[Fakta atau Hoaks] Benarkah Klaim Judy Mikovits Soal Virus Corona dalam Film Dokumenter Plandemic?

Senin, 11 Mei 2020 13:07 WIB
 
[Fakta atau Hoaks] Benarkah Klaim Judy Mikovits Soal Virus Corona dalam Film Dokumenter Plandemic?

Sebuah film dokumenter yang berjudul Plandemic viral di media sosial dalam beberapa hari terakhir. Film yang mengangkat kisah seorang saintis dan ahli virus Judy Mikovits itu mengungkap sejumlah teori konspirasi mengenai asal-muasal virus Corona penyebab Covid-19, SARS-CoV-2.

Film dokumenter berdurasi sekitar 25 menit tersebut diunggah di Facebook salah satunya oleh akun Cerdas Geopolitik, yakni pada 8 Mei 2020. Hingga artikel ini dimuat, unggahan tersebut telah ditonton lebih dari 115 ribu kali dan dibagikan lebih dari 4 ribu kali.

"Plandemic. Film dokumenter ini sejak tadi malam dihapus-hapusin sama Yutub, lalu diupload lagi sama netizen, dihapus lagi. Mimin selametin deh, plus kasih terjemahan, buat sobat-sobat pejuang follower fenpej ini. Isi filmnya dahsyat. Tentang Covid-19. Tonton sendiri. Saran mimin: sobat-sobat donlot lalu upload di akun masing-masing (jaga-jaga kalau fb ikut-ikutan main hapus video ini)," demikian narasi yang ditulis oleh akun Cerdas Geopolitik dalam unggahan itu.

Film itu pun memicu kontroversi karena menyerang sejumlah tokoh, seperti kepala gugus tugas Covid-19 Amerika Serikat sekaligus Ketua Institut Nasional untuk Alergi dan Penyakit Menular AS (NIAID) Anthony Fauci, Direktur Pusat Pengendalian dan Pencegahan AS (CDC) dan pendiri Microsoft, Bill Gates. Adapun Judy Mikovits menuding bahwa virus Corona baru ini tidak muncul secara alamiah, melainkan berasal dari laboratorium, salah satunya laboratorium di Wuhan, Cina.

"Saya tidak akan menggunakan kata 'dibuat'. Tapi Anda tidak bisa mengatakan bahwa virus itu terjadi secara alami jika itu melalui laboratorium. Jadi, sangat jelas virus ini dimanipulasi. Keluarga virus ini dimanipulasi dan dipelajari di laboratorium tempat hewan-hewan itu dibawa ke laboratorium, dan inilah yang dilepaskan, entah disengaja atau tidak. Itu tidak mungkin terjadi secara alami. Seseorang tidak pergi ke pasar, membeli kelelawar, virus tidak melompat langsung ke manusia. Bukan begitu cara kerjanya. Itu mempercepat evolusi virus. Jika virus itu adalah kejadian alami, akan memakan waktu hingga 800 tahun untuk terjadi."

Gambar tangkapan layar unggahan akun Facebook Cerdas Geopolitik.

Bagaimana kebenaran klaim-klaim Judy Mikovits dalam film dokumenter Plandemic tersebut?

PEMERIKSAAN FAKTA

Judy Mikovits memulai karirnya sebagai teknisi laboratorium di Institut Kanker Nasional AS (NCI) pada 1988. Dia kemudian menjadi seorang ilmuwan dan memperoleh gelar PhD dalam biokimia dan biologi molekuler dari George Washington University pada 1991.

Pada 2009, Mikovits menjabat sebagai direktur penelitian di Institut Whittemore Peterson (WPI), pusat penelitian swasta di Reno, Nevada, AS. Namun, sebagian besar komunitas ilmiah tidak mengenalnya. Pada tahun ini, Mikovits mendadak menjadi kontroversi setelah terlibat dalam penulisan makalah di Jurnal Science yang menyarankan agen tak jelas bernama xenotropic murine leukemia virus-related virus (XMRV) sebagai penyebab sindrom kelelahan kronis (CFS). Kontroversi ini berakhir saat Jurnal Science menarik makalah itu pada 2011 karena kredibilitas hasil penelitian Mikovits diragukan.

