Sabtu, 15 Desember 2018

[Fakta atau Hoax] Benarkah ada Al Qur'an Palsu yang Mengubah Terjemahan Surat Al Maidah Ayat 51?

Rabu, 28 November 2018 16:14 WIB
 
[Fakta atau Hoax] Benarkah ada Al Qur'an Palsu yang Mengubah Terjemahan Surat Al Maidah Ayat 51?

Sebuah pesan berantai di Whatsapp grup menyebutkan bahwa Al Qur’an palsu telah dijual oleh Gramedia dan beredar ke sekolah-sekolah.

Al Qur’an tersebut diklaim palsu karena mengganti terjemahan kata “pemimpin” dalam surat Al-Maidah ayat 51 menjadi “teman setia”.

Pesan berantai di Whatsapp grup yang menyebutkan bahwa Al Qur’an palsu telah dijual oleh Gramedia

Dalam pesan berantai itu tertulis:

Innalillahi wa innaillaihi roojiuun....

Telah dibagikan Al-Quran PALSU ke sekolah2 dg dalih wakaf Al-Quran.
tolong klo ada WAKAF QUR'AN PALSU
dicek surat Al-Maidah ayat 51 dst telah diganti tafsirnya...
Gerak cepat, Laporkan!!!!!!!!!''...... ada Al Qur'an Palsu.. sekarang sudah beredar Al Quran terjemahan baru Al Maidah 51, "pemimpin" sudah berganti dengan "teman setia".
Hampir semua yg dijual di GRAMEDIA... Tafsirnya diganti jadi teman setia !!!
Betul2 sdh keterlaluan...
Share ke smua sosmed biar saudara2 muslim kita tau..

Benarkah informasi itu?

Penelusuran fakta
Pada 23 Oktober 2016, Kementerian Agama pernah mengeluarkan siaran pers terkait terjemahan surat Al-Maidah. Pejabat pengganti sementara Kepala Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Quran (LPMQ) Kementerian Agama, Muchlis M. Hanafi, mengatakan kata awliya yang tertuang dalam Al-Quran Surat Al-Maidah ayat 51 diterjemahkan sesuai konteksnya.

Menurut Muchlis, terjemahan pemimpin dalam Al-Quran tersebut merujuk pada edisi revisi 2002 Terjemahan Al-Quran Kementerian Agama yang telah mendapat tanda tashih dari LPMQ.

kata awliya di dalam Al-Quran disebutkan sebanyak 42 kali dan diterjemahkan beragam sesuai konteksnya. Merujuk pada Terjemahan Al-Quran Kementerian Agama edisi revisi 1998-2002, pada Surat Ali Imran 3: 28, QS An-Nisa 4: 139, dan 144 serta QS Al-Maidah 5: 57, misalnya, kata awliya diterjemahkan dengan pemimpin.

Sedangkan pada QS Al-Maidah 5: 51 dan QS Al-Mumtahanah 60: 1 diartikan dengan teman setia. Adapun pada QS Al-Taubah 9: 23 dimaknai dengan pelindung, dan pada QS An-Nisa 4: 89 diterjemahkan dengan teman-teman.

Muchlis menambahkan, terjemahan Al-Quran Kementerian Agama pertama kali terbit pada 1965. Pada perkembangannya, terjemahan ini telah mengalami dua kali proses perbaikan dan penyempurnaan, yaitu pada 1989-1990 dan 1998-2002.

Proses perbaikan dan penyempurnaan itu dilakukan para ulama dan ahli di bidangnya, sedangkan Kementerian bertindak sebagai fasilitator. Penyempurnaan dan perbaikan tersebut meliputi aspek bahasa, konsistensi pilihan kata atau kalimat untuk lafal atau ayat tertentu, substansi yang berkenaan dengan makna dan kandungan ayat, dan aspek transliterasi, ujarnya. Pada terjemahan Kementerian Agama edisi perdana pada 1965, kata awliya pada QS Ali Imran 3: 28 dan QS Al-Nisa 4: 144 tidak diterjemahkan.

