[Fakta atau Hoaks] Benarkah Virus Corona Wuhan Hasil Perkawinan Virus Kelelawar dan Virus Babi?

Kamis, 30 Januari 2020 12:15 WIB
 
[Fakta atau Hoaks] Benarkah Virus Corona Wuhan Hasil Perkawinan Virus Kelelawar dan Virus Babi?

Narasi yang menyebut virus Corona 2019-nCoV yang bermula di Wuhan, Cina, merupakan perkawinan dari virus kelelawar dan virus babi beredar di media sosial. Salah satu akun yang menyebarkan narasi itu adalah akun Facebook Fierza Zahra OllShop, yakni pada Ahad, 26 Januari 2020.

Dalam unggahannya, akun tersebut membagikan foto tumpukan mangga dengan bekas gigitan kelelawar. Ia pun mengingatkan agar mangga dengan bekas gigitan kelelawar itu dihindari karena virus Corona merupakan perkawinan antara virus kelelawar dan virus babi.

Berikut isi lengkap narasi yang dibagikan akun Fierza Zahra OllShop: "Yang lagi viral virus Corona. Harap hindari ketika melihat buah sisa gigitan kalelawar. Ternyata terjadinya virus Corona dari perkawinannya virus kelelawar dengan virus babi."

Hingga artikel ini dimuat, unggahan akun Fierza Zahra OllShop tersebut telah dibagikan lebih dari 400 kali.

Gambar tangkapan layar unggahan akun Facebook Fierza Zahra OllShop yang memuat narasi sesat mengenai virus Corona Wuhan.

Benarkah virus Corona Wuhan adalah hasil perkawinan virus kelelawar dengan virus babi?

PEMERIKSAAN FAKTA

Untuk memeriksa klaim di atas, Tim CekFakta Tempo menghubungi Guru Besar Biologi Molekur Universitas Airlangga Surabaya, Chairul Anwar Nidom. Dia mengatakan bahwa struktur virus Corona Wuhan 2019-nCoV sangat unik. Virus ini mirip dengan Severe Acute Respiratory Syndrome (SARS) dan virus Corona yang ditemukan pada kelelawar (bat-CoV).

"Tapi ada sedikit potongan DNA/RNA yang sangat berbeda sehingga punya cluster yang berada di luar kedua kelompok tersebut," ujar Nidom saat dihubungi pada Rabu, 29 Januari 2020. Ia menambahkan, "Bisa saja analisis bioinformatik berbeda satu dengan yang lainnya."

Nidom mengatakan, dilihat dari struktur tersebut, virus Corona Wuhan sebagian besar berasal dari SARS dan kelelawar, bukan dari babi. Namun, hingga kini, belum ada analisis yang mendalam mengenai potongan kecil yang membuat virus Corona Wuhan unik. "Bisa saja dari macam-macam hewan, salah satunya babi. Tapi, hasil analisis saat ini tidak ada unsur babi," katanya.

Terkait unggahan akun Facebook Fierza Zahra OllShop yang berisi peringatan untuk menghindari ketika melihat buah dengan bekas gigitan kelelawar, Nidom mengatakan, "Waspada boleh saja, tapi tidak boleh berlebihan."

Berdasarkan arsip pemberitaan Tempo, peneliti mikrobiologi dari Pusat Penelitian Biologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Sugiyono Saputra, mengutip data terbaru yang dipublikasikan dalam Journal of Medical Virology tentang virus Corona Wuhan, mencatat bahwa tiga jenis virus Corona yang bersifat mematikan terhadap manusia berasal dari jenis hewan yang sama sebagai perantara alaminya, yakni kelelawar.

Menurut Sugiyono, walaupun memungkinkan, interaksi langsung antara kelelawar dengan manusia sebenarnya sangatlah jarang. "Tapi virus tersebut dapat pula menginfeksi hewan lainnya, dan hewan perantara tersebutlah yang lebih sering berinteraksi langsung dengan manusia," ujar Sugiyono pada 24 Januari 2020.

Dalam kasus SARS pada 2002-2003, Sugiyono menjelaskan hewan perantaranya adalah musang dan rakun, selain kelelawar itu sendiri. Dalam kasus Middle East Respiratory Syndrome (MERS) pada 2012, hewan perantaranya adalah unta. "Sedangkan pada kasus terbaru, material genetik 2019-nCoV merupakan rekombinasi dari material genetik virus yang berasal dari kelelawar dan ular," katanya.

