[Fakta atau Hoaks] Benarkah WHO Sebut Covid-19 Tak Lebih Berbahaya dari Flu?

Rabu, 21 Oktober 2020 13:49 WIB
 
[Fakta atau Hoaks] Benarkah WHO Sebut Covid-19 Tak Lebih Berbahaya dari Flu?

Klaim bahwa Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO telah mengkonfirmasi Covid-19 tidak lebih berbahaya dari flu beredar di media sosial. Di Facebook, klaim tersebut dibagikan salah satunya oleh akun Denpasar Info, tepatnya pada 18 Oktober 2020.

"UPDATE! WHO KONFIRMASI BAHWA COVID TIDAK LEBIH BERBAHAYA DARU VIRUS FLU! WHO atau organisasi kesehatan dunia mengkonfirmasi setelah dilakukan study berbulan - bulan mengatakan bahwa virus covid19 tidak lebih berbahaya daripada penyakit flu yang bersifat musiman. Hal ini disampaikan petinggi WHO saat melakukan rapat khusus dengan 34 dewan eksekutif WHO Senin, 5 Oktober 2020," demikian narasi yang ditulis oleh akun Denpasar Info.

Informasi tersebut dicuplik dari artikel di situs Blacklisted News yang terbit pada 8 Oktober 2020. Artikel yang berjudul “WHO (accidentally) Confirms Covid is No More Dangerous Than Flu” ini mengutip pernyataan Michael Ryan, Direktur Eksekutif Keadaan Darurat Kesehatan WHO, dalam sesi khusus bersama 34 anggota dewan eksekutif WHO pada 5 Oktober 2020.

Ketika itu, Ryan mengungkapkan keyakinannya bahwa sekitar 10 persen warga dunia telah terinfeksi SARS-CoV-2, virus Corona penyebab Covid-19. Ini adalah “perkiraan terbaik” mereka, dan merupakan peningkatan yang sangat besar dari jumlah kasus yang diakui secara resmi (sekitar 35 juta).

“Meskipun WHO berusaha menganggap ini sebagai hal yang buruk, Ryan bahkan mengatakan 'sebagian besar warga dunia masih berisiko', ini sebenarnya kabar baik. Dan menegaskan, sekali lagi, bahwa virus ini tidak mematikan seperti yang diperkirakan semua orang,” demikian narasi yang ditulis dalam artikel tersebut.

Gambar tangkapan layar unggahan akun Facebook Denpasar Info.

Apa benar WHO menyebut Covid-19 tidak lebih berbahaya atau mematikan ketimbang flu?

PEMERIKSAAN FAKTA

Berdasarkan verifikasi Tim CekFakta Tempo, WHO tidak pernah menyatakan bahwa Covid-19 tidak lebih berbahaya dibanding flu. Klaim dalam artikel Blacklisted News tidak sesuai dengan apa yang disampikan oleh Michael Ryan dalam sesi khusus bersama 34 anggota dewan eksekutif WHO pada 5 Oktober 2020. Ketika itu, Ryan justru menjelaskan bahwa Covid-19 terus menyebar dan meningkat di berbagai belahan bumi. WHO pun memperkirakan sekitar 10 persen populasi global telah terinfeksi SARS-CoV-2.

Untuk memeriksa klaim dalam artikel Blacklisted News, Tempo mula-mula menelusuri situs resmi WHO. Namun, informasi bahwa "Covid-19 tidak lebih berbahaya dari flu" tidak ditemukan dalam situs itu. Padahal, WHO selalu memuat seluruh perkembangan terbaru mengenai Covid-19 di situs resminya.

Tempo kemudian membandingkan isi artikel Blacklisted News tersebut dengan pemberitaan media asing kredibel. Dalam berita Associated Press yang berjudul "WHO: 10% of world’s people may have been infected with virus", terdapat pernyataan Michael Ryan dalam forum bersama 34 anggota dewan eksekutif WHO pada 5 Oktober 2020.