Sejak 2012, Mikovits tidak lagi menerbitkan literatur apa pun. Namun, dia kembali mempromosikan hipotesis XMRV di tengah berbagai tuntutan hukum dari institusinya. Kini, ia muncul ke publik sebagai salah satu penulis buku "Plague of Corruption: Restoring Faith in the Promise of Science" dan narasumber dalam video dokumenter viral, Plandemic.

Untuk memeriksa klaim terkait Mikovits ataupun klaim yang dilontarkan oleh Mikovits dalam film Plandemic tersebut, Tempo mengutip hasil pemeriksaan fakta yang dipublikasikan oleh tiga lembaga, yakni ScienceMag, Snopes, dan PolitiFact.

Klaim 1: Judy Mikovits adalah salah satu ilmuwan paling sukses di generasinya. Di puncak karirnya, Mikovits menerbitkan artikel blockbuster di Jurnal Science. Artikel kontroversial itu mengejutkan komunitas ilmiah karena mengungkapkan bahwa penggunaan umum hewan dan jaringan janin manusia melepaskan wabah penyakit kronis yang menghancurkan.

Fakta: Mikovits telah menulis 40 makalah ilmiah, namun tidak dikenal secara luas di komunitas ilmiah sebelum ia menerbitkan makalah di Jurnal Science pada 2009 yang menghubungkan CFS dengan retrovirus yang disebut XMRV. Ilmuwan lain melaporkan bahwa mereka tidak bisa menemukan bukti adanya retrovirus dalam darah pasien dengan CFS. Sebuah tim ilmiah pun menerbitkan sebuah penelitian yang berisi bukti bahwa XMRV muncul karena adanya kontaminasi laboratorium. Pada Desember 2011, para editor Science menarik makalah Mikovits dan mengatakan bahwa mereka telah "kehilangan kepercayaan terhadap laporan itu serta validitas kesimpulannya".

Klaim 2: Mikovits ditahan di penjara, tanpa tuduhan.

Fakta: Pengacara distrik Washoe, Nevada, mengajukan pengaduan pidana terhadap Mikovits yang diduga melakukan pengambilan data komputer secara ilegal dan properti terkait dari WPI. Selain itu, WPI mengajukan gugatan perdata terhadap Mikovits untuk memaksanya mengembalikan "peralatan mereka yang disalahgunakan." Mikovits sempat ditangkap sebagai buron di California, AS.

Klaim 3: Mikovits mengatakan bahwa vaksin akan membunuh jutaan orang. Dia juga menyebut tidak ada vaksin saat ini yang sesuai untuk virus RNA.

Fakta: Vaksin tidak membunuh jutaan orang. Sebaliknya, vaksin telah menyelamatkan jutaan nyawa. Banyak vaksin yang bekerja untuk melawan virus RNA yang dijual di pasaran, termasuk untuk influenza, campak, gondong, rubela, rabies, demam kuning, dan Ebola.

Klaim 4: SARS-CoV-2 dimanipulasi di laboratorium.

Fakta: Menurut perkiraan ilmiah, virus terdekat dengan SARS-CoV-2 adalah virus Corona kelelawar yang diidentifikasi oleh Institut Virologi Wuhan (WIV). "Jarak" waktu evolusi ke SARS-CoV-2 adalah sekitar 20-80 tahun. Tidak ada bukti virus kelelawar ini dimanipulasi.

Menurut artikel di Nature pada 17 Maret 2020, penelitian terhadap struktur genetik SARS-CoV-2 juga menunjukkan bahwa tidak ada manipulasi laboratorium. Para ilmuwan memiliki dua penjelasan tentang asal usul virus tersebut, yakni seleksi alam pada inang hewan atau seleksi alam pada manusia setelah virus melompat dari hewan. "Analisis kami dengan jelas menunjukkan bahwa SARS-CoV-2 bukan hasil konstruksi laboratorium atau virus yang dimanipulasi secara sengaja."

Klaim 5: SARS-CoV-2 muncul dalam satu dekade setelah SARS-CoV. Ini bukan sesuatu yang alami terjadi.

Fakta: Klaim ini keliru. Sebab, Covid-19 adalah penyakit baru dan tidak berasal dari SARS (Severe Acute Respiratory Syndrom). Dalam beberapa hal, SARS-CoV-2 penyebab Covid-19 memang mirip dengan SARS-CoV penyebab SARS. Keduanya adalah jenis virus Corona pada manusia yang berasal dari kelelawar yang menyebabkan penyakit pernapasan dan menyebar melalui batuk dan bersin. Namun, menurut para peneliti, SARS-CoV-2 hanya memiliki 79 persen kesamaan genetik dengan SARS-CoV. Secara genetik, SARS-CoV-2 lebih mirip dengan virus Corona lain yang diturunkan oleh kelelawar daripada SARS-CoV.

