[Fakta atau Hoaks] Benarkah Tentara Merah Cina Berkamuflase Jadi Banser NU untuk Adu Domba Muslim?

Selasa, 8 September 2020 16:31 WIB
 
[Fakta atau Hoaks] Benarkah Tentara Merah Cina Berkamuflase Jadi Banser NU untuk Adu Domba Muslim?

Sebuah foto Kartu Tanda Anggota (KTA) Barisan Serba Guna Nahdlatul Ulama atau Banser NU dengan nama Lie Tjin Kiong beredar di media sosial. Pria pemilik KTA tersebut diklaim sebagai Tentara Merah Cina yang berkamuflase menjadi Banser dan GP Ansor, organisasi pemuda NU, untuk mengadu domba umat Islam.

"Tentara Merah RRC.. Berkamuflase jadi Banser dan Ansor.. Sasaranya mengadu domba unat Islam.. Waspada... Ini berita fix dan bisa di pertanggung jawabkan.." demikian narasi yang menyertai foto KTA tersebut.

Dalam KTA Banser NU Satuan Koordinasi Rayon (Satkoryon) Tandes, Surabaya, tersebut, Lie Tjin Kiong tercatat sebagai anggota resmi Banser NU sejak 24 April 2016. Tertera juga masa berlaku kartu itu, yakni hingga 20 Februari 2020. KTA tersebut ditandatangani oleh Ketua Pimpinan Wilayah GP Ansor Jawa Timur Rudi Triwahid dan Kepala Satuan Koordinasi Wilayah Banser Jawa Timur Umar Usman.

Di Facebook, foto KTA Banser tersebut dibagikan salah satunya oleh akun Anto Lay pada 2 september 2020. Akun ini pun menulis, "Yang perlu tuk di waspadai." Hingga artikel ini dimuat, foto tersebut telah dibagikan lebih dari 135 kali.

Gambar tangkapan layar unggahan akun Facebook Anto Lay.

Apa benar Tentara Merah Cina berkamuflase menjadi Banser dan GP Ansor NU untuk mengadu domba umat Islam?

PEMERIKSAAN FAKTA

Berdasarkan penelusuran Tempo, KTA Banser NU milik Lie Tjin Kiong tersebut telah beredar di internet sejak 2017. Dilansir dari berita di situs media Jawa Timur, Beritajatim.com, pada 3 Mei 2017, Ketua Pimpinan Wilayah GP Ansor Jatim Rudi Triwahid membenarkan bahwa Lie Tjin Kiong merupakan anggota Banser dan seorang mualaf.

Menurut Rudi, Lie Tjin Kiong mengikuti Pendidikan dan Pelatihan Dasar (Diklatsar) Banser pada 2001. "Siapapun boleh menjadi anggota Banser," kata Rudi.

Kepala Satkorwil Banser Jatim pada 2017, Abid Umar, juga menegaskan bahwa Lie Tjin Kiong merupakan salah satu pengurus Masjid Cheng Ho Surabaya yang telah mengikuti Diklatsar Banser. "KTA memang benar diteken oleh Kasatkorwil Banser Jatim yang lama, Umar Usman. Banser juga punya yang londo. Tapi mereka beragama Islam," ujar Abid.

Dilansir dari situs resmi NU, NU.or.id, Lie Tjin Kiong akrab disapa Ayong. Setelah memeluk Islam, Ayong berganti nama menjadi Ahmad Subkhi. Namun, pada 15 Agustus 2020 lalu, Ayong tutup usia. Kabar ini dibenarkan oleh Ketua Pimpinan Anak Cabang GP Ansor Tandes, Sutrabaya, Luthfi Ansori.

"Iya, benar. Lie Tjin Kiong atau Ahmad Subkhi alias Ayong telah meninggal dunia Sabtu pagi ini di RS Muji Rahayu. Jenazah dimakamkan di TPU Babat Jerawat, Tandes," ujar Luthfi.

Ayong merupakan Kepala Satuan Koordinasi Banser Kelurahan Balongsari. Sehari-hari, ia menjalankan usaha cuci cetak foto. Usaha tersebut berlokasi di sebuah toko yang terdapat di area rumah yang merupakan warisan orang tuanya. "Beliau orang yang luar biasa, selain ibadahnya tekun,” kata Luthfi.

Menurut Luthfi, pengabdian Ayong terhadap Ansor dan Banser yang sangat luar biasa dibuktikan dengan tidak pernah menolak tugas. Jika terdapat anggota Ansor atau Banser yang ingin mencuci cetak foto di tokonya, Ayong pun kerap menggratiskannya. “Ia tidak pernah mau menerima bayaran dari sahabatnya," tutur Lutfi.

Ayong meninggal dunia di usianya yang ke-41 dan meninggalkan istri serta tiga putra-putrinya. Anak pertama baru saja melangsungkan pernikahan, sementara anak terakhir masih berusia 7 tahun.

KESIMPULAN

Berdasarkan pemeriksaan fakta Tempo, klaim bahwa Tentara Merah Cina berkamuflase menjadi Banser dan GP Ansor NU untuk mengadu domba umat Islam, keliru. Pemilik KTA Banser NU tersebut, Lie Tjin Kiong, merupakan seorang mualaf. Lie Tjin Kiong atau Ahmad Subkhi, yang akrab disapa Ayong, adalah salah satu pengurus Masjid Cheng Ho Surabaya dan Kepala Satuan Koordinasi Banser Kelurahan Balongsari, Surabaya.

ZAINAL ISHAQ

Anda punya data/informasi berbeda, kritik atau masukan untuk artikel cek fakta ini? Kirimkan ke cekfakta@tempo.co.id



  •  

    Selengkapnya