Keliru, Video Erdogan Tolak Duduk Bersama dan Jabat Tangan Macron usai Kasus Kartun Nabi Muhammad

Senin, 30 November 2020 15:41 WIB
 


 
Keliru, Video Erdogan Tolak Duduk Bersama dan Jabat Tangan Macron usai Kasus Kartun Nabi Muhammad

KLAIM

Video pendek yang diklaim sebagai video saat Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan menolak duduk bersebelahan dan berjabat tangan dengan Presiden Prancis Emmanuel Macron beredar di Facebook. Dalam video berdurasi 8 detik itu, Erdogan dan Macron bersama Presiden Rusia Vladimir Putin dan Kanselir Jerman Angela Merkel tampak berada dalam sebuah forum. Erdogan terlihat menyalami Putin dan Merkel, lalu meninggalkan Macron.

Salah satu akun yang membagikan video beserta klaim itu adalah akun Tarbiahmoeslim's Blogs, tepatnya pada 28 November 2020. Akun ini menulis, "Keren Sultan Erdogan, Dia tidak mau duduk dan salaman dengan orang yang telah menghina Islam dan Nabi Muhammad. Sama sekali tidak di perdulikannya pemimpin Prancis. 'Erdogan memberi tau Ini dia (Macron) yang najis, Izinkan saya pergi dengan izin Anda, Merkel, Saya tidak bisa duduk bersamanya'."

Hingga artikel ini dimuat, unggahan akun tersebut telah mendapatkan lebih dari 3.800 reaksi dan 396 komentar.

 Gambar tangkapan layar unggahan akun Facebook Tarbiahmoeslim's Blogs.

PEMERIKSAAN FAKTA

Untuk memverifikasi klaim tersebut, Tim CekFakta Tempo menelusuri video terkait dengan memasukkan kata kunci “Erdogan, Macron, Putin, and Merkel” dalam kolom pencarian YouTube. Hasilnya, ditemukan bahwa video tersebut pernah dipublikasikan oleh sejumlah media asing kredibel.

Menurut pemberitaan, dalam video itu, Recep Tayyip Erdogan, Emmanuel Macron, Vladimir Putin, dan AngelaMerkel sedang bertemu dalam Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) di Istanbul, Turki, pada 27 Oktober 2018. Pertemuan itu membahas situasi yang sedang berlangsung di Suriah. Konferensi tersebut kemudian diakhiri dengan pernyataan bersama oleh keempat tokoh itu kepada pers.

Kanal YouTube milik Ruptly, media yang berbasis di Rusia, menyiarkan video live selama sekitar dua jam saat Erdogan, Macron, Putin, dan Merkel menggelar konferensi pers tersebut. Konferensi pers inilah yang terlihat dalam video yang dibagikan oleh akun Tarbiahmoeslim’s Blogs.

Hal itu terlihat dari kesamaan warna dinding, ornamen bintang yang terpasang di dinding, bendera-bendera negara yang berjejer di belakang keempat tokoh tersebut, serta pakaian yang dikenakan oleh Erdogan, Macron, Putin, dan Merkel.

Dalam video Ruptly ini, di sesi konferensi pers, terlihat bahwa Erdogan duduk bersama Macron. Setelah itu, mereka berempat berdiri untuk mengikuti sesi foto. Keempatnya saling merekatkan tangan, termasuk Erdogan dan Macron. Video utuh bagian ini terdapat pada jam 2:15:27 hingga 2:16:30.

Gambar tangkapan layar video Ruptly yang menunjukkan Erdogan dan Macron berfoto bersama dalam pertemuan yang membahas situasi di Suriah pada 27 Oktober 2018.

KTT tersebut berlangsung setelah Rusia dan Turki mencapai kesepakatan pada 17 September 2018 untuk menciptakan zona penyangga demiliterisasi di sekitar wilayah Idlib, Suriah, yang dihuni oleh sekitar 3,5 juta penduduk dan menjadi benteng besar terakhir yang dikuasai militan di negara itu.

Video konferensi pers empat tokoh tersebut juga pernah dimuat oleh saluran televisi berita berbahasa Inggris yang berbasis di Beijing, Cina, CGTN, dengan judul "IS repels US-backed SDF from eastern Syria" pada tanggal yang sama. Cuplikan saat keempatnya melakukan foto bersama terdapat pada detik ke-36.

Peristiwa dalam video ini terjadi jauh sebelum munculnya ketegangan antara Erdogan dan Macron pasca Presiden Prancis tersebut merespons kasus pemenggalan seorang guru Prancis yang bernama Samuel Paty. Paty dianggap melecehkan Islam karena menunjukkan kartun Nabi Muhammad milik Charlie Hebdo kepada murid-muridnya.

KESIMPULAN

Berdasarkan pemeriksaan fakta Tempo, klaim bahwa video di atas adalah video Recep Tayyip Erdogan yang menolak duduk bersebelahan dan berjabat tangan dengan Emmanuel Macron, keliru. Video ini diambil saat Erdogan dan Macron, bersama Putin dan Markel, bertemu dalam Konferensi Tingkat Tinggi di Istanbul pada 27 Oktober 2018 untuk membahas isu Suriah. Peristiwa ini terjadi jauh sebelum adanya ketegangan antara Erdogan dan Macron pasca kasus pemenggalan Samuel Paty pada awal November 2020.

IKA NINGTYAS

Anda punya data/informasi berbeda, kritik, atau masukan untuk artikel cek fakta ini? Kirimkan ke cekfakta@tempo.co.id


 


  •  

    Selengkapnya