Keliru, Klaim Bahasa Cina Jadi Kurikulum Pendidikan di Halmahera Selatan

Senin, 25 Oktober 2021 16:39 WIB
 


 
Keliru, Klaim Bahasa Cina Jadi Kurikulum Pendidikan di Halmahera Selatan

Pesan berantai yang berisikan tautan video dengan klaim bahwa bahasa Cina sudah masuk kurikulum sekolah di Halmahera Selatan, Maluku Utara beredar di aplikasi pengiriman pesan. Pesan tersebut juga diikuti narasi:

“MIRIS ... !!!¸ BUKAN HOAX, Hari ini Kerja di Negeri Sendiri Wajib Pakai Bahasa China ÷Hersubeno Arief÷. Bahasa China Sudah Masuk Kurikulum Sekolah di Halmahera Selatan ... Untuk Memenuhi Syarat Masuk Kerja. Hanya Untuk Menjadi Buruh di Perusahaan-Perusahaan China, Kedaulatan Bangsa Kita Digadaikan, Harus Belajar dan Bisa Bahasa China. Seharusnya, Mereka Pendatang itu Yang Belajar Bahasa Indonesia ... !¸Ataukah Memang Kita, Bangsa Indonesia Secara Perlahan Tapi Pasti Akan Jadi Koloni China, Jajahan China .. ? Pengamat : SEBENTAR LAGI, CHINA AKAN KUASAI INDONESIA”.

Benarkan bahasa Cina sudah masuk menjadi kurikulum sekolah di Halmahera Selatan, Maluku Utara?

Tangkapan layar potongan vidoe yang mengklaim bahas aCina masuk kurikulum lokal Maluku Utara.

PEMERIKSAAN FAKTA

Untuk memeriksa klaim di atas, Tim CekFakta Tempo mula-mula menelusuri terkait informasi tersebut pada beberapa media lokal di Maluku Utara. Hasilnya diketahui, informasi tersebut merupakan informasi yang muncul di media pada 14 Juli 2021. Informasi ini kembali viral setelah sebuah pesan berantai yang berisikan video yang mengklaim bahasa china sudah masuk kurikulum sekolah di Halmahera Selatan, Maluku Utara beredar di aplikasi pengiriman pesan. 

Video tersebut merupakan video konten youtube yang diunggah akun redaksi islam pada 06 Oktober 2021. Akun ini menuliskan narasi “MIRIS.! Bukan Hoax Hari ini Kerja DiNegeri Sendiri Wajib Pake Bahasa China.? | Hersubeno Arief…”. Sejak diunggah video tersebut sudah ditonton 26 ribu kali. 

Dikutip dari koran harian Malut Post edisi Rabu 14 Juli 2021, wacana memasukan bahasa cina dalam kurikulum sekolah mula-mula bergulir saat Kepala Dinas Pendidikan Halmahera Selatan, Safiun Radjulan, melakukan paparan konsultasi publik Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) yang diselenggarakan Badan Perencanaan Penelitian dan Pembangunan dan  Halmahera Selatan, Selasa 13 Juli 2021.
Pada paparannya, Safiun mengatakan, memasukan bahasa cina menjadi kurikulum sekolah bertujuan untuk menjawab kebutuhan tenaga kerja lokal yang mampu menguasai bahasa asing. Kurikulum bahasa cina ini nantinya akan menggantikan kurikulum bahasa Inggris.

Dilansir dari beritadetik.id, memasukan bahasa cina menjadi kurikulum sekolah ungkap, Safiun Radjulan, juga sebagai upaya menyiapkan tenaga kerja lokal yang berkualitas. Sebab bahasa Mandarin bagi calon pekerja di setiap perusahaan pertambangan masih menjadi kendala bagi putra daerah, karena itu Pemerintah Kabupaten Halmahera Selatan akan memasukkan Bahasa Cina atau Mandarin di sekolah di Halmahera Selatan. 

Sementara itu, seperti dikutip penamalut, Safiun Radjulan sendiri membantah kebijakan memasukan bahasa cina menjadi kurikulum di sekolah sudah diterapkan. Di hadapan Komisi 1 DPRD Halmahera Selatan, Safiun mengatakan rencana menjadikan bahasa cina menjadi kurikulum sekolah baru sebatas gagasan yang bertujuan untuk meningkatkan sumber daya manusia. 

Sebelumnya isu serupa sempat pula menyeret mantan Menteri Agama Fachrul Razi pada Januari 2020. Saat itu, Ia dikabarkan meminta agar bahasa Mandarin menjadi salah satu syarat kelulusan siswa Madrasah Aliyah (MA).  

KESIMPULAN

Berdasarkan pemeriksaan fakta, klaim bahasa china sudah masuk kurikulum sekolah di Halmahera Selatan, keliru. Di hadapan komisi 1 DPRD Halmahera Selatan, Kepala Dinas Pendidikan, Safiun Radjulan mengatakan wacana memasukan bahasa cina dalam kurikulum di sekolah baru sebatas gagasan. Wacana ini disampaikan pada  paparan konsultasi publik Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Halmahera Selatan. 

TIM CEKFAKTA TEMPO



  •  

    Selengkapnya