Hipotesis itu, menurut Sugiyono, berasal dari material genetik 2019-nCoV yang diambil dari sampel korban meninggal yang ternyata memiliki kesamaan dengan material genetik ular. Data tersebut diketahui setelah membandingkan sampel virus itu dengan lebih dari 200 jenis virus Corona dari berbagai hewan yang dijual di sebuah pasar di Wuhan, di mana sejumlah korban infeksi pertama diketahui pernah mendatanginya.

"Rekombinasi yang dimaksud adalah gabungan antara bagian selubung virus Corona asal kelelawar yang dikenal dapat menginfeksi manusia dan material genetik virus Corona yang berasal dari ular," kata Sugiyono sembari menambahkan bahwa spesies ular yang dimaksud adalah Bungarus multicinctus dan Naja atra atau Kobra Cina.

Sugiyono menjelaskan selubung virus atau viral spike merupakan bagian yang akan menempel atau menginfeksi sel inangnya jika memiliki reseptor yang sesuai. "Mutasi bagian inilah yang menyebabkan virus Corona dari ular tersebut dapat menginvasi sel-sel pada saluran pernapasan manusia," ujarnya.

Menurut Sugiyanto, masih diperlukan penelitian yang menyeluruh untuk menyimpulkan asal virus Corona Wuhan. Meskipun begitu, Sugiyono mengatakan, para ilmuwan menduga bahwa mamalia adalah kandidat yang paling mungkin karena telah tervalidasi pada kasus SARS dan MERS sebelumnya.

Masih berdasarkan arsip pemberitaan Tempo, analisis genetika terbaru mengungkap bahwa virus Corona Wuhan diduga berasal dari ular. Penelitian yang dipimpin Wei Ji dari Universitas Peking itu mengumpulkan sampel virus yang menginfeksi berbagai hewan hidup dari sebuah pasar di Wuhan yang pernah dikunjungi sejumlah korban infeksi pertama.

Wei Ji dan rekan-rekannya membandingkan genom dari lima sampel virus Corona Wuhan dengan 217 virus yang dikumpulkan dari berbagai spesies hewan tersebut. Analisis menunjukkan, secara genetik, virus Corona Wuhan terlihat sama dengan yang ditemukan pada kelelawar, tapi banyak juga didapati pada ular.

Dikutip dari Kompas.com yang melansir Sciencenews.org, virus Corona memiliki bentuk bulat dan dikelilingi oleh lingkaran protein runcing yang membuatnya mirip dengan mahkota atau korona tipis matahari. Ada empat kategori utama dari virus Corona. Mereka dikenal dengan huruf Yunani, alpha, beta, delta, dan gamma.

Hanya virus Corona alpha dan beta yang diketahui menginfeksi manusia. Virus ini menyebar di udara, dan hanya empat jenis (dikenal sebagai 229E, NL63, OC43, dan HKU1) yang bertanggung jawab atas sekitar 10-30 persen flu di seluruh dunia.

Susunan genetik virus Corona terdiri dari RNA, sepupu kimia beruntai tunggal dari DNA. Sementara itu, protein virus Corona Wuhan antara 70-99 persen identik dengan kerabat mereka dalam SARS, kata Karla Satchell, ahli mikrobiologi dan imunologi di Northwestern University Feinberg School of Medicine di Chicago, AS.

KESIMPULAN

Berdasarkan pemeriksaan fakta di atas, narasi bahwa virus Corona Wuhan merupakan perkawinan dari virus kelelawar dan virus babi merupakan narasi yang keliru. Struktur virus Corona Wuhan sangat unik. Virus ini mirip dengan SARS dan bat-CoV, tapi ada sedikit potongan DNA/RNA yang sangat berbeda. Hingga kini, belum ada analisis mendalam mengenai potongan kecil yang membuat virus Corona Wuhan unik tersebut. Namun, hasil analisis saat ini menunjukkan bahwa tidak ada unsur babi dalam virus itu. Virus Corona Wuhan sebagian besar berasal dari SARS dan kelelawar, bukan dari babi.

ZAINAL ISHAQ

Anda punya data/informasi berbeda, kritik atau masukan untuk artikel cek fakta ini? Kirimkan ke cekfakta@tempo.co.id



  •  

    Selengkapnya