Namun, dalam berita tersebut, Ryan sama sekali tidak menyatakan bahwa Covid-19 tidak lebih berbahaya dari flu. Justru, dalam paragraf kelima dan keenam berita itu, Ryan justru memperingatkan bahwa Covid-19 terus menyebar dan meningkat di berbagai wilayah di dunia. WHO pun memperkirakan sekitar 10 persen populasi global mungkin telah terinfeksi SARS-CoV-2.

Artinya, dari jumlah populasi global yang mencapai 7,6 miliar, terdapat lebih dari 760 juta orang yang telah terkena Covid-19. Angka ini jauh melampaui jumlah kasus Covid-19 yang terkonfirmasi, baik yang dihitung oleh WHO dan maupun John Hopkins University, yang mencapai lebih dari 35 juta orang. Sejak lama, para ahli telah mengatakan bahwa jumlah kasus yang terkonfirmasi jauh di bawah angka sebenarnya.

Video yang memuat pernyataan Ryan tersebut juga pernah dimuat oleh CGTN, saluran televisi berita berbahasa Inggris yang dimiliki oleh China Central Television, pada 5 Oktober 2020. Isi pernyataan Ryan dalam video ini sama dengan yang dikutip oleh Associated Press.

“Berbicara dalam sesi khusus dewan eksekutif WHO yang diadakan pada 5 Oktober, Michael Ryan, Direktur Eksekutif Keadaan Darurat Kesehatan WHO, mengatakan "perkiraan terbaik" mereka menunjukkan, sejauh ini, kira-kira satu dari 10 orang di seluruh dunia mungkin telah terinfeksi oleh virus Corona, melebihi jumlah kasus yang terkonfirmasi sebagaimana yang dihitung oleh WHO dan John Hopkins University.”

Menurut Media Bias/Fact Check (MBFC), media online independen yang fokus pada bias media dan praktik berita palsu, Blacklisted News tergolong dalam kategori Conspiracy-Pseudoscience. Artinya, situs tersebut bisa menerbitkan informasi yang tidak terverifikasi dan tidak selalu didukung oleh bukti. Sumber ini mungkin tidak dapat dipercaya sebagai sumber informasi yang kredibel atau terverifikasi.

Jumlah kematian Covid-19 vs flu

WHO melansir tingkat kematian Covid-19 lebih tinggi daripada influenza, terutama influenza musiman, meskipun tingkat kematian Covid-19 yang sebenarnya masih perlu waktu untuk dipahami sepenuhnya. Sejauh ini, data WHO menunjukkan rasio kematian kasar (jumlah kematian yang dilaporkan dibanding kasus yang dilaporkan) adalah sekitar 3-4 persen. Sedangkan influenza musiman, angka kematian di bawah 0,1 persen. Kematian pun sebagian besar ditentukan oleh akses dan kualitas perawatan kesehatan.

Laporan John Hopkins University menyebut kematian akibat Covid-19 di seluruh dunia mencapai 1.118.635 orang. Sementara di Amerika Serikat, sebanyak 220.133 orang telah meninggal karena Covid-19 sepanjang Januari hingga 20 Oktober 2020. Sedangkan kematian karena flu di seluruh dunia, menurut WHO, diperkirakan sekitar 290 ribu-650 ribu orang setiap tahun.

KESIMPULAN

Berdasarkan pemeriksaan fakta Tempo, klaim bahwa "WHO mengkonfirmasi Covid-19 tidak lebih mematikan dari flu" keliru. Klaim tersebut berasal dari situs Blacklisted News yang termasuk dalam kategori tidak kredibel. Situs Blacklisted News pun, dalam artikelnya, telah memutarbalikkan pernyataan Michael Ryan, Direktur Eksekutif Keadaan Darurat Kesehatan WHO, pada 5 Oktober 2020.

IKA NINGTYAS

Anda punya data/informasi berbeda, kritik, atau masukan untuk artikel cek fakta ini? Kirimkan ke cekfakta@tempo.co.id



  •  

    Selengkapnya