[Fakta atau Hoaks] Benarkah Ini Foto Anggota PKI yang Telah Dipersenjatai?

Selasa, 6 Oktober 2020 18:07 WIB
 
[Fakta atau Hoaks] Benarkah Ini Foto Anggota PKI yang Telah Dipersenjatai?

Foto yang memperlihatkan belasan orang mengenakan penutup wajah bergambar palu arit dan sedang mengangkat senjata beredar di media sosial. Di belakang belasan orang itu, berkibar pula bendera merah bergambar palu arit. Foto ini diklaim sebagai foto para anggota Partai Komunis Indonesia atau PKI.

Di Facebook, foto tersebut dibagikan salah satunya oleh akun Atira Atira, yakni pada 4 Oktober 2020. Akun ini pun menulis narasi, “Betulkah PKI tidak ada ??? Lalu siapa mereka ini yg bersenjata dgn lambang PKI ???” Hingga artikel ini dimuat, unggahan itu telah dibagikan sebanyak 262 kali.

Gambar tangkapan layar unggahan akun Facebook Atira Atira.

Apa benar orang-orang dalam foto tersebut merupakan anggota PKI yang telah dipersenjatai?

PEMERIKSAAN FAKTA

Untuk memverifikasi klaim di atas, Tim CekFakta Tempo mula-mula menelusuri jejak digital foto tersebut dengan reverse image tool Yandex dan Google. Hasilnya, ditemukan informasi bahwa belasan orang bersenjata dengan atribut palu arit dalam foto tersebut merupakan gerilyawan New People's Army (NPA), sayap bersenjata Partai Komunis Filipina (CPP).

Foto ini pernah diunggah oleh blog Jatibarang Blogger pada Oktober 2017. Selain foto itu, dimuat pula sejumlah foto lain yang diambil dari kegiatan dan lokasi yang sama. Dalam keterangannya, blog ini menulis bahwa foto-foto itu diambil di Filipina.

Tempo kemudian menelusuri foto lain yang dimuat oleh blog itu, dan menemukan bahwa foto tersebut pernah dimuat oleh media independen yang berbasis di Brasil, Renovamidia, pada 28 November 2018. Foto ini terdapat dalam berita yang berjudul "Duterte ingin membentuk pasukan untuk membunuh gerilyawan komunis".

Berita ini berisi informasi bahwa ancaman Presiden Filipina Rodrigo Duterte membentuk pasukan khusus untuk melawan gerilyawan Maois dari NPA menuai banyak kecaman. Kritikan tersebut antara lain disuarakan oleh anggota CPP, anggota parlemen, kelompok kiri, serta pembela hak asasi manusia.

Pada 27 November 2018, kepada para tentara Filipina, Duterte berkata, "Saya mungkin terpaksa membuat unit 'Sparrow' saya sendiri, pasukan kematian Duterte, untuk mengakhiri para pembunuh Maois ini." Sparrow merujuk pada milisi yang dibentuk oleh NPA selama masa pemerintahan Presiden Ferdinand Marcos (1965-1986) untuk membunuh para penegak hukum.

"Saya akan mencari orang-orang dengan bakat yang sama untuk membunuh," kata Duterte, yang mengklaim bahwa dia telah mencoba melakukan dialog secara damai dengan NPA, tapi mereka menanggapinya dengan membunuh para polisi dan personel militer.

Salah satu foto yang terdapat dalam blog Jatibarang Blogger pun pernah dimuat oleh The New York Times pada 29 November 2017. Foto itu diberi keterangan: "Para pejuang NPA, pasukan komunis, menandai ulang tahun mereka yang ke-48 di bulan April. Pemberontakan Filipina adalah salah satu yang terlama di Asia. Dondi Tawatao/Getty Images."

Berdasarkan arsip berita Tempo, pada Februari 2017, CPP sempat mengungkapkan rasa kecewanya terhadap pemerintahan Duterte yang dianggap ingkar janji. Sudah tujuh bulan menjabat sebagai presiden, Duterte belum memenuhi janji-janji kampanyenya. Alhasil, gencatan senjata yang dibuat sejak 26 Agustus 2016 dihentikan secara sepihak oleh CPP. Perang gerilya pun kembali dilakukan.

Bagaimana sebenarnya sejarah lahirnya CPP yang dikenal dengan perang gerilyanya ini? CPP mendasarkan gerakan mereka pada paham Maoisme, yakni paham yang berasal dari ajaran pemimpin komunis Cina, Mao Zedong, yang berakar pada Marxisme. CPP telah dibentuk sejak lama, bahkan sebelum Filipina merdeka.

CPP awalnya dibentuk untuk melawan invasi Jepang dalam Perang Dunia II. Namun, setelah Filipina mendapat kemerdekaan dari Amerika Serikat, kelompok kiri itu kian tersudut, bahkan terancam dibasmi. Sejak itu, mereka terus bergerilya di daerah-daerah pinggiran dan hutan untuk memberontak.

Pada Desember 1968, bersamaan dengan ulang tahun pemimpin revolusi Cina, Mao Zedong, CPP yang tidak terorganisir secara baik kembali dibentuk. CPP kemudian bertahan hingga kini di bawah pimpinan Jose Maria Sison. Dalam mendukung gerakannya, CPP mendirikan sayap militer yang disebut New People's Army pada 1969, tiga bulan setelah Sison mendirikan CPP.

Sejak itu, CPP dan NPA terus melakukan pergerakan untuk melawan pemerintah Filipina yang dituduh telah dikendalikan oleh AS. Kekuatan NPA bertambah besar setelah Ferdinand Marcos berkuasa dan memberlakukan darurat militer di Filipina pada 1972. NPA kemudian mendirikan kamp di hutan-hutan dan meluncurkan serangan yang menargetkan militer dan polisi serta pasukan AS.

Selama pemberontakannya, tercatat sebanyak 150 ribu orang, baik dari militer, polisi, NPA, dan warga sipil tewas. Pemberontakan yang membuat Sison ditangkap tersebut dikatakan sebagai penghambat laju pertumbuhan ekonomi Filipina. CPP sempat berjaya setelah berhasil memboikot pemilu pada 1986 dan menggulingkan Marcos. Kekuasaan Filipina kemudian berpindah ke tangan Presiden Corazon Aquino.

KESIMPULAN

Berdasarkan pemeriksaan fakta Tempo, kalim bahwa foto di atas merupakan foto anggota Partai Komunis Indonesia atau PKI yang telah dipersenjatai, keliru. Belasan orang bersenjata dengan atribut bergambar palu arit dalam foto tersebut merupakan gerilyawan New People's Army (NPA), sayap bersenjata Partai Komunis Filipina (CPP).

ZAINAL ISHAQ

Anda punya data/informasi berbeda, kritik atau masukan untuk artikel cek fakta ini? Kirimkan ke cekfakta@tempo.co.id



  •  

    Selengkapnya