Keliru, Pesan Berantai Soal Bukti Ilmiah Penularan Virus Corona dari dokter Erlina Burhan

Selasa, 10 Agustus 2021 11:50 WIB
 


 
Keliru, Pesan Berantai Soal Bukti Ilmiah Penularan Virus Corona dari dokter Erlina Burhan

Sebuah pesan berantai yang diklaim dari Dr. dr Erlina Burhan SpP (K) Ketua PDPI Jaya SIE Ilmiah PDPI Pusat beredar di WhatsApp. Pesan ini berisi petunjuk dari pusat pengendalian penyakit Amerika Serikat (CDC USA) tentang bukti ilmiah terkini perihal penularan virus corona. 


Pesan ini juga menjabarkan tingkat risiko penularan Covid yang ditentukan berdasarkan golongan darah dan lokasi penularannya.


"Orang bergolongan darah A akan mengalami gejala yang berat karena struktur Covid19 mirip dengan antigen B. Orang bergolongan darah AB bisa selamat bila terpapar jumlah virus yang tidak terlalu banyak, bila virulensi virus tinggi dikuatirkan tidak bisa selamat karena AB tidak memiliki antibodi. Orang bergolongan darah B dan O akan aman-aman saja, pemilik darah B cenderung menjadi OTG dan pemilik darah O pasti selamat karena memiliki antibodi yang paling kuat dari semua golongan darah," demikian sebagian narasi yang terdapat dalam pesan berantai tersebut. 

Tangkapan layar pesan berantai yang diklaim sebagai jurnal ilmiah dari dr Erlina Burhan.

PEMERIKSAAN FAKTA


Untuk memverifikasi klaim di atas, Tim Cek Fakta Tempo mula-mula mengidentifikasi beberapa informasi terkait klaim yang dibagikan pada pesan berantai. Pertama jenis ruang menentukan resiko penyebaran dan kedua jenis golongan darah menentukan rentan penyebaran covid 19.


Namun, sebelumnya, dikutip dari laporan cekfakta kompas, dr Erlina Burhan yang dicatut namanya dalam pesan berantai membantah telah menulis pesan tersebut. Ia menegaskan tidak pernah menulis apapun yang dinarasikan dalam unggahan tersebut.


Klaim 1: Resiko Penyebaran Berdasarkan Ruang


Dikutip dari situs Badan Kesehatan Dunia (WHO) , model penyebaran Covid-19 atau virus SARS-CoV-2 diketahui memiliki beberapa cara berbeda. Virus umumnya dapat menyebar dari mulut atau hidung orang yang terinfeksi dalam partikel cairan kecil ketika mereka batuk, bersin, berbicara, bernyanyi, atau bernapas. Partikel-partikel ini berkisar dari tetesan pernapasan yang lebih besar hingga aerosol yang lebih kecil.


Bukti saat ini menunjukkan bahwa virus menyebar terutama di antara orang-orang yang melakukan kontak dekat satu sama lain, biasanya dalam jarak 1 meter (jarak pendek). Seseorang dapat terinfeksi ketika aerosol atau tetesan yang mengandung virus terhirup atau bersentuhan langsung dengan mata, hidung, atau mulut. 


Virus ini juga dapat menyebar di lingkungan dalam ruangan yang berventilasi buruk dan/atau ramai, di mana orang cenderung menghabiskan waktu lebih lama. Ini karena aerosol tetap melayang di udara atau bergerak lebih jauh dari 1 meter (jarak jauh). Orang juga dapat terinfeksi dengan menyentuh permukaan yang telah terkontaminasi virus saat menyentuh mata, hidung, atau mulut tanpa membersihkan tangan.


Sekretaris Jenderal Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia (PAPDI) Dr dr Eka Ginanjar, SpPD mengatakan, pada prinsipnya, droplet yang mengandung virus akan ada di permukaan, sebagai contoh di permukaan meja. Klaim risiko penularan sangat rendah saat melakukan aktivitas di luar rumah, dikatakan Eka ada benarnya.


Namun, tetap saja harus memperhatikan protokol kesehatan. Hal itu dikarenakan ruangan terbuka memiliki sirkulasi udara yang bagus dan pancaran sinar matahari yang bagus. Sementara di ruang tertutup seperti kantor, tempat ibadah, aula bioskop, gym atau teater beresiko tinggi lantaran jika tidak memenuhi beberapa aspek seperti sirkulasi tidak lancar, kurang sinar matahari, kepadatan dalam ruangan, kebersihannya, dan lain sebagainya. 


Dilansir dari Suara.com, William Schaffner, seorang profesor penyakit menular di Vanderbilt University mengatakan virus corona lebih mudah ditransmisikan ketika berada di area tertutup, di mana hanya ada sedikit ventilasi atau ruang untuk aliran udara. Ini terutama berlaku untuk ruang kecil, seperti lift. Dalam ruang tertutup yang begitu rapat tanpa aliran udara yang kuat untuk waktu singkat, sangat mungkin akan terpapar.


