Sesat, Klaim Ini Foto Sopir Taksi yang Ditangkap Intelijen AS karena Berwajah Arab dan Dianggap Terlibat 9/11

Senin, 24 Mei 2021 17:57 WIB
 


 
Sesat, Klaim Ini Foto Sopir Taksi yang Ditangkap Intelijen AS karena Berwajah Arab dan Dianggap Terlibat 9/11

Foto yang memperlihatkan seorang pria berjenggot tebal yang memakai baju khas tahanan berwarna oranye beredar di Instagram. Foto tersebut diklaim sebagai foto seorang sopir taksi yang ditangkap oleh intelijen Amerika Serikat karena berwajah Arab dan dianggap terlibat teror 9/11. Menurut klaim itu, pasca serangan gedung World Trade Centre pada 9 September 2001, warga AS menganggap semua orang Islam adalah teroris.

Berikut narasi yang menyertai foto tersebut: "Pasca kejadian 9/11 seluruh Amerika Serikat terjangkit penyakit Islamophobia. Mereka menganggap semua orang muslim adalah teroris yang patut dimusuhi. Setiap orang yang memiliki wajah kearab-araban akan ditangkap dan dianggap sebagai teroris berbahaya. Demikian pula dengan sopir taksi satu ini. Dia ditangkap begitu saja oleh intelijen setempat tanpa mengetahui kesalahannya. Foto tersebut adalah foto terakhir pria ini sebelum akhirnya ia dimasukkan ke ruang introgasi. Dia disiksa sedemikian rupa hingga tewas."

Akun ini mengunggah foto beserta klaim itu pada 20 Mei 2021. Akun tersebut pun menulis narasi sebagai berikut: "Foto ini menjadi bersejarah yang diambil beberapa detik sebelum disiksa. Mungkin foto ini tampak biasa saja, namun efek yang setelah kejadian dalam foto itu berakibat nyawa yang melayang." Hingga artikel ini dimuat, unggahan tersebut telah disukai lebih dari 2.500 kali.

Gambar tangkapan layar unggahan di Instagram yang berisi klaim sesat terkait foto yang diunggahnya.

PEMERIKSAAN FAKTA

Untuk memverifikasi klaim di atas, Tim CekFakta Tempo mula-mula menelusuri foto tersebut dengan reverse image tool Source, Yandex, dan Google. Hasilnya, ditemukan bahwa pria dalam foto tersebut bernama Dilawar. Ia adalah seorang sopir taksi yang ditangkap oleh milisi Afghanistan saat mengantar penumpang. Mereka kemudian diserahkan kepada tentara AS di Camp Salerno, yang saat itu menjadi sasaran serangan roket. Mereka dinyatakan sebagai tersangka dalam serangan roket tersebut.

Foto yang identik pernah dimuat oleh situs Ebaumsworld.com pada 5 Juni 2015 dalam artikelnya yang berjudul “19 Final Photos Taken Before Death”. Foto tersebut diberi keterangan: "Sopir taksi Afghanistan berusia 22 tahun, Dilawar, dituduh secara tidak benar dan dikirim ke penjara Bagram oleh tentara AS. Lima hari setelah foto ini diambil, Dilawar meninggal karena luka-luka yang dideritanya selama penyiksaan."

Foto yang sama juga pernah dimuat oleh situs Clarksvilleonline.com pada 19 Desember 2007 dalam artikelnya yang berjudul “Taxi to the Dark Side details U.S. torture”. Taxi to the Dark Side merupakan sebuah film yang diangkat dari kisah Dilawar.

The New York Times mendapatkan salinan hampir 2 ribu halaman dokumen rahasia investigasi kriminal tentara Angkatan Darat AS berisi kisah kematian brutal Dilawar di pusat penahanan Bagram. The New York Times memperoleh salinan tersebut dari seseorang yang terlibat dalam penyelidikan kasus itu, yang mengkritik metode yang digunakan di Bagram.

Menurut laporan The New York Times, Dilawar tiba di Bagram pada 5 Desember 2002. Empat hari sebelumnya, pada malam hari raya Idul Fitri, Dilawar berangkat dari desa kecilnya di Yakubi, Afghanistan, dengan barang baru yang berharga, sebuah sedan Toyota bekas yang dibelikan oleh keluarganya beberapa minggu sebelumnya untuk dikendarai sebagai taksi.

Pada hari dia menghilang, ibu Dilawar memintanya menjemput ketiga saudara perempuannya dari desa terdekat untuk pulang. Tapi dia membutuhkan uang bensin dan memutuskan pergi ke ibukota provinsi Khost, Afghanistan, sekitar 45 menit untuk mencari ongkos. Di pangkalan taksi, dia menemukan tiga pria yang ingin ke Yakubi. Dalam perjalanan, mereka melewati pangkalan pasukan AS, Camp Salerno, yang pagi itu menjadi sasaran serangan roket.

