[Fakta atau Hoaks] Benarkah Pemuda NU Ini Salat Berjamaah di Tempat Ibadah Umat Katolik?

Jumat, 14 Agustus 2020 11:51 WIB
 
[Fakta atau Hoaks] Benarkah Pemuda NU Ini Salat Berjamaah di Tempat Ibadah Umat Katolik?

Akun Facebook Munzirin mengunggah foto yang memperlihatkan belasan pemuda yang sedang salat berjamaah di sebuah ruangan. Di dinding belakang para pemuda yang mengenakan jaket berlogo Nahdlatul Ulama (NU) itu, terpasang salib. Foto itu dibagikan ke halaman Manusia Merdeka pada 12 Agustus 2020.

Foto tersebut pun diberi narasi, "Islam Nusantara itu nabinya siapa ya...? Tuhannya Yesus juga ya.....? terus kitabnya mungkin kitab STENSIL....??" Hingga artikel ini dimuat, unggahan itu telah direspons lebih dari 100 kali dan dikomentari lebih dari 600 kali.

Gambar tangkapan layar unggahan akun Facebook Munzirin.

Bagaimana kebenaran narasi serta foto tersebut?

PEMERIKSAAN FAKTA

Dengan menulusuri foto di atas dengan reverse image tool, Tim CekFakta Tempo terhubung dengan situs Duta Islam yang pernah memuat klarifikasi atas foto tersebut. Klarifikasi itu terdapat dalam artikel berjudul “Viral Foto Shalat di Gereja Banyak Dipelintir, Ini Klarifikasi dari IPNU Batam” yang dipublikasikan pada 28 Juni 2018.

Artikel tersebut memuat penjelasan dari Shon Haji Zuhri, salah satu kader NU yang termasuk dalam belasan pemuda di foto itu, sehingga tentunya mengetahui konteks foto tersebut. Di akhir artikel, situs Duta Islam juga memuat tautan tulisan yang diunggah oleh Shon di akun Facebook-nya pada 26 Juni 2018.

Menurut Shon, para pemuda NU tersebut adalah Pengurus Anak Cabang Ikatan Pemuda Nahdlatul Ulama (IPNU) Kecamatan Sagulung, Batam. Saat itu, mereka diundang untuk mengisi pentas seni dalam Jambore Pelajar Katolik yang digelar oleh Yayasan Tunas Karya. Kegiatan ini bertempat di SD Katolik Santo Ignasius Loyola di Rempang, Galang, pada 22-24 Juni 2018.

Jambore tersebut bertemakan kebhinekaan. Pemuda NU diundang untuk menampilkan kesenian yang bertemakan kebangsaan dan keberagaman. Mereka tampil pada 23 Juni 2018 pukul 20.00 WIB.

“Saat rombongan adik-adik IPNU yang dikawal beberapa anggota Banser sampai di lokasi, ternyata sudah masuk waktu salat magrib dan akhirnya rombongan melakukan salat magrib berjamaah di sebuah gedung yang ada salibnya,” ujar Shon. Foto salat magrib tersebut pun viral dan diklaim bahwa para pemuda NU itu salat di tempat ibadah agama lain.

Menurut Shon, gedung yang dipakai untuk salat tersebut bukanlah gereja, melainkan semacam asrama atau aula yang lokasinya terpisah dari gereja. Mereka telah berusaha mencari masjid atau musala terdekat, namun jaraknya cukup jauh dan tidak ada kendaraan untuk mengantar.

“Maka, kami meyakini, jika kami memaksakan diri harus melaksanakan salat magrib di masjid terdekat, maka waktu salat (magrib) akan habis. Sementara itu, kami tidak mungkin juga melaksanakan salat di lapangan yang ada di lokasi, karena keadaan cuaca (gerimis) dan lapangannya becek akibat guyuran air hujan selama dua hari,” ujar Shon.

Dengan pencarian lanjutan di Dacebook, Tempo terhubung dengan salah satu akun, yakni Cosmas Eko Suharyanto, yang juga terlibat dalam pelaksanaan jambore tersebut. Penjelasan oleh akun Cosmas Eko Suharyanto ini tidak jauh berbeda dengan yang ditulis oleh Shon.

Menurut Cosmas, lokasi pelaksanaan jambore berjarak sekitar dua jam dari pusat Batam. Sementara para anggota IPNU datang dari berbagai daerah di Batam. Mereka menempuh waktu dua jam dengan mini bus untuk mencapai lokasi jambore.

“Kami menyambutnya dengan suka cita dan langsung mengarahkan ke ruang aula untuk minum dan menikmati snack ringan, karena waktu sudah mendekati untuk salat magrib. Saya menyaksikan dua anggota Banser mengecek apakah ada musala di seberang jalan di kantor Polsek Galang yang sedang dibangun. Setelah dicek, rupanya belum dapat digunakan. Memang di sekitar area bumi Jambore Rempang tidak ada masjid terdekat," ujarnya.

Cosmas pun melanjutkan, “Akhirnya, setelah berdiskusi, salat magrib akan dilaksanakan di aula SD Ignasius. Segera saja suster dari kongregasi JMJ yang melayani di Asrama Rempang mengecek ketersediaan air untuk salat dan mempersiapkan segala sesuatunya, sementara panitia yang lain mempersiapkan tempat. Akhirnya, tibalah waktu salat, dengan menggunakan sound system panitia, alunan doa itu berkumandang dengan merdu di tengah acara besar Remaja Katolik.”

KESIMPULAN

Berdasarkan pemeriksaan fakta Tempo, klaim bahwa para pemuda NU dalam foto di atas salat berjamaah di tempat ibadah umat Katolik menyesatkan. Para pemuda NU tersebut adalah Pengurus Anak Cabang Ikatan Pemuda Nahdlatul Ulama (IPNU) Kecamatan Sagulung, Batam. Saat itu, mereka diundang untuk mengisi pentas seni dalam Jambore Pelajar Katolik bertema kebhinekaan yang digelar oleh Yayasan Tunas Karya pada 23 Juni 2018. Salat berjamaah itu pun dilakukan di aula, bukan di tempat ibadah umat Katolik maupun gereja.

IKA NINGTYAS

Anda punya data/informasi berbeda, kritik atau masukan untuk artikel cekfakta ini? Kirimkan ke cekfakta@tempo.co.id



  •  

    Selengkapnya