“Terjemahan QS An-Nisa 4: 144, misalnya, berbunyi, ‘Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang kafir sebagai wali dengan meninggalkan orang-orang mukmin’,” ucap Muchlis. Merujuk pada kata wali, dalam terjemahan pada masa itu diberi catatan kaki, bahwa wali merupakan kata jamak dari awliya, yang berarti teman yang akrab, juga berarti pelindung atau penolong.

Disinformasi Berulang
Informasi mengenai Al Qur’an palsu tersebut sebenarnya sering muncul di media sosial. Pada 23 Oktober 2016, misalnya, media sosial heboh dengan viral yang menyebutkan ada Al Quran palsu yang beredar di Tangerang, Banten. Dalam viral mempermasalahkan soal terjemaah surat Al Maidah ayat 51 tentang arti kata awliya.

Kemudian pada 30 Mei 2018, Al-Quran yang diklaim palsu beredar di media sosial dengan mencatut perusahaan penerbit Cipta Bagus Segara (CBS). Hoax tersebut dikemas lewat gambar kolase dan disebarkan di grup-grup media sosial. Ada dua gambar Alquran yang disebut palsu. Yakni, menggunakan sampul mushaf Almumayyaz dan mushaf Alquran dengan panduan wakaf & ibtida.

Gambar kolase Al-quran yang disebut palsu

Hasil cek fakta Masyarakat Anti Fitnah Indonesia (Mafindo), bahwa mushaf Almumayyaz sudah melewati pemeriksaan dan pengesahan dari Lajnah Pentashihan Mushaf Alquran (LPMQ) Kementerian Agama.

Pengesahan dari lajnah untuk mushaf Almumayyaz itu dibuktikan dengan penerbitan surat tanda tashih dengan nomor P.VI/1/TL.02.1/1467/2013 untuk mushaf ukuran A4 dan nomor P.VI/1/TL.02.1/1719/2013 (mushaf ukuran A5). Pengesahan tersebut tertanggal 14 November 2013 (10 Muharam 1435 H).

Hoax kedua yang terdapat dalam foto kolase diarahkan pada Alquran yang dikeluarkan penerbit Suara Agung. ’’Ini sampul depan Alquran yang diterbitkan Suara Agung yang di dalamnya tidak terdapat SURAH AL MAIDAH AYAT 51 s/d 57, sengaja dihilangkan dan tolong disebarkan agar seluruh umat muslim mengetahuinya’’. Begitu bunyi informasi hoax pada gambar kedua.

Hoax itu juga sudah lama dan pernah menyebar pada 2017. Penerbit Suara Agung juga telah membuat klarifikasi. Ternyata surah Al Maidah ayat 51–57 tidak sengaja dihilangkan. Tetapi, terjadi kekeliruan cetak di cetakan I pada 2015. Surah Al Maidah ayat 51–57 yang seharusnya tercetak di halaman 117 berada di halaman 113.

Pada 10 Oktober 2018 juga beredar video seorang pria menunjukkan Alquran yang ia sebut palsu.

Salah satu pengunggah video tersebut yakni akun Facebook Shiera Z. Kementerian Agama RI pun memberikan penjelasan. Lajnah Pentashihan Mushaf Alquran dari Kemenag, Ustaz Fahrur Rozi menjelaskan, Alquran di video yang viral itu bukan palsu melainkan Alquran riwayat Warsy dari Imam Nafi.

Menurut dia, Alquran yang diunggah dalam video tersebut adalah cetakan Darul Marifah, Beirut, Lebanon. Alquran itu sama dengan Alquran yang beredar di Indonesia

"Hanya saja, berbeda riwayat, dan berbeda bacaannya, tetapi semua bacaan tersebut adalah riwayat yang mutawatir dan masih digunakan di dunia Islam saat ini," katanya.

Kesimpulan
Dari penelusuran fakta di atas, bahwa pesan berantai yang menyebutkan adanya Al Qur’an palsu karena mengubah terjemahan surat Al Maidah ayat 51 adalah keliru.

IKA NINGTYAS

 

  •