[Fakta atau Hoaks] Benarkah Muncul Serangan Tawon Pembunuh di Tengah Pandemi Covid-19?

Selasa, 19 Mei 2020 12:07 WIB
 
[Fakta atau Hoaks] Benarkah Muncul Serangan Tawon Pembunuh di Tengah Pandemi Covid-19?

Pesan berantai yang berisi narasi bahwa muncul serangan tawon pembunuh di tengah pandemi Covid-19 beredar di WhatsApp pada Senin, 18 Mei 2020. Pesan itu disertai dengan video pendek yang memperlihatkan bahwa tawon beracun tersebut sudah muncul di Jakarta.

Dalam pesan berantai tersebut, disebutkan pula bahwa tawon pembunuh itu lebih mematikan ketimbang virus Corona penyebab Covid-19, SARS-CoV-2. Menurut pesan berantai ini, tawon beracun itu telah menyerang India, Cina, serta Turki, dan saat ini sedang menuju Iran.

"Belum lagi habis Covid-19, kini Allah hantar lagi satu bala yang amat dasyat sekali. Kalau Covid1-9 kita boleh keluar di jalan untuk mencari makan. Tapi dengan musibah yang baru ini adalah lebih bahaya lagi dari Covid-19. Tidak boleh tinggal di luar (gigitan lebah pembunuh di katakan insect ini menyerang India, China, Turki dan sekarang menuju Iran). Kalau Covid-19 siapa yang terjangkit bisa mendapat perawatan di RS, ada yang hidup dan segelintir yang mati. Tapi gigitan lebah ini bila dia serang manusia terus akan menyebabkan kematian segera di tempat itu juga. Ini ada video2 dan gambar di bawah ini," demikian narasi dalam pesan berantai itu.

Adapun dalam video pendek berlogo Opini.id yang menyertai pesan berantai tersebut, terdapat tulisan bahwa jenis tawon pembunuh itu adalah tawon Vespa affinis. Tawon tersebut pernah membunuh warga Klaten, Jawa Tengah, lalu kini muncul di Jakarta, tepatnya di wilayah Jakarta Timur.

Gambar tangkapan layar pesan berantai di WhatsApp tentang serangan tawon pembunuh.

Apa benar tawon Vespa affinis menyerang sejumlah negara serta mulai muncul di Indonesia saat pandemi Covid-19?

PEMERIKSAAN FAKTA

Untuk memverifikasi klaim tersebut, Tim CekFakta Tempo mula-mula memasukkan kata kunci "tawon Vespa affinis" dalam kotak pencarian di situs media Opini.id. Hasilnya, ditemukan bahwa Opini.id memang pernah mempublikasikan video itu dengan judul “Tawon Pembunuh Muncul Di Jakarta”. Namun, video itu dipublikasikan pada 4 Juli 2019, bukan pada Mei 2020 seperti yang diklaim dalam pesan berantai di atas.

Menurut keterangan video itu, sengatan tawon Vespa affinis tersebut menyebabkan kematian tujuh orang di Klaten, Jawa Tengah. Kemudian, tawon itu ditemukan di Jakarta. Peneliti biologi LIPI, Rosichon Ubaidillah, mengatakan tawon Vespa affinis memang kerap ditemui di wilayah sub-tropis, termasuk Jakarta. "Vespa affinis penyebarannya cukup luas, hampir sub-tropis Asia bisa ditemukan, termasuk Jawa. Sangat mungkin ditemukan di Jakarta," katanya.

Dikutip dari Kompas.com, peristiwa meninggalnya warga Klaten karena sengatan tawon Vespa affinis tersebut terjadi pada 2017 (dua orang) dan 2018 (lima orang). Pemadam Kebakaran Klaten pun telah memusnahkan ratusan sarang tawon Vespa affinis di wilayahnya. Sebanyak 217 sarang dimusnahkan pada 2017 dan 207 sarang pada 2018.

Sementara itu, kemunculan tawon Vespa affinis di Jakarta terjadi pada 1 Juli 2019. Dilansir dari Trubus.id, sarang tawon pembunuh ini ditemukan di sebuah pohon di Jalan Cilingup Indah, Duren Sawit, Jakarta Timur. Sarang tawon dengan diameter 60 sentimeter tersebut kemudian diamankan oleh petugas Suku Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan Jakarta Timur.

