[Fakta atau Hoaks] Benarkah Virus Corona Covid-19 Dibuat di Lab Militer Partai Komunis Cina?

Kamis, 13 Agustus 2020 11:36 WIB
 
[Fakta atau Hoaks] Benarkah Virus Corona Covid-19 Dibuat di Lab Militer Partai Komunis Cina?

Klaim bahwa virus Corona penyebab Covid-19, SARS-CoV-2, dibuat di laboratorium militer Partai Komunis Cina (PKC) beredar di media sosial. Menurut klaim itu, pernyataan tersebut diungkapkan oleh ilmuwan asal Cina yang melarikan diri ke Amerika Serikat (AS) beberapa waktu lalu, Li Meng Yan.

Di Instagram, klaim tersebut diunggah salah satunya oleh akun @prabowopejuang, yakni pada 6 Agustus 2020. Klaim itu berasal dari sebuah artikel yang diterbitkan oleh situs ID Today pada 4 Agustus 2020 yang berjudul "Lari ke AS, Ilmuwan China Beberkan Fakta Covid-19 Dibuat di Lab Militer Partai Komunis".

Menurut artikel itu, Li Meng Yan menyatakan SARS-CoV-2 tidak berasal dari pasar Wuhan seperti yang dikatakan oleh pemerintah Cina. Ahli virologi dari Hong Kong School of Public Health, Universitas Hong Kong (HKU), ini menuturkan bahwa dia "mengetahui" secara jelas SARS-CoV-2 diciptakan di laboratorium yang terkait dengan Tentara Pembebasan Rakyat Cina (PLA).

"Pada waktu itu, saya dengan jelas menilai bahwa virus itu berasal dari laboratorium militer Partai Komunis Cina," kata Li Meng Yan. “Pasar basah Wuhan hanya digunakan sebagai umpan,” ujarnya. Hal itu disampaikannya dalam wawancara dengan Taiwan News Agency Lude Press.

Gambar tangkapan layar unggahan akun Instagram @prabowopejuang.

Namun, apa benar virus Corona Covid-19 dibuat di laboratorium militer Partai Komunis Cina?

PEMERIKSAAN FAKTA

Untuk memverifikasi klaim-klaim tersebut, Tim CekFakta Tempo mula-mula menelusuri artikel Taiwan News terkait pernyataan Li Meng Yan itu. Hasilnya, ditemukan artikel di Taiwan News yang dimuat pada 31 Juli 2020 yang berjudul "Ahli virologi China mengklaim virus Corona berasal dari laboratorium PLA".

Artikel tersebut berisi pernyataan Li Meng Yan bahwa, selama penelitiannya tentang penularan virus dari manusia ke manusia, dia melacak sumber wabah ke PLA. "Saat itu, saya sudah menilai dengan jelas bahwa virus itu berasal dari laboratorium militer Partai Komunis China. Pasar basah Wuhan hanya dijadikan umpan," katanya.

Meskipun begitu, dalam pernyataannya, Li Meng Yan tidak membeberkan bukti-bukti yang dimilikinya terkait klaim itu. Li Meng Yan hanya mengatakan bahwa dia dibesarkan dan dididik di bawah PKC dan tahu "hal-hal apa yang akan dilakukan oleh pemerintah Cina".

Sebelumnya, dalam wawancara dengan Fox News pada 10 Juli 2020, Li Meng Yan menyatakan bahwa Cina mengetahui virus Corona baru ini jauh sebelum mereka mengakui munculnya virus tersebut. Dia juga mengatakan bahw pemerintah Cina menutup-nutupi keberadaan Covid-19 dan mengabaikan penelitian yang dilakukannya di awal pandemi, yang ia percaya bisa menyelamatkan banyak nyawa.

Namun, kampus Li Meng Yan, HKU, membantah klaim tersebut. HKU mengkonfirmasi bahwa Li Meng Yan memang merupakan mahasiswa pascadoktoralnya yang telah meninggalkan kampus. Tapi, menurut HKU, klaim Li Meng Yan tidak sesuai dengan fakta-fakta kunci yang mereka pahami.

HKU juga mengklarifikasi bahwa Li Meng Yan belum melakukan penelitian tentang topik tersebut di kampus dari Desember 2019 hingga Januari 2020. "Kami selanjutnya mengamati bahwa apa yang mungkin ditekankannya dalam wawancara yang dilaporkan tidak memiliki dasar ilmiah tapi menyerupai desas-desus."