Klaim 6: SARS-CoV-2 berasal dari laboratorium di Wuhan.

Fakta: Tidak ada bukti bahwa SARS-CoV-2 berasal dari laboratorium di Wuhan. Pendanaan NIAID bagi kelompok peneliti AS yang bekerja dengan laboratorium di Wuhan pun telah dihentikan, yang mana hal ini membuat marah banyak ilmuwan.

Klaim 7: Italia memiliki populasi yang sangat tua. Mereka sangat menderita dengan gangguan peradangan. Pada awal 2019, mereka mendapat vaksin influenza baru yang belum diuji, yang terdiri atas empat jenis influenza, termasuk H1N1 yang sangat patogen. Vaksin itu ditanam dalam garis sel, garis sel anjing. Anjing memiliki banyak virus Corona.

Fakta: Tidak ada bukti yang menghubungkan vaksin influenza, atau virus Corona pada anjing, dengan pandemi Covid-19 Italia.

Klaim 8: Menurut Mikovits, vaksin flu meningkatkan peluang seseorang terinfeksi Covid-19 hingga 36 persen. Dia menunjukkan studi yang menemukan bahwa personel Departemen Pertahanan AS yang mendapatkan vaksin flu pada 2017 dan 2018 lebih besar kemungkinannya terkena Covid-19 daripada personel yang tidak divaksin.

Fakta: Mikovits merujuk ke penelitian yang diterbitkan pada Januari di jurnal peer-review Vaccine. Tapi klaim Mikovits ini keliru. Penelitian tersebut digelar sebelum munculnya pandemi Covid-19. Dalam penelitian itu, juga tidak terdapat penjelasan bahwa vaksin flu meningkatkan peluang seseorang terinfeksi virus Corona hingga 36 persen. Selain itu, menurut CDC, sebagian besar vaksin flu di AS melindungi warga dari empat jenis virus, yakni influenza A H1N1, influenza A H3N2, dan dua virus influenza B. Tidak ada virus Corona dalam suntikan vaksin flu. Selain itu, belum ada vaksin virus Corona untuk manusia.

Klaim 9: Mengenakan masker benar-benar mengaktifkan virus Anda sendiri. Anda menjadi sakit karena ekspresi virus Corona yang Anda aktifkan kembali. Dan jika itu SARS-CoV-2, maka Anda mendapat masalah besar.

Fakta: Tidak jelas apa yang dimaksud Mikovits dengan "ekspresi virus Corona". Tidak ada bukti bahwa memakai masker dapat mengaktifkan virus dan membuat orang sakit. CDC menyarankan semua orang yang pergi ke tempat umum untuk memakai masker. Tujuannya, untuk mencegah penyebaran virus Corona yang tidak disadari lewat batuk dan bersin mengingat butuh waktu hingga 14 hari bagi seseorang yang terinfeksi untuk menunjukkan gejala.

Memakai masker mencegah penyebaran virus Corona. Hal ini tidak membuat seseorang lebih rentan terhadapnya. "Tidak ada hal apapun terkait pemakaian masker yang memiliki dampak biologis yang relevan terhadap aktivitas virus. Mengenakan masker hanya akan menangkap droplet sebelum mencapai mulut atau hidung kita. Ini bukan ilmu yang tinggi, dan Dr. Mikovits seharusnya tahu itu," kata Richard Peltier, asisten profesor ilmu kesehatan lingkungan di University of Massachusetts, Amherst, AS.

Klaim 10: Anda memiliki mikroba penyembuh di lautan, di air asin.

Fakta: Tidak ada bukti bahwa mikroba di lautan dapat menyembuhkan pasien Covid-19.

KESIMPULAN

Berdasarkan pemeriksaan fakta di atas, tujuh klaim terkait Judy Mikovits maupun klaim yang dilontarkannya dalam film dokumenter Plandemic adalah klaim yang keliru. Sementara itu, tiga klaim lainnya tidak terbukti.

IKA NINGTYAS

Anda punya data/informasi berbeda, kritik atau masukan untuk artikel cek fakta ini? Kirimkan ke cekfakta@tempo.co.id



  •  

    Selengkapnya