[Fakta atau Hoax] Benarkah Impor Beras di Era Jokowi Meningkat?

Senin, 25 Februari 2019 12:48 WIB
 
[Fakta atau Hoax] Benarkah Impor Beras di Era Jokowi Meningkat?

Website islampos.com menurunkan artikel berjudul “Jokowi Sebut Impor Beras Turun, Faktanya Naik 2,5 Kali Lipat” pada 20 Februari 2019 

Menurut data Facebook, artikel itu telah dibagikan 1,7 ribu kali hingga 22 Februari 2019. Artikel itu berisi pernyataan Guru Besar Ekonomi Pertanian Universitas Lampung, Bustanul Arifin.

Pada bagian awal pernyataannya, dia menyebut angka impor beras memang turun sejak 2014. Namun, menurut Bustanul, impor beras Indonesia sejak 2015 hingga 2018 ternyata melonjak 160 persen atau lebih dari 2,5 kali lipat. Islampos menyebutkan bahwa artikel itu bersumber dari TEMPO.

Benarkah TEMPO pernah menerbitkan artikel itu? Dan benarkah impor beras meningkat 2,5 kali lipat sejak 2015?

Ilustrasi klaim di media sosial soal impor beras.
 
HASIL PERIKSA FAKTA
Hasil penelusuran kami menunjukkan bahwa benar ada berita yang berasal dari TEMPO berjudul “Impor Beras Naik 2,5 Kali Lipat, Jokowi Justru Bilang Turun” yang terbit pada 19 Februari 2019.  

Meski judul berita itu diubah situs islampos.com menjadi "Jokowi Sebut Impor Beras Turun, Faktanya Naik 2,5 Kali Lipat”,  isi beritanya sama dengan yang diterbitkan oleh TEMPO.

Mengenai isu impor beras sendiri, berdasarkan laman Badan Pusat Statistik, Indonesia mengimpor beras sejak tahun 2000. Impor tersebut berasal dari sedikitnya 9 negara yakni Vietnam, Thailand, Tiongkok, India, Pakistan, Amerika Serikat, Taiwan, Singapura, Myanmar dan lainnya.

Data BPS menunjukkan jumlah impor beras tahun 2015 sebanyak 861,6 ribu ton senilai US$ 351,60 juta, tahun 2016 sebesar 1,28 juta ton senilai US$ 531,84 juta dan 2017 sebesar 305,3 ribu ton senilai US$ 143,64 juta. 

Sedangkan data impor 2018 yakni sebesar 2,25 juta ton dengan nilai US$ 1,03 miliar. Angka impor 2018 itu adalah yang terbesar kedua setelah 2011 dibandingkan periode sebelumnya sejak tahun 2000.
Dengan demikian total impor beras sejak 2015-2018 sebesar 4,7 juta ton. Sedangkan impor 2014 gabungan di era Susilo Bambang Yudhoyono dan di awal pemerintahan Jokowi mencapai 844.163,7 ton.

Jika dibandingkan dengan jumlah impor 2010-2013, maka impor 2015-2018 di era Jokowi sebenarnya lebih kecil. Sebab total impor tahun 2010-2013 mencapai 5,7 ton. 

Rinciannya: impor 2010 sebanyak 687.581,5 ton, tahun 2011 sebanyak 2.750.476,2 ton, tahun 2012 sebesar 1.810.372,3 ton dan pada 2013 sebanyak 472.664,7 ton.

 

  •