[Fakta atau Hoaks] Benarkah Penjelasan Soal Corona dari Mohammad Indro Cahyono dalam Pesan Berantai Ini?

Senin, 13 April 2020 12:16 WIB
 
[Fakta atau Hoaks] Benarkah Penjelasan Soal Corona dari Mohammad Indro Cahyono dalam Pesan Berantai Ini?

Pesan berantai yang berisi hasil wawancara dengan Mohammad Indro Cahyono tentang virus Corona Covid-19 viral di media sosial. Menurut pesan ini, Mohammad Indro Cahyono adalah seorang dokter hewan yang telah meneliti virus selama 20 tahun.

Salah satu poin wawancara dalam pesan berantai itu menyebut bahwa pandemi Covid-19 hanya akan berlangsung selama dua minggu dan pasien Covid-19 dapat sembuh dengan mengkonsumsi vitamin E. Dalam pesan ini, Indro juga mengatakan bahwa virus bisa dibuat cepat menyebar dan menempel ke manusia.

Pertanyaan: Kalau dari manusia, pasti ada penyebar pertamanya...

Jawaban: Ya, penyebar pertamanya dari Wuhan sana, kenapa dia bisa muncul dari sana dan nyebar banyak, ya kita gak ngerti. Spekulasinya banyak. Cuma kalau saya ditanya sebagai orang yang sudah lama maen sama virus, apakah itu bisa dibikin supaya bisa nyebar cepat dan bisa nempel ke manusia, ya saya bilang bisa dibikin.

Pertanyaan: Lewat intervensi para ilmuwan?

Jawaban: Bisa. Gak akan sulit. Kalau orang yang biasa maenan virus, itu bisa. Cuma sekarang gak ada gunanya lagi kita membahas itu, wong virusnya sudah nyebar.

Poin lainnya dalam pesan berantai tersebut yang kontroversial adalah bahwa pasien Covid-19 di Wuhan bisa sembuh karena mengkonsumsi vitamin E, karena vaksin dan obat Covid-19 belum ada. Oleh karena itu, Indro mengimbau agar masyarakat cukup menjaga kebersihan dan mengkonsumsi vitamin E.

Terakhir, Indro memberikan prediksi bahwa pandemi Covid-19 akan menurun dalam dua minggu, lalu berakhir. "Gak lama. Dalam dua minggu setelah ini, sudah menurun, lalu selesai," demikian narasi dalam pesan berantai yang diklaim berasal dari Indro itu.

Di Facebook, pesan berantai ini dibagikan salah satunya oleh akun Nurwanti Listya Dewi, yakni pada 8 April 2020. Hingga artikel ini dimuat, unggahan akun Nurwanti Listya Dewi tersebut telah disukai sebanyak 200 kali dan dibagikan lebih dari 150 kali.

Gambar tangkapan layar unggahan akun Facebook Nurwanti Listya Dewi.

Artikel ini akan berisi pemeriksaan terhadap dua hal:

  • Benarkah isi pesan berantai di atas berasal dari Mohammad Indro Cahyono?
  • Apakah sejumlah penjelasan terkait virus Corona dalam pesan berantai di atas sesuai fakta?

PEMERIKSAAN FAKTA

Berdasarkan penelusuran Tim CekFakta Tempo dengan tool Plagiarism Checker, narasi dalam pesan berantai di atas bersumber dari artikel di situs Radar Banjarmasin yang dimuat pada 23 Maret 2020. Namun, narasi dalam pesan berantai tersebut telah mengalami penambahan berupa pertanyaan dan jawaban yang memuat prediksi bahwa pandemi Covid-19 akan berakhir dalam dua pekan.

Mohammad Indro Cahyono mengakui bahwa isi dari pesan berantai yang beredar tersebut merupakan pernyataannya. "Benar, aslinya itu obrolan biasa. Saya enggak tahu kalau itu wartawan, dan beberapa statement belum siap dibuka ke publik. Saat dirilis, saya enggak diberitahu sebelumnya," kata Indro pada 1 April 2020 seperti dikutip dari Detik.com.

Siapakah Indro Cahyono dan apakah penjelasan dalam pesan berantai di atas sesuai fakta?

Berdasarkan penelusuran Tempo, Mohammad Indro Cahyono adalah dokter hewan lulusan Universitas Gajah Mada. Sejak 2006, ia bekerja di Badan Penelitian Veteriner (Balitvet), sebuah unit yang berada di bawah Pusat Penelitian dan Pengembangan Peternakan Kementerian Pertanian. Di Balitvet, Indro bertugas sebagai peneliti di Laboratorium Virologi. Pada 2018, Indro keluar dari Balitvet dan menjadi peneliti di kantor swasta.

Dilihat dari latar belakang tersebut, Indro sebenarnya adalah ahli kesehatan atau ahli virus pada hewan, bukan ahli virus pada manusia. Ia juga tidak terlibat dalam penanganan klinis pasien yang terinfeksi Covid-19.

Dengan alasan ini, Tim CekFakta Tempo perlu memeriksa ulang penjelasan Indro dengan fakta-fakta penelitian mengenai virus Corona Covid-19. Tempo juga menghubungi Dicky Budiman, dokter sekaligus ahli epidemiologi penyakit menular. Epidemiologi adalah ilmu tentang pola penyebaran penyakit atau kejadian yang berhubungan dengan kesehatan serta faktor-faktor yang dapat mempengaruhi keadaan tersebut pada lingkup masyarakat tertentu.

Berikut ini pemeriksaan fakta atas klaim dalam pesan berantai di atas:

Klaim 1: Virus Corona sudah ada sejak nabi Isa atau 200 tahun sebelum Masehi.

