Sesat, Warga Malaysia Antri Menginap di Stadion Shah Alam karena Positif Covid-19

Rabu, 19 Mei 2021 12:55 WIB
 


 
Sesat, Warga Malaysia Antri Menginap di Stadion Shah Alam karena Positif Covid-19

Video yang diklaim menunjukkan antrian warga Malaysia yang ingin menginap di Stadion Shah Alam karena positif Covid-19 beredar di WhatsApp sejak 17 Mei 2021. "Warga Malaysia antri nginep di stadion shah alam...semua positif covid 19... ngerii x..." demikian narasi yang menyertai video itu.

Dalam video tersebut, tampak antrian panjang ratusan orang yang memasuki sebuah gedung stadion. Banyak di antara mereka yang membawa tas ransel, bahkan koper. Terlihat pula sejumlah petugas kesehatan yang memakai pakaian hazmat lengkap dengan masker dan faceshield.

Beberapa gambar tangkapan layar video yang disebarkan dengan klaim keliru. Video ini bukan video antrian warga Malaysia yang ingin menginap di Stadion Shah Alam karena positif Covid-19.

PEMERIKSAAN FAKTA

Berdasarkan penelusuran Tim CekFakta Tempo, antrian yang terlihat dalam video tersebut memang terjadi di Shah Alam, Malaysia, tepatnya di Stadion Malawati. Namun, mereka mengantri bukan untuk menginap di stadion tersebut, tapi hanya untuk menjalani pemeriksaan Covid-19.

Untuk memverifikasi klaim tersebut, Tempo menelusuri jejak digital video itu dengan memasukkan kata kunci “Covid-19 di Stadion Shah Alam” di mesin pencari Google dan platform video YouTube. Lewat cara ini, ditemukan sejumlah berita dari media Malaysia yang menyebut bahwa Stadion Malawati menjadi tempat pemeriksaan kesehatan bagi pasien positif Covid-19.

Kanal YouTube milik Sinar Harapan mempublikasikan video berdurasi sekitar 3 menit pada 9 Februari 2021 yang menjelaskan tentang Pusat Penilaian Covid-19 (CAC) yang beroperasi di Stadium Malawati, Shah Alam, Malaysia. CAC berfungsi sebagai tempat untuk memeriksa kondisi kesehatan warga yang dinyatakan positif Covid-19.

Dalam video ini, terlihat bentuk bangunan stadion serta warna lantai dan warna kursi yang sama dengan yang tampak dalam video yang beredar di WhatsApp.

Gambar tangkapan layar video yang beredar di WhatsApp (kiri) dan gambar tangkapan layar video milik media Malaysia, Sinar Harapan (kanan).

Sejumlah media lain di Malaysia pun telah membantah klaim yang menyertai video yang viral itu, bahwa mereka yang mengantri adalah pasien yang akan menginap di stadion tersebut. Dikutip dari Harian Metro, Pusat Kesiapsiagaan dan Tindakan Cepat Krisis (CPRC) Selangor mengatakan bahwa video yang viral itu menunjukkan antrian warga yang akan menjalani penilaian kesehatan di CAC Stadion Melawati, Shah Alam.

Mereka menjalani asesmen yang dilakukan oleh para tenaga kesehatan terkait apakah harus menjalani perawatan di rumah sakit, masuk ke pusat karantina, atau cukup hanya menjalani isolasi di rumah. Jabatan Kesihatan Negeri (JKN) Selangor menjelaskan CAC ini dioperasikan seiring dengan melonjaknya kasus Covid-19 di sana. Antrian terjadi karena warga harus menjalani rapid test terlebih dahulu untuk penapisan (screening).

Dikutip dari kantor berita Malaysia, Bernama, dokter kesehatan masyarakat Dinas Kesehatan Petaling, Faridah Amin, juga menjelaskan bahwa Stadion Malawati tidak digunakan sebagai pusat karantina atau isolasi pasien Covid-19, melainkan hanya sebagai Pusat Penilaian Covid-19.

“Pasien positif Covid-19 dinilai kesehatannya dan tergantung kondisi setiap orang, apakah akan menjalani isolasi di rumah, di Pusat Karantina dan Pusat Perawatan Risiko Rendah (PKRC) di Malaysia Agro Exposition Park di Serdang, atau harus dirawat di rumah sakit,” katanya.

KESIMPULAN

Berdasarkan pemeriksaan fakta Tempo, klaim bahwa warga Malaysia antri menginap di Stadion Shah Alam karena positif Covid-19, menyesatkan. Video yang digunakan untuk menyebarkan klaim tersebut memang menunjukkan warga yang mengantri di stadion itu. Namun, mereka mengantri hanya untuk menjalani pemeriksaan Covid-19, bukan untuk menginap. Stadion Malawati yang berada di Shah Alam tersebut bukan pusat karantina atau isolasi bagi pasien Covid-19, melainkan menjadi Pusat Penilaian Covid-19.

TIM CEK FAKTA TEMPO

Anda punya data/informasi berbeda, kritik, atau masukan untuk artikel cek fakta ini? Kirimkan ke cekfakta@tempo.co.id


 


  •  

    Selengkapnya