Keliru, Klaim Bom Gereja Katedral Makassar Diledakkan dengan Remote Jarak Jauh

Senin, 5 April 2021 14:46 WIB
 


 
Keliru, Klaim Bom Gereja Katedral Makassar Diledakkan dengan Remote Jarak Jauh

Gambar tangkapan layar sebuah pesan WhatsApp yang berisi klaim bahwa bom Gereja Katedral Makassar diledakkan dengan remote control dari jarak jauh beredar di Facebook. Menurut pesan itu, pengeboman di Gereja Katedral Makassar pada 28 Maret 2021 tersebut persis dengan pengeboman yang terjadi di Surabaya pada 2018 silam.

"Sandiwara rezim PKI dg mengorbankan org Islam persis yg terjd di Surabaya Tempo dulu. Korban disuruh antar barang di gereja sebelum masuk gereja BOM diledakkan lewat remot kendali jarak jauh. PKI ingin memframing PD publik bhw Islam teroris. Hati2 jika ada seseorang yg menyuruh kita minta kirimkan barang ke gereja. Bisa didlm barangnya terisi bom kendali jarak jauh jd itu strategi PKI utk menghancurkan islam," demikian bunyi pesan itu.

Akun ini membagikan gambar tersebut pada 28 Maret 2021. Akun itu menulis, "Benarkah? Tanya..." Hingga artikel ini dimuat, unggahan tersebut telah mendapatkan lebih dari 500 reaksi dan 189 komentar serta dibagikan lebih dari 200 kali.

Gambar tangkapan layar unggahan di Facebook yang berisi klaim keliru terkait bom yang meledak di Gereja Katedral Makassar pada 28 Maret 2021.

PEMERIKSAAN FAKTA

Untuk memverifikasi klaim tersebut, Tim CekFakta Tempo menelusuri berbagai pemberitaan terkait dari media-media kredibel. Dilansir dari Kompas.com, Kepala Divisi Humas Polri Inspektur Jenderal Argo Yuwono telah membantah informasi yang mengklaim bom di Gereja Katedral Makassar diledakkan dengan remote control dari jarak jauh. "Enggak benar pernyataan tersebut," kata Argo pada 4 April 2021.

Polisi memastikan bom yang meledak di Gereja Katedral Makassar adalah bom bunuh diri. Terdapat dua pelaku yang melakukan aksi ini. Mereka melancarkan aksinya dengan mengendarai motor bernomor polisi DT 5984 MD dan berusaha merangsek ke halaman gereja. Namun, keduanya dicegat oleh petugas keamanan di gerbang gereja. "Pelaku sempat dicegah oleh security gereja tersebut tapi kemudian terjadilah ledakan itu," ujar Argo.

Dikutip dari Detik.com, Kepala Polri Jenderal Listyo Sigit Prabowo mengatakan bom yang meledak di Gereja Katedral Makassar adalah bom panci. Dilansir dari Koran Tempo, Kepala Polda Sulawesi Selatan Inspektur Jenderal Merdisyam menjelaskan bom yang digunakan pelaku memiliki daya ledak tinggi. Bom itu disimpan di dalam wadah panci. Polisi juga menemukan paku-paku yang bertebaran di tengah jalan.

Menurut Listyo, pelaku merupakan bagian dari jaringan yang juga melakukan pengeboman Gereja Katedral Jolo, Filipina, pada 2018. Keduanya adalah bagian dari kelompok Jamaah Ansharud Daulah (JAD) di Sulawesi Selatan. Mereka merupakan bagian dari 20 anggota JAD Sulawesi Selatan yang ditangkap Detasemen Khusus 88 Antiteror (Densus 88) dalam dua bulan terakhir.

Deputi VII Badan Intelijen Negara (BIN) Wawan Hari Purwanto mengatakan aksi bom bunuh diri yang dilakukan oleh pasangan suami-istri di Gereja Katedral Makassar itu adalah upaya balas dendam atas tewasnya mentor mereka pada 6 Januari 2021. "Dia ingin mewujudkan itu, rencana serang sejak Januari diwujudkan oleh dia ini," kata Wawan pada 3 April 2021.

Pada 6 Januari lalu, terjadi penangkapan terhadap 20 anggota JAD. Dua orang di antaranya tewas tertembak. Mereka adalah Moh Rizaldy dan Sanjai Ajis. Menurut Wawan, Rizaldy merupakan mentor dari pasangan suami-istri yang melakukan aksi bom bunuh diri di Gereja Katedral Makassar. Rizaldy juga yang menikahkan keduanya enam bulan lalu. Setelah kedua orang itu tewas, para pengikutnya mengancam bakal menyerang.

Bom Surabaya

Setelah terjadinya ledakan bom di gereja Surabaya pada 13 Mei 2018, beredar klaim bahwa bom-bom tersebut dikontrol dari jarak jauh. Tiga gereja itu adalah Gereja Santa Maria Tak Bercela di Ngagel, Gereja Kristen Indonesia (GKI) Diponegoro, dan Gereja Pantekosta Pusat Surabaya (GPPS) Arjuna.

Namun, menurut Kepala Divisi Humas Polri saat itu, Inspektur Jenderal Setyo Wasisto, rumor ini keliru. Dilansir dari Suara.com, Setyo menyatakan bahwa pelaku, Dita Oepriarto dan istrinya, Puji Kuswati, secara sadar mengajak keempat anaknya untuk melakukan aksi bom bunuh diri di tiga gereja tersebut.

