terkait di media-media kredibel. Dikutip dari laporan Layanan Kesehatan Inggris atau NHS pada 8 Juni 2021, tidak ada temuan yang melaporkan bahwa vaksin Covid-19 mengandung microchip. "Tidak benar bahwa vaksin Covid-19 mengandung microchip. Tidak ada vaksin yang mengandung itu."

Menurut NHS, tidak mungkin menyuntikkan microchip dengan jarum yang digunakan untuk menyuntikkan vaksin Covid-19. Ukuran microchip terlalu besar, setidaknya 12 milimeter x 2 milimeter termasuk casing, untuk disuntikkan melalui sebuah jarum.

Dikutip dari Science20, kebanyakan microchip RFID (Radio Frequency Identification) terlalu besar untuk dimasukkan ke dalam jarum berukuran normal yang digunakan untuk vaksin. Mungkin saja membuat chip dengan ukuran yang lebih kecil, tapi tidak berguna apabila tidak memiliki antena sebagai penerima sinyal.

Sebuah chip harus memiliki kapasitas yang cukup besar untuk mengambil daya dari gelombang mikro, yang kemudian mengirim kembali sinyal yang cukup kuat sehingga bisa diterima oleh penerima. Chip RFID terkecil yang tersedia secara komersial, lengkap dengan antenanya, hanya dapat terbaca dari jarak milimeter. Sementara chip RFID terkecil yang tidak tersedia secara komersial hanya dapat terbaca dari jarak mikron.

Dikutip dari kantor berita AFP, pejabat Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Korea Selatan juga telah menyatakan bahwa vaksin Covid-19 tidak mengandung microchip, perangkat elektronik, atau apa pun yang dapat menyalakan lampu. 

Menurut Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO, vaksin Covid-19 umumnya hanya mengandung fragmen-fragmen kecil dari organisme penyebab penyakit yang disasar oleh vaksin tersebut. Vaksin juga mengandung bahan-bahan lain yang menjaga keamanan dan efektivitas vaksin. Ada enam jenis bahan yang digunakan untuk pembuatan vaksin Covid-19, yaitu:

  • Antigen, sebuah komponen aktif yang menghasilkan respons imun, atau cetak biru untuk membuat komponen aktif tersebut. Antigen dapat berupa sebagian kecil dari organisme penyebab penyakit, seperti protein atau gula, atau keseluruhan organisme dalam bentuk yang dilemahkan atau diinaktivasi.
  • Pengawet, seperti yang sering banyak digunakan, yaitu 2-fenoksietanol. Pengawet ini telah dipakai selama bertahun-tahun dalam sejumlah vaksin dan beberapa produk perawatan bayi. Bahan itu aman karena hampir tidak memiliki kadar racun bagi manusia.
  • Bahan stabilisator, berupa gula (laktosa, sukrosa), asam amino (glisin), gelatin), dan protein (rekombinan albumin manusia, yang diambil dari ragi). Bahan ini berfungsi untuk mencegah terjadinya reaksi kimia di dalam vaksin dan menjaga agar komponen-komponen vaksin tidak menempel pada ampul vaksin.
  • Surfaktan, sering ditemukan pada makanan seperti es krim. Surfaktan berfungsi untuk mencegah pengendapan dan penggumpalan unsur-unsur yang ada dalam vaksin yang berbentuk cair.
  • Residu, bahan yang meliputi protein telur, ragi, atau antibiotik. Bahan ini digunakan selama pembuatan atau produksi vaksin yang bukan merupakan bahan aktif dalam vaksin jadi.
  • Pelarut, merupakan cairan yang digunakan untuk melarutkan vaksin hingga pada konsentrasi yang sesuai tepat sebelum digunakan. Pelarut yang paling sering digunakan adalah air steril.
  • Adjuvan, berupa garam aluminium (seperti aluminium fosfat, aluminium hidroksida, atau kalium aluminium sulfat) dalam jumlah yang sangat kecil. Aluminium berfungsi untuk meningkatkan respons imun terhadap vaksin, terkadang dengan cara mempertahankan vaksin di lokasi suntikan untuk waktu yang sedikit lebih lama atau menstimulasi sel imun lokal.

KESIMPULAN 

Berdasarkan pemeriksaan fakta Tempo, klaim bahwa vaksin Covid-19 mengandung microchip yang bisa menyalakan lampu, keliru. Pejabat Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Korea Selatan telah menyatakan bahwa vaksin Covid-19 tidak mengandung microchip, perangkat elektronik, atau apa pun yang dapat menyalakan lampu. NHS juga menyatakan tidak mungkin menyuntikkan microchip lewat jarum yang digunakan untuk menyuntikkan vaksin Covid-19, karena ukurannya terlalu besar.

TIM CEK FAKTA TEMPO

Anda punya data/informasi berbeda, kritik, atau masukan untuk artikel cek fakta ini? Kirimkan ke cekfakta@tempo.co.id