Keliru, Foto Bekas Luka di Punggung Warga Zimbabwe yang Diklaim Akibat Vaksin Cina

Kamis, 26 November 2020 14:33 WIB

Keliru, Foto Bekas Luka di Punggung Warga Zimbabwe yang Diklaim Akibat Vaksin Cina

KLAIM

Foto yang memperlihatkan punggung orang berkulit hitam yang dipenuhi dengan bekas luka yang menonjol beredar di Facebook. Foto tersebut diklaim sebagai foto warga Zimbabwe yang terkena penyakit kulit setelah menerima suntikan vaksin dari Cina. Disebut pula bahwa Zimbabwe merupakan negara yang dikasai oleh Cina, di mata uangnya adalah mata uang Cina.

Salah satu akun yang membagikan foto beserta klaim itu adalah akun Yuni Agustin, tepatnya pada 20 November 2020. Akun ini menulis, “Akibat Suntik Vaksin dari Cina , Masyarakat Zimbabwe Terkena Penyakit Kulit Ber Air. NEGARA ZIMBABWE , adalah Negara yang di Kuasai sama Negara Tiongkok ( Cina Komunis) , Mata Uang Negara Zimbabwe , Memakai Mata Uang yang Syah adalah Mata Uang Cina = Yuan..!!! Kemungkinan Besar Negara Indonesia Bisa Terjadi Seperti Zimbabwe...!!!"

Gambar tangkapan layar unggahan akun Facebook Yuni Agustin.

PEMERIKSAAN FAKTA

Berdasarkan verifikasi Tim CekFakta Tempo, pada akhir 2015, Zimbabwe memang memasukkan mata uang Cina, Yuan, sebagai salah satu mata uang resmi negaranya. Namun, penggunaan Yuan di Zimbabwe ini tidak terkait dengan foto orang berkulit hitam dengan sejumlah bekas luka di punggung dalam unggahan akun Yuni Agustin. Pasalnya, foto tersebut bukan diambil di Zimbabwe, melainkan di Ethiopia. Luka di punggung orang tersebut juga bukan karena vaksin dari Cina, melainkan karena bekas cambuk dalam tradisi Ukuli Bula pada suku Hamar di Ethiopia.

Untuk memeriksa klaim di atas, Tempo menelusuri foto unggahan akun Yuni Agustin dengan reverse image tool Google. Hasilnya, ditemukan bahwa foto itu adalah karya fotografer Jeremy Hunter. Foto ini pernah dimuat dalam artikel di situs stasiun televisi berita berbahasa Inggris milik China Central Television, CGTN, pada 11 Mei 2017 yang berjudul "Brutal tribal ceremony in Ethiopia sees females lashed to demonstrate dedication to their men".

Menurut artikel itu, untuk menunjukkan cintanya kepada seorang laki-laki, perempuan suku Hamar di Ethiopia menggelar tradisi Ukuli Bula. Dalam tradisi ini, si perempuan akan dicambuk sebagai bukti pengorbanan. Setelah dicambuk, para gadis dengan bangga memamerkan bekas luka mereka sebagai bukti keberanian dan integritas. Suku ini percaya, semakin banyak mendapatkan luka, gadis itu layak dicintai. Setelah menggelar tradisi itu, si laki-laki kemudian diizinkan untuk menikah, karena upacara tersebut membuatnya menjadi seorang laki-laki.

Vaksin tidak menyebabkan eksim kulit

Dilansir dari situs resmi Departemen Kesehatan dan Layanan Masyarakat Amerika Serikat (HHS), setelah divaksin, kebanyakan orang menerima efek samping yang tidak serius. Efek samping yang paling umum adalah nyeri pada bagian yang disuntik, demam ringan, panas-dingin, lelah, sakit kepala, atau nyeri otot dan sendi yang bakal hilang dengan sendirinya. Yang perlu diingat, efek samping tersebut muncul sebagai tanda bahwa tubuh mulai membangun kekebalan (perlindungan) terhadap suatu penyakit.

Asosiasi Ahli Kulit AS juga menyatakan vaksin tidak menyebabkan penyakit kulit seperti eksim yang ditandai dengan munculnya ruam memerah. Bahkan, mereka menyarankan orang yang memiliki eksim harus mendapatkan vaksinasi. Namun, jika penderita eksim punya reaksi alergi yang ekstrem terhadap telur, ia harus berkonsultasi dengan dokter terkait alternatif untuk vaksin campak, gondok, dan rubella (MMR) serta vaksin influenza.

KESIMPULAN

Berdasarkan pemeriksaan fakta Tempo, klaim bahwa foto di atas adalah "foto bekas luka di punggung warga Zimbabwe akibat vaksin Cina" keliru. Foto tersebut tidak memperlihatkan warga Zimbabwe, melainkan warga Ethiopia. Bekas luka di punggung warga Ethiopia dalam foto itu pun bukan disebabkan oleh vaksin dari Cina, melainkan bekas cambuk dalam tradisi Ukuli Bula pada suku Hamar di Ethiopia.

IKA NINGTYAS

Anda punya data/informasi berbeda, kritik, atau masukan untuk artikel cek fakta ini? Kirimkan ke cekfakta@tempo.co.id