Adapun laporan terbaru menyebutkan bahwa tawon ini kembali menewaskan satu orang di Klaten pada 24 April 2020, yakni Poniman Sukarto, 85 tahun, warga Dusun Balong, Desa Beteng, Kecamatan Jatinom, Klaten. Dikutip dari Detik.com, Poniman disengat tawon Vespa affinis saat mencari rumput. Korban sempat dibawa ke Rumah Sakit Umum Pusat Dokter Soeradji Tirtonegoro, namun nyawanya tidak tertolong.

Benarkah saat ini menyerang India, Cina, Turki, dan Iran?

Lewat pencarian pemberitaan situs-situs media di Google, Tempo tidak menemukan adanya kasus serangan tawon dengan genus Vespa di India, Cina, Turki, maupun Iran baru-baru ini. Dilansir dari CNN, serangan tawon jenis Vespa mandarinia, atau dikenal pula sebagai tawon raksasa dunia, pernah terjadi di Cina pada 2013 yang menyebabkan puluhan orang tewas dan sekitar 1.500 orang terluka. Tawon jenis ini memang ditemukan di seluruh wilayah Asia timur dan tenggara, seperti Cina, Korea, Jepang, India, dan Nepal.

Dikutip dari penelitian pada 2020 yang berjudul "The Diversity of Hornets in the Genus Vespa (Hymenoptera: Vespidae; Vespinae), Their Importance and Interceptions in the United States", tawon bergenus Vespa, termasuk Vespa affinis dan Vespa mandarinia, adalah tawon predator yang berukuran besar asli Eropa dan Asia. Mereka memangsa beragam serangga, namun beberapa di antaranya hanya menjadi predator lebah madu.

Sarang tawon Vespa pun dapat memiliki ukuran yang sangat besar dengan lebih dari seribu tawon di dalamnya. Namun, biasanya, sarang tawon Vespa hanya memiliki ukuran yang cukup untuk ratusan tawon. Sarang ini melekat di cabang-cabang pohon atau semak-semak, di bawah atap atau tanah, tergantung pada spesiesnya. Dilansir dari situs Animal Diversity, terdapat 128 spesies tawon bergenus Vespa.

Pada 2019, dikutip dari National Geographic, tawon Vespa mandarinia ditemukan bermigrasi ke Amerika bagian utara. Tawon ini terlihat pertama kali di Kanada pada September 2019, kemudian di Washington, Amerika Serikat, tiga bulan kemudian. Saat ini, tawon Vespa mandarinia dikhawatirkan menghancurkan populasi lebah madu dan mengancam pasokan makanan AS.

Meskipun begitu, dilansir dari CGTN, para ahli menyatakan tawon tersebut tidak mungkin menyerang manusia kecuali diprovokasi. "Anda tidak perlu khawatir tentang itu," kata Floyd Shockley, manajer koleksi entomologi di Museum Nasional Sejarah Alam Smithsonian. "Lebih banyak orang mati karena sengatan lebah madu di AS daripada orang mati karena lebih ini secara global setiap tahunnya."

Selain itu, dikutip dari LA Times, sengatan lebah raksasa Asia tidak mungkin membunuh manusia secara langsung. Di Jepang, menurut Susan Cobey, pembiak lebah di Universitas Washington, sekitar 50 orang meninggal setiap tahunnya akibat sengatan lebah, namun hal itu kemungkinan disebabkan oleh alergi. Menurut Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit AS (CDC), rata-rata 62 orang meninggal setiap tahunnya di AS akibat sengatan lebah atau tawon.

KESIMPULAN

Berdasarkan pemeriksaan fakta di atas, klaim bahwa muncul serangan tawon pembunuh di sejumlah negara, termasuk Indonesia, saat pandemi virus Corona Covid-19 menyesatkan. Video yang digunakan untuk melengkapi klaim itu merupakan video peristiwa pada 2017, 2018, dan Juli 2019, sebelum munculnya virus Corona Covid-19 di Wuhan, Cina, pada Desember 2019. Selain itu, baru-baru ini, tidak ditemukan laporan adanya kasus serangan tawon dengan genus Vespa di India, Cina, Turki, maupun Iran.

IKA NINGTYAS

Anda punya data/informasi berbeda, kritik atau masukan untuk artikel cek fakta ini? Kirimkan ke cekfakta@tempo.co.id



  •  

    Selengkapnya