Milisi Afghanistan yang setia kepada komandan gerilyawan yang menjaga pangkalan tersebut, Jan Baz Khan, menghentikan mobil Dilawar di pos pemeriksaan. Mereka menyita walkie-talkie yang rusak dari salah satu penumpang Dilawar. Di bagasi, mereka juga menemukan penstabil listrik yang digunakan untuk mengatur arus dari generator. (Keluarga Dilawar mengatakan penstabil itu bukan milik mereka, karena mereka tidak memiliki listrik).

Keempat pria tersebut pun ditahan dan diserahkan kepada tentara AS di pangkalan itu sebagai tersangka dalam serangan roket tersebut. Namun, interogator utama Dilawar, Spesialis Glendale C. Walls II, berpendapat bahwa dia terus mengelak. "Beberapa lubang muncul, dan kami ingin dia menjawab dengan jujur," katanya. Interogator lainnya, Sersan Salcedo, mengeluh bahwa narapidana itu tersenyum, tidak menjawab pertanyaan, dan menolak untuk tetap berlutut di tanah atau bersandar di dinding.

Sementara penerjemah yang hadir saat itu, Ahmad Ahmadzai, memiliki pandangan yang berbeda dengan interogator. Para interogator, kata dia, menuduh Dilawar meluncurkan roket yang menghantam pangkalan AS. Dia membantahnya. Para interogator pun berulang kali mendorongnya ke dinding. "Sekitar 10 menit pertama, saya kira, mereka sebenarnya menanyai dia, setelah itu mendorong, menendang, dan meneriakinya. Tidak ada interogasi yang sedang berlangsung," ujar Ahmadzai.

Pada Februari 2003, seorang pejabat militer AS mengungkapkan bahwa komandan gerilyawan Afghanistan yang anak buahnya telah menangkap Dilawar dan penumpangnya telah ditahan. Komandan itu, Jan Baz Khan, dicurigai menyerang Camp Salerno sendiri dan kemudian menyerahkan "tersangka" yang tidak bersalah kepada AS untuk mendapatkan kepercayaan mereka, kata pejabat militer tersebut.

Dilansir dari The Guardian, tentara AS telah melakukan penyiksaan terhadap para tahanan di kamp penjara Bagram yang dikelola di Afghanistan. Tujuh tentara didakwa sehubungan dengan penyiksaan tersebut, di mana The New York Times melaporkan bahwa perlakuan kasar oleh beberapa interogator adalah rutinitas, tahanan dibelenggu dalam posisi tetap yang menyakitkan, dan penjaga dapat menyerang tahanan yang dibelenggu dengan impunitas virtual.

Dokumen militer rahasia yang diperoleh The New York Times menyoroti kematian dalam penahanan Dilawar, seorang sopir taksi berusia 22 tahun yang diyakini oleh sebagian besar interogator tidak bersalah, serta seorang narapidana lainnya, Habibullah. Kedua pria itu meninggal dalam rentang waktu enam hari pada Desember 2002.

Juru bicara Pentagon Letnan Kolonel John Skinner mengatakan dokumen militer rahasia tersebut menunjukkan betapa seriusnya militer AS mempertimbangkan tuduhan penyiksaan. "Setiap insiden tidak dapat diterima, dan ketika ada tuduhan, kami menyelidikinya," katanya. Ia juga menambahkan bahwa 28 orang terlibat dalam laporan itu dan tujuh orang didakwa. "Roda keadilan sedang berputar, sebagaimana mestinya."

Skinner mengatakan, saat ini, ada lebih dari 10 jalur penyelidikan utama yang menginvestigasi seluruh aspek penahanan, di samping peningkatan pengawasan, peningkatan pelatihan, dan peningkatan fasilitas. Terlepas dari perbaikan itu, kebijakannya sejak awal adalah perlakuan yang manusiawi terhadap tahanan. "99,99 persen anggota militer kami menjunjung standar setiap hari dalam situasi yang sulit dan berbahaya," katanya. Jika tidak, ujarnya, akan ada konsekuensi.

KESIMPULAN

Berdasarkan pemeriksaan fakta Tempo, klaim bahwa foto tersebut menunjukkan sopir taksi yang ditangkap oleh intelijen AS karena berwajah Arab dan dianggap terlibat teror 9/11, menyesatkan. Pria dalam foto itu bernama Dilawar. Dalam dokumen rahasia yang diungkap oleh The New York Times, Dilawar merupakan korban salah tangkap yang mengalami penyiksaan hingga tewas di kompleks penjara Bagram, Afganistan, pada 2002. Dilawar ditangkap oleh milisi Afganistan bersama ketiga penumpangnya, lalu diserahkan ke pangkalan pasukan AS, Camp Salerno, karena dituduh sebagai pelaku serangan roket terhadap pangkalan tersebut.

TIM CEK FAKTA TEMPO

Anda punya data/informasi berbeda, kritik, atau masukan untuk artikel cek fakta ini? Kirimkan ke cekfakta@tempo.co.id


 


  •  

    Selengkapnya