[Fakta atau Hoax] Benarkah Video Militer China Memukuli Muslim Uighur?

Selasa, 8 Januari 2019 16:00 WIB
 
[Fakta atau Hoax] Benarkah Video Militer China Memukuli Muslim Uighur?

Sebuah video yang disebut penyiksaan militer China terhadap muslim Uyghur beredar di Twitter. Video itu disebarkan oleh akun Rabia Azhar, @RabiaBaluch pada 1 Januari 2019.

Video berdurasi 41 detik itu merekam bagaimana seorang berbaju militer tampak memukul dan menendang seorang laki-laki di sebuah ruangan. Tidak ada keterangan di mana lokasi kejadian itu.

Akun Rabia Azhar menulis dalam statusnya bahwa pria yang disiksa itu adalah seorang Muslim Uighur. Ia disiksa militer China karena memiliki salinan Al Quran di rumahnya.

Tangkapan layar video hoax muslim Uighur

“Ini adalah seorang perwira Cina yang memukul seorang Muslim Uighur karena memiliki salinan Alquran di rumahnya! Semua orang mengirimkan ini sehingga dunia tahu apa yang terjadi di Turkistan Timur. Tiongkok membunuh semua Muslim. Silakan Retweet untuk mengekspos terorisme Tiongkok terhadap Muslim yang tidak bersalah,” demikian tulis status Rabia Azhar.

Video itu segera menjadi viral. Hingga 7 Januari 2019, unggahan itu dibagikan 29 ribu kali dan disukai oleh 13 ribu netizen.

Etnis Uighur adalah salah satu etnis minoritas di China yang mendapat diskriminasi oleh pemerintah pusat.

Lembaga Human Rights Watch mengatakan etnis minoritas Uighur mengalami penahanan, pembatasan praktek ibadah, dan indoktrinisasi politik oleh pejabat dan petugas keamanan Cina, seperti dilansir Reuters, 22 September 2018.

PBB memperkirakan sekitar 1 juta warga dari etnis Uighur, Kazakh dan minoritas lainnya diduga telah ditahan di Xinjiang barat laut China sejak 2017.

Uighur adalah orang Turki asli Asia Tengah dan mendiami bagian dari lembah Tarim, Junghar, dan Turpan. Uighur sendiri menyebut daerah ini secara kolektif sebagai "Uighuristan," "Turkestan Timur," dan kadang-kadang "Turkistan Cina."

Dilansir dari Radio Free Asia, wilayah ini mencakup 2000 kilometer dari Timur ke Barat dan 1650 kilometer dari Utara ke Selatan, berbatasan dengan Mongolia, Rusia, Kazakhstan, Kyrgyzstan, Tajikistan , Afganistan, Pakistan, dan India, serta provinsi Gansu dan Qinghai Cina dan Daerah Otonomi Tibet. Wilayah Otonomi Xinjiang Uighur Cina (XUAR) meliputi hampir seperenam wilayah Cina.

Namun, benarkah video yang disebarkan Rabia Azhar di Twitter itu adalah pemukulan militer China kepada Muslim Uighur?

Penelusuran Fakta

1. Ucapan dalam Bahasa Indonesia

Saat Tempo menonton video itu hingga selesai, korban pemukulan berulang kali mengucapkan kata-kata dalam bahasa Indonesia: “Ampun, Pak….” Kata-kata itu diucapkan korban untuk meminta pengampunan kepada seorang militer yang terus memukul dan menendang korban.

Muslim Uighur tidak menggunakan bahasa Indonesia. Dalam percakapan sehari-hari mereka menggunakan Bahasa Uighur tersendiri. Dikutip dari Eksiklopedi Britannica, bahwa Bahasa Uighur merupakan anggota subfamili Turki dari keluarga bahasa Altavia yang dituturkan oleh orang Uighur di Daerah Otonomi Uighur di Xinjiang Cina barat laut dan di bagian-bagian Uzbekistan, Kazakhstan, dan Kirgistan.

2. Video daur ulang

Video yang diklaim pemukulan militer China terhadap Muslim Uighur itu pernah dipublikasikan sebelumnya di Youtube. Salah satu akun yang mengunggah video itu pertama kali adalah Oscar Soak pada 24 Mei 2017. Oscar memberi judul video itu “Begal Kapok Lagi Viral” dan telah ditonton 8 ribu kali.

Pada 10 Juli 2017, akun lainnya di Youtube bernama Master Show Projeck mengunggah video yang serupa dengan judul “Pencuri Kepergok Anggota Tni”. Video ini telah ditonton 61 ribu kali.

Kesimpulan

Dari dua fakta di atas bisa disimpulkan bahwa video yang disebarkan Rabia Azhar di Twitter bukan pemukulan militer China terhadap Muslim Uighur. Video itu adalah hasil daur ulang dari video yang telah tersebar di Youtube setahun sebelumnya.

IKA NINGTYAS