Selain itu, HKU membantah klaim Li Meng Yan bahwa ia menemukan adanya potensi penularan dari manusia ke manusia, namun tidak digubris oleh pejabat setempat. Menurut pernyataan HKU, salah satu profesornya, Yuen Kwok Yung, justru memberi tahu Menteri Kesehatan Hong Kong Sophia Chan Siu Chee tentang wabah di Wuhan dan mencatat potensi pandemi serta kemiripannya dengan SARS, yang mana menular antar manusia.

Sumber Covid-19

Dilansir dari organisasi cek fakta AS, Fact Check, setelah virus Corona Covid-19 pertama kali muncul di Wuhan pada akhir Desember 2019, memang tersebar berbagai rumor palsu tentang misteri asal-usul virus. Salah satunya adalah bahwa virus Corona Covid-19 merupakan senjata biologi yang bocor dari laboratorium di Wuhan. Namun, seluruh versi teori ini tidak memiliki pijakan bukti dan penjelasan secara sains.

Bukti-bukti yang ada justru menunjukkan bahwa virus itu kemungkinan menular ke manusia dari hewan yang belum teridentifikasi, seperti yang pernah terjadi di masa lalu pada jenis virus Corona lain. SARS-CoV pada 2002-2003 misalnya, diperkirakan berasal dari kelelawar dan menyebar ke manusia melalui musang. Pada 2012, muncul pula MERS-CoV yang kemungkinan berasal dari kelelawar, dan menyebar ke manusia melalui unta.

Berdasarkan arsip berita Tempo pada 30 Maret 2020, hasil studi yang dipimpin oleh Kristian Andersen, profesor imunologi dan mikrobiologi di Scripps Research Institute, California, AS, pun telah membantah rumor bahwa virus Corona Covid-19 sengaja dibuat atau produk rekayasa laboratorium. Menurut studi yang telah dipublikasikan dalam jurnal Nature Medicine ini, virus Corona Covid-19 adalah buah dari proses evolusi alami.

Andersen menjelaskan, sejak awal pandemi Covid-19, para peneliti telah menguliti asal-usul SARS-CoV-2 tersebut dengan menganalisis data urutan genomnya. "Dengan membandingkan data urutan genom jenis-jenis virus Corona yang sudah diketahui, kami dapat dengan tegas menentukan bahwa SARS-CoV-2 berasal dari proses alami," ujarnya.

Dilansir dari The Conversation, sebagian besar ilmuwan yang mempelajari virus setuju SARS-CoV-2 berevolusi secara alami dan menular ke manusia dari hewan, yang kemungkinan besar adalah kelelawar. Menurut dosen parasitologi dan mikrobiologi medis Universitas Westminster, Polly Hayes, untuk mengetahui bahwa SARS-CoV-2 berasal dari hewan dan bukan buatan, bisa dilihat materi genetik virus tersebut.

Hayes mengatakan susunan genetik atau genom SARS-CoV-2 telah diurutkan dan dibagikan ke publik oleh para ilmuwan di seluruh dunia. Jika virus tersebut direkayasa secara genetik di laboratorium, akan ada tanda-tanda manipulasi pada data genom. "Ini akan mencakup bukti urutan virus yang ada sebagai tulang punggung bagi virus baru, serta elemen genetik yang jelas dan ditargetkan dimasukkan atau dihapus," ujarnya.

Namun, menurut Hayes, tidak ditemukan bukti semacam itu dalam materi genetik SARS-CoV-2. "Sangat tidak mungkin bahwa teknik apa pun yang digunakan untuk merekayasa virus secara genetik tidak akan meninggalkan tanda genetik, seperti potongan kode DNA tertentu yang dapat diidentifikasi," katanya.

KESIMPULAN

Berdasarkan pemeriksaan fakta Tempo, klaim "Covid-19 dibuat di laboratorium militer Partai Komunis Cina" keliru. Hingga kini, tidak ada bukti bahwa virus Corona Covid-19 merupakan buatan laboratorium. Bukti-bukti yang ada justru menunjukkan bahwa virus itu berevolusi secara alami dan menular ke manusia dari hewan. Tidak ada pula tanda-tanda manipulasi pada data genom SARS-CoV-2 yang menunjukkan bahwa virus tersebut merupakan hasil rekayasa laboratorium.

IBRAHIM ARSYAD | ANGELINA ANJAR SAWITRI

Anda punya data/informasi berbeda, kritik atau masukan untuk artikel cek fakta ini? Kirimkan ke cekfakta@tempo.co.id



  •  

    Selengkapnya