Menurut Dicky, klaim ini tidak memiliki referensi ilmiah. Beberapa penelitian memang menunjukkan bahwa virus Corona sudah ada sejak lama. Tapi hal itu berlaku untuk jenis virus Corona pada hewan, bukan manusia. Virus Corona pada hewan berbeda dengan virus Corona pada manusia.

Mengutip penelitian Jeffrey Kahn, doktor di Yale University School of Medicine, pada 2005 yang berjudul "History and Recent Advances in Coronavirus Discovery", virus Corona pada manusia baru teridentifikasi pada 1965 ketika Tyrrell dan Bynoe menemukan virus bernama B814 yang menyebabkan sebagian besar infeksi saluran pernapasan atas pada anak-anak.

Kemudian, sejak 2003, setidaknya terdapat lima jenis virus Corona baru pada manusia yang telah diidentifikasi, termasuk virus Corona yang menyebabkan Severe Acute Respiratory Syndrome (SARS). Virus Corona penyebab Covid-19 sendiri muncul pertama kali di Wuhan, Cina, pada Desember 2019 dan kemudian menjadi pandemi hingga saat ini.

Klaim 2: Virus pertamanya menyebar di Wuhan. Virus bisa dibuat supaya cepat menyebar dan menempel ke manusia.

Klaim ini adalah bagian dari teori konspirasi bahwa virus Corona Covid-19 diproduksi oleh laboratorium di Wuhan, Cina. Tim CekFakta Tempo pernah memuat artikel yang berisi verifikasi atas teori konspirasi yang awalnya diucapkan oleh ahli perang biologis Israel Dany Shoham itu. Menurut Shoham dalam emailnya kepada Tempo, dia tidak memiliki petunjuk dan bukti untuk pernyataannya tersebut, sehingga teori konspirasi ini tidak bisa dibuktikan.

Dicky juga menjelaskan bahwa teori konspirasi selalu muncul dalam setiap pandemi, seperti saat pandemi HIV-AIDS. Sejauh ini, tidak ada satu pun penelitian para ahli virologi dunia yang menunjukkan bahwa virus Corona Covid-19 adalah produk laboratorium, baik laboratorium Cina maupun laboratorium Amerika Serikat.

Teori konspirasi pun dianggap berbahaya dalam upaya pengendalian Covid-19 karena akan mengurangi sinergi dan kolaborasi dunia global. “Padahal, pandemi tidak bisa ditangani satu negara, harus ada kolaborasi karena sifatnya global,” kata Dicky.

Klaim 3: Minum vitamin E bisa mencegah Covid-19.

Menurut Dicky, vitamin E tidak berkaitan langsung dengan pencegahan Covid-19. Sebelumnya, vitamin D sempat dihubungkan dengan Covid-19 karena berkaitan dengan imunitas. Namun, menurut Dicky, bukan berarti ketika daya tahan tubuh meningkat seseorang menjadi lebih aman dari Covid-19. Pencegahan utama, kata dia, adalah mengkonsumsi makanan bergizi, rajin mencuci tangan, dan jaga jarak.

Dikutip dari situs resmi Akademi Ilmuwan Muda Indonesia, vitamin E juga bukan satu-satunya nutrisi yang dibutuhkan untuk melawan Covid-19. Mikronutrisi, seperti vitamin A, B, C, D, dan E, serta mineral zat besi, selenium, dan seng atau zinc sangat penting melawan infeksi. Penelitian menunjukkan bahwa meningkatkan nutrisi dapat membantu mendukung kerja sistem imun yang lebih optimal.

Klaim 4: Pandemi Covid-19 tidak akan berlangsung lama. Dalam dua minggu setelah ini, sudah menurun, lalu selesai.

Hal ini tidak sesuai dengan pemodelan yang dilakukan oleh ahli epidemiologi Universitas Indonesia yang memprediksi bahwa pandemi Corona akan menurun pada Mei 2020. Prediksi menurun pada Mei ini pun disertai syarat di mana pemerintah harus melakukan intervensi dengan efektif, yakni membatasi mobilitas masyarakat seperti mudik.

Dicky juga menjelaskan bahwa klaim "pandemi selesai dalam dua minggu" tersebut sangat gegabah dan tidak sesuai dengan ilmu pandemi. Secara teori, pandemi akan berhenti setelah setengah dari populasi dunia terinfeksi. Proses ini membutuhkan waktu yang lama sehingga tidak mungkin selesai selama dua pekan.

Merujuk pada sejarah pandemi flu yang dimulai pada Januari 1918, pandemi tersebut baru selesai dalam waktu tiga tahun, yakni pada Desember 1920. Pandemi flu saat itu memiliki nilai kecepatan di atas 2, hampir sama dengan pandemi Covid-19. Pandemi saat itu berlangsung lama karena ketidaksiplinan sejumlah negara untuk membatasi mobilitas masyarakat.

KESIMPULAN

Berdasarkan pemeriksaan fakta Tempo, penjelasan seputar virus Corona Covid-19 dalam pesan berantai di atas memang berasal dari Mohammad Indro Cahyono. Namun, Indro adalah ahli kesehatan pada hewan, sehingga beberapa pernyataannya dalam pesan berantai itu tidak sesuai dengan fakta-fakta mengenai virus Corona Covid-19. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa penjelasan seputar virus Corona Covid-19 dalam pesan berantai di atas sebagian benar.

ZAINAL ISHAQ | IKA NINGTYAS

Anda punya data/informasi berbeda, kritik atau masukan untuk artikel cek fakta ini? Kirimkan ke cekfakta@tempo.co.id



  •  

    Selengkapnya