Sesat, Klaim Gunung Welirang di Jawa Timur Mengalami Erupsi

Selasa, 14 Desember 2021 23:12 WIB
 


 
Sesat, Klaim Gunung Welirang di Jawa Timur Mengalami Erupsi

Beberapa video yang memperlihatkan awan berwarna merah disertai petir yang disebut terjadi di sekitar Gunung Arjuno Welirang beredar di media sosial. Video tersebut dibagikan dengan narasi bahwa Gunung Welirang mengalami erupsi.

Di Youtube, Video tersebut diunggah kanal ini pada 14 Desember 2021 dengan judul, “masih jawa timur || Gunung welirang erupsi. ya Allah ampunilah dosa2 kami.”

Hingga artikel ini dimuat, video tersebut telah disaksikan sebanyak 72 kali. Apa Benar gunung Welirang di Jawa Timur mengalami erupsi?

Tangkapan layar unggahan video yang diklaim sebagai momen erupsi Gunung Welirang

PEMERIKSAAN FAKTA

Untuk memverifikasi klaim di atas, Tim CekFakta Tempo mula-mula memfragmentasi video tersebut dengan menggunakan tool InVid. Selanjutnya gambar-gambar hasil fragmentasi ditelusuri jejak digitalnya dengan menggunakan tool reverse image Google dan Yandex.

Hasilnya, Koordinator Bidang Data dan Informasi BMKG Stamet Juanda, Teguh Tri Susanto fenomena awan berwarna merah disertai petir yang terjadi di gunung welirang bukanlah erupsi.

Video yang identik pernah diunggah ke Youtube oleh kanal KOMPASTV pada 13 Desember 2021 dengan judul, “Viral! Fenomena Langit Merah di Atas Gunung Welirang, Begini Penjelasan BMKG.”

“Sejumlah video amatir warga mempelihatkan langit seperti membara di atas Gunung Welirang, Malang, Jawa Timur,” tulis kanal tersebut.

Video identik lainnya juga diunggah kanal ONE-OFFICIAL pada hari yang sama dengan judul, “GUNUNG WELIRANG - FENOMENA AWAN CUMULONIMBUS - AWAN YANG MEMANCARKAN CAHAYA MERAH & KILAT.”

Menurut kanal tersebut, fenomena cuaca ekstrem yang berasal dari awan Cumulonimbus (CB), lumrah ketika siangnya terik, maka biasanya sore hari muncul awan CB.

Koordinator Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Jawa Timur Taufiq Hermawan juga mengatakan, fenomena langit merah dan petir tersebut merupakan hal biasa.

Menurut Taufiq, awan merah itu salah satu contoh fenomena optik atmosfer. Taufiq menjelaskan, warna kemerahan pada awan langit di sekitarnya disebabkan oleh pembiasan cahaya matahari oleh partikel-partikel yang ada di atmosfer.

"Sehingga menghasilkan energi yang rendah, gelombang panjang dan memunculkan warna kemerahan," kata Taufiq dalam keterangan tertulis yang diterima Kompas.com, Selasa (14/12/2021).

Semakin rendah posisi matahari dari garis cakrawala, jelas dia, maka semakin rendah cahaya merah yang dicapai. Taufiq menuturkan, fenomena langit kemerahan ini biasa terjadi pada sore menjelang malam hari.

Dilansir dari CNN Indonesia, kejadian itu dilaporkan berlangsung sekitar pukul 18.00 WIB, Senin (13/12). Fenomena tersebut membuat warga heboh. Mereka pun khawatir gunung tersebut mengalami erupsi.

"Seperti awan warnanya merah, terus terlihat juga kilat menyala-nyala, dari atas Welirang," kata Febri Arissandi, seorang mahasiswa pascasarjana di Batu, kepada CNNIndonesia.com.

Gunung Welirang berstatus aktif dengan ketinggian 3.156 mdpl yang secara administratif terletak di perbatasan Kota Batu, Kabupaten Pasuruan dan Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur.

Koordinator Bidang Data dan Informasi BMKG Stamet Juanda, Teguh Tri Susanto mengatakan dari hasil pantauan pihaknya di wilayah Malang, Mojokerto, dan sekitarnya, fenomena tersebut adalah hal biasa dan bukan sebuah erupsi.

"Fenomena awan yang terlihat berwarna merah, merupakan hal yang biasa terjadi. Hal tersebut merupakan salah satu contoh fenomena optik atmosfer," ujarnya.

Teguh menjelaskan warna kemerahan pada awan dan langit di sekitarnya disebabkan pembiasan cahaya matahari oleh partikel-partikel yang ada di atmosfer sehingga menghasilkan energi yang rendah, gelombang panjang, dan memunculkan warna kemerahan.

"Semakin rendah posisi matahari dari garis cakrawala, maka semakin rendah pula cahaya merah yang dicapai," ujarnya.

Fenomena langit kemerahan ini biasanya memang terjadi pada sore menjelang malam hari. Berdasarkan radar BMKG Juanda terpantau banyak pertumbuhan awan Cumulonimbus di sekitar lokasi.

"Awan cumulonimbus adalah satu-satunya jenis awan yang dapat menghasilkan petir. Sambaran kilat dari awan ini menambah cahaya kemerahan dari langit tersebut," katanya.

Teguh berharap agar masyarakat tidak panik. Ia meminta tetap selalu memantau serta mencari informasi yang valid sehingga terhindar dari isu-isu yang tidak bertanggung jawab.

KESIMPULAN

Berdasarkan pemeriksaan fakta Tempo, video yang memperlihatkan fenomena awan merah disertai kilatan petir yang disertai klaim bahwa Gunung Arjuno Welirang di Jawa Timur mengalami erupsi, menyesatkan. Koordinator Bidang Data dan Informasi BMKG Stamet Juanda, Teguh Tri Susanto fenomena awan berwarna merah disertai petir yang terjadi di gunung welirang bukanlah erupsi.

Warna kemerahan pada awan dan langit di sekitarnya disebabkan pembiasan cahaya matahari oleh partikel-partikel yang ada di atmosfer sehingga menghasilkan energi yang rendah, gelombang panjang, dan memunculkan warna kemerahan. Saat enomena tersebut terjadi, radar BMKG Juanda memantau banyak pertumbuhan awan Cumulonimbus yang dapat menghasilkan petir.

TIM CEK FAKTA TEMPO



  •  

    Selengkapnya