"Bagaimana mungkin pelaku tak sadar saat melakukan aksinya? Bomnya kan diikat di badan semua. Pelaku semuanya melakukan itu secara sadar dan sudah disiapkan," kata Setyo pada 18 Mei 2018. Sebagai penguat, Setyo mengungkap keterangan ketua RT di lingkungan rumah keluarga Dita soal keganjilan perilaku dua anak Dita sehari sebelum aksi bom Surabaya.

"Ada keterangan Pak RT yang mengatakan, satu hari sebelum kejadian, yakni Sabtu (12 Mei 2018), malam Minggu, dia melihat dua anak pelaku salat di musala. Kedua anak itu terlihat saling menangisi. Ada apa itu? Kemungkinan besar mereka tahu besoknya akan melakukan amaliah (teror)," kata Setyo.

Kapolri saat itu, Jenderal Tito Karnavian, juga telah menjelaskan jenis bom yang digunakan oleh Dita dan keluarganya. Dilansir dari Detik.com, jenis bom tersebut berbeda-beda. Bom yang meledak di Gereka Santa Maria Tak bercela dibawa oleh kedua anak Dita di dalam tas.

Bom yang meledak di GKI Diponegoro, yang dibawa oleh istri Dita, disematkan di ikat pinggangnya. Sementara bom yang meledak di GPPS Arjuna, yang berdaya eksplosif tinggi, dibawa oleh Dita dengan mobil. "Yang dengan (Toyota) Avanza di Arjuna itu menggunakan bom yang diletakkan dalam kendaraan, setelah itu ditabrak. Ini ledakan terbesar dari tiga (lokasi)," ujar Tito.

Bom Medan oleh pelaku berjaket ojol

Usai meledaknya bom di Polrestabes Medan pada 13 November 2019, beredar pula klaim bahwa bom tersebut merupakan paket yang dikirim dengan jasa ojek online (ojol). "Info bukan bom bunuh diri, tapi driver Gojek dapat orderan barang ke polrestabes. Sampai sana, barang yang dibawa meledak. Jadi, driver Gojek yang jadi korban," demikian isi pesan berantai di WhatsApp ketika itu.

Tim CekFakta Tempo telah memverifikasi klaim tersebut pada 14 November 2019, dan menyatakannya keliru. Polri memastikan bahwa ledakan di Polrestabes Medan itu adalah aksi bom bunuh diri oleh pria bernama Rabbial Muslim, warga Sei Putih Barat, Medan Petisah.

Usai kejadian bom Medan ini, polisi menangkap istri Rabbial yang berinisial DA. Kepala Biro Penerangan Masyarakat Polri saat itu, Brigadir Jenderal Dedi Prasetyo, mengatakan bahwa DA diduga terpapar paham radikalisme terlebih dulu sebelum sang suami. DA rutin berkomunikasi dengan seorang narapidana teroris berinisial I yang sedang berada tahanan. DA juga rutin mengunjungi I. Bahkan, keduanya sudah berencana untuk melakukan aksi di Bali.

Selain itu, dikutip dari Detik.com, berdasarkan pengusutan Satuan Tugas (Satgas) Grab di Medan, Rabbial adalah mantan pengemudi ojol Grab. Menurut Ketua Garda Regional Sumatera Utara, Joko Pitoyo, Rabbial sudah putus mitra dengan Grab sejak November 2018. "Di Gojek, beliau tidak pernah terdaftar," kata Joko pada 13 November 2019.

Sementara menurut Dedi, Rabbial datang ke Polrestabes Medan bukan untuk mengantar barang. Dia berujar bahwa petugas yang berjaga di pos pengamanan Polrestabes Medan sempat memeriksa Rabbial. "Petugas tanyakan apa keperluannya, pelaku mengaku akan membuat SKCK," katanya.

Saat itu, petugas juga menggeledah tas yang dibawa Rabbial, tapi hanya menemukan sebuah buku. Rabbial pun diminta melepas jaket, tapi ia malah bergeser ke arah kerumunan orang. Bom itu, kata Dedi, meledak 30-40 meter dari pos pengamanan. Ketika itu, Rabbial belum sampai di tempat pembuatan SKCK.

KESIMPULAN

Berdasarkan pemeriksaan fakta Tempo, klaim bahwa bom Gereja Katedral Makassar diledakkan dengan remote control dari jarak jauh, keliru. Polisi telah membantah klaim itu, dan menyatakan bahwa bom yang meledak di Gereja Katedral Makassar adalah bom bunuh diri. Bom itu berjenis bom panci. Terkait bom yang meledak di tiga gereja di Surabaya pada 2018 silam, bom yang digunakan juga tidak dikontrol dari jarak jauh. Bom yang meledak di Gereka Santa Maria Tak bercela dibawa di dalam tas. Bom yang meledak di GKI Diponegoro disematkan di ikat pinggang. Sementara bom yang meledak di GPPS Arjuna dibawa dengan mobil yang kemudian ditabrakkan.

TIM CEK FAKTA TEMPO

Anda punya data/informasi berbeda, kritik, atau masukan untuk artikel cek fakta ini? Kirimkan ke cekfakta@tempo.co.id


 


  •  

    Selengkapnya