Laporan TEMPO yang melansir dari Healthline juga mencatat ada beberapa tempat berisiko tinggi penularan Covid-19 yaitu seperti angkutan umum, salon, bar, kolam renang umum dan pantai, ruang konser, gereja, teater dan tempat kerja.

Klaim 2 : Jenis Golongan Darah Menentukan Kerentanan Penyebaran Covid 19


Dikutip dari laporan Harvard Medical School, golongan darah tidak terkait dengan perburukan gejala yang parah pada orang yang dites positif COVID-19. Laporan peneliti Harvard Medical School yang berbasis di Rumah Sakit Umum Massachusetts ini telah diterbitkan dalam Annals of Hematology. Laporan ini menghilangkan klaim laporan sebelumnya yang menunjukkan korelasi antara golongan darah tertentu dan COVID-19.


Peneliti HMS di Mass General meluncurkan penyelidikan mereka sendiri dengan menggambar pada database besar dari Registry Data Pasien Penelitian sistem Mass General Brigham Health. Populasi penelitian dari 1.289 pasien dewasa bergejala, yang dites positif COVID-19 dan golongan darahnya didokumentasikan, diambil dari lebih dari 7.600 pasien bergejala di lima rumah sakit di wilayah Boston, termasuk Mass General dan Brigham and Women's Hospital, yang dirawat mulai Maret. 6& hingga 16 April tahun ini.


Hasilnya tidak ada koneksi jenis golongan darah menentukan rentan penyebaran. Tidak ada hubungan yang signifikan antara golongan darah dan memburuknya penyakit, antara golongan darah dan kebutuhan rawat inap, persyaratan posisi untuk pasien selama intubasi, atau penanda inflamasi.


Sekretaris Jenderal Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia (PAPDI) Dr dr Eka Ginanjar, SpPD mengatakan, siapa saja bisa terpapar covid 19. Klaim yang menyatakan penularan Covid-19 dilihat dari golongan darah adalah tidak benar. Berkaitan dengan golongan darah itu tidak benar, semua golongan darah memiliki potensi sama.


Dr. Sakthivel Vaiyapuri, seorang profesor di University of Reading di Inggris mengatakan lebih baik mengabaikan artikel apa pun yang belum diteliti dengan benar oleh peer review dan diterbitkan dalam jurnal ilmiah yang ketat. Fakta bahwa penelitian terkait jenis golongan darah menentukan resiko tertular tampaknya belum mempertimbangkan beberapa parameter lain yang mungkin bisa mengubah kesimpulan sepenuhnya. Selain itu, mereka tidak melihat efek apa pun di satu rumah sakit yang mereka analisis. Jadi penelitian ini terlalu spekulatif, dan data tidak kuat untuk membuat kesimpulan yang tegas. Orang-orang tidak perlu panik berdasarkan hasil penelitian ini.


Dilansir dari laporan penelitian Christopher A. Latz dkk yang diterbitkan US National Library of Medicine National Institutes of Health, diketahui jika tidak ada hubungan jenis golongan darah dengan tingkat kerentanan terhadap covid-19. Penelitian yang bertujuan untuk mengetahui apakah ada hubungan antara golongan darah ABO dengan tingkat keparahan COVID-19 ini mendapatkan temuan bahwa golongan darah ABO tidak memiliki korelasi dengan tes positif. 


KESIMPULAN


Berdasarkan hasil pemeriksaan cekfakta TEMPO, klaim pesan berantai yang menyebutkan petunjuk dari pusat pengendalian penyakit Amerika Serikat (CDC USA) tentang bukti ilmiah terkini perihal penularan virus corona berdasarkan ruang dan jenis golongan darah, keliru. dr Erlina Burhan yang dicatut namanya dalam pesan berantai pun telah membantah pesan tersebut hasil tulisannya. 


Klaim terkait risiko penularan berdasarkan tempat tertentu pun keliru, William Schaffner, seorang profesor penyakit menular di Vanderbilt University mengatakan virus corona lebih mudah ditransmisikan ketika berada di area tertutup, di mana hanya ada sedikit ventilasi atau ruang untuk aliran udara. Dalam ruang tertutup yang begitu rapat tanpa aliran udara yang kuat untuk waktu singkat, sangat mungkin akan terpapar.


Termasuk klaim risiko penularan berdasarkan golongan darah. Sebab, Laporan Harvard Medical School menyebuktan, golongan darah tidak terkait dengan perburukan gejala yang parah pada orang yang dites positif COVID-19. Laporan ini menghilangkan klaim laporan sebelumnya yang menunjukkan korelasi antara golongan darah tertentu dan COVID-19.


TIM CEKFAKTA TEMPO


 


  •  

    Selengkapnya