[Fakta atau Hoaks] Benarkah Paracetamol P/500 Mengandung Virus Machupo?

Senin, 29 Juli 2019 12:58 WIB
 
[Fakta atau Hoaks] Benarkah Paracetamol P/500 Mengandung Virus Machupo?

Akun Aminya Amonk membagikan informasi tentang bahaya Paracetamol P/500 ke grup Facebook  “INFO - Citeureup dan sekitarnya” pada 22 Juli 2019. 

Unggahan di Facebook tentang parasetamol yang mengandung virus.

Ia menuliskan narasi agar masyarakat berhati-hati menggunakan Paracetamol yang tertulis P/500 karena mengandung Machupo Virus, salah satu virus yang dianggap paling berbahaya di dunia.

“Adalah Paracetamol baru sangat putih dan mengkilap, mengandung Machupo virus dianggap salah satu virus yang paling berbahaya di dunia, dan dengan tingkat kematian yang tinggi. Silahkan berbagi pesan ini untuk semua orang dan keluarga,” tulisnya.

Ia membagikan foto pil paracetamol yang berwarna putih dan dua foto pria yang menderita seperti banyak kutil di kulitnya.

Hingga 30 Juli 2019, unggahan itu telah dibagikan lebih dari 5,8 ribu kali.

 

PEMERIKSAAN FAKTA

 

Fakta tentang Paracetamol P/500

Informasi soal Paracetamol P/500 yang mengandung Machupo Virus telah banyak beredar sejak 2017. Tidak hanya di Indonesia, melainkan ke sejumlah negara seperti Amerika Serikat dan Malaysia.

Machupo (juga dikenal sebagai "virus hemoragik Bolivia" atau "tifus hitam") adalah endemik di Bolivia utara dan timur.

Terkait hal itu, Badan POM pernah merilis tidak pernah menerima laporan kredibel yang mendukung klaim bahwa virus Machupo telah ditemukan dalam produk obat Parasetamol atau produk obat lainnya.

Virus Machupo sendiri diketahui merupakan jenis virus yang penyebarannya dapat terjadi melalui udara, makanan, atau kontak langsung. Virus Machupo dapat bersumber dari air liur, urin, atau feses hewan pengerat yang terinfeksi dan menjadi pembawa (reservoir) virus tersebut.

Kepala Badan POM, Penny K. Lukito menyampaikan bahwa Badan POM tidak pernah menemukan hal-hal seperti yang diisukan tersebut, termasuk kandungan virus Machupo dalam produk obat.

Penny K. Lukito mengimbau masyarakat Indonesia untuk membeli obat di apotek atau sarana resmi lainnya seperti toko obat berizin.

"Ingat CEK KLIK, cek kemasan, label, izin edar, dan kedaluwarsa", ujar Penny K. Lukito.

"Jadilah konsumen cerdas, jangan mudah terpengaruh oleh isu/hoax yang beredar di media sosial. Apabila menemukan produk yang mencurigakan, laporkan ke contact center Badan POM di nomor telepon 1500533 (pulsa lokal) atau Balai Besar/Balai POM di seluruh Indonesia”, pesan Kepala Badan POM di websitenya pada 2017. 

Website pengecekan fakta di Amerika, Snopes, pernah menurunkan verifikasi soal klaim ini.

Pada 8 Februari 2017, tulis Snopes, pejabat kesehatan masyarakat di Malaysia membantah rumor itu, dan menegaskan bahwa virus biasanya tidak dapat bertahan dalam proses pembuatan pil:

Kementerian Kesehatan Malaysia hari ini menembak rumor yang beredar di media sosial bahwa tablet parasetamol P / 500 di Malaysia mengandung virus 'Machupo'.

Direktur Jenderal Kesehatan Malaysia Datuk Dr Noor Hisham Abdullah mengatakan, seperti kebanyakan virus, Machupo tidak dapat hidup di lingkungan kering seperti di tablet parasetamol.

“Virus Machupo dikategorikan dalam kelompok Arenavirus yang dapat menyebabkan demam berdarah. Saat ini, virus hanya dapat ditemukan di Amerika Selatan.

"Itu disebarkan melalui urin atau feses tikus yang terinfeksi," katanya dalam sebuah pernyataan hari ini.

Noor Hisham mengatakan kementerian belum menerima laporan mengenai kontaminasi parasetamol dari pihak berwenang di negara-negara manufaktur atau negara lain sejauh ini.

Kami tidak dapat menemukan laporan yang dapat dipercaya dari parasetamol (atau asetaminofen) yang terkontaminasi oleh virus Machupo atau yang lainnya. 

 

KESIMPULAN

Dari pemeriksaan fakta tersebut bisa disimpulkan bahwa informasi bahwa Paracetamoll P/500 mengandung Virus Machupo adalah keliru.

 

 

IKA NINGTYAS