[Fakta atau Hoaks] Benarkah Erdogan Tak Akan Tutup Masjid di Turki Selama Pandemi Corona?

Selasa, 7 April 2020 12:23 WIB
 
[Fakta atau Hoaks] Benarkah Erdogan Tak Akan Tutup Masjid di Turki Selama Pandemi Corona?

Narasi bahwa Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan menyatakan tidak akan menutup masjid di Turki selama pandemi virus Corona Covid-19 beredar di media sosial. Narasi itu terdapat dalam sebuah gambar tangkapan layar yang juga memuat foto Erdogan ketika berpidato.

Di Facebook, narasi itu dibagikan salah satunya oleh akun Yoedha Al Ghifari, yakni pada Senin, 6 April 2020. Narasi tersebut diklaim berasal dari pidato Erdogan. Berikut isi lengkap narasi tersebut:

"Tidak ada mesjid yang akan ditutup di Turki dari ancaman virus corona. Penutupan mesjid lebih berbahaya dari virus corona. Siapa saja yang meninggalkan mesjid hari ini, besok dia akan kehilangan iman karena dajjal. Percaya kepada Allah dan hanya Allah pemberi pertolongan," Reccep Tayyip Erdogan (Presiden Turki)

Gambar tangkapan layar unggahan akun Facebook Yoeda Al Ghifari.

Apa benar Presiden Turki Erdogan tidak akan menutup masjid di Turki selama pandemi Corona?

PEMERIKSAAN FAKTA

Berdasarkan penelusuran Tim CekFakta Tempo terhadap pemberitaan di media-media kredibel, pemerintah Turki telah memberlakukan kebijakan berupa larangan salat berjamaah di masjid untuk memutus rantai penyebaran virus Corona Covid-19.

Dilansir dari kantor berita Turki, Anadolu Agency, Dewan Tertinggi Urusan Agama Direktorat Agama Turki telah mengeluarkan fatwa untuk menghentikan salat berjamaah di semua masjid pada 16 Maret 2020 hingga ancaman virus berakhir, termasuk salat Jumat.

Keputusan Direktorat Agama Turki itu pun dipasang di pintu masuk masjid-masjid. Bahkan, di Ankara, ibu kota Turki, petugas kepolisian ditempatkan di depan masjid untuk mencegah warga masuk. Meskipun begitu, azan tetap dikumandangkan.

Setelah azan, sebuah pengumuman dibacakan, "Mari kita berdoa di rumah atau tempat kerja untuk melindungi bangsa kita dari epidemi ini. Semoga Allah melindungi kita, negara kita, bangsa kita, dan seluruh umat manusia dari penyakit dan kemalangan ini."

Salah satu masjid yang dikunjungi oleh Anadolu Agency, Masjid Eyup Sultan di Istanbul, dikunci pada hari Jumat. Langkah-langkah keamanan juga diambil di sekitar masjid. Warga yang mendekati masjid serta makam yang berada di masjid tersebut ditolak oleh penjaga keamanan.

Kepala Direktorat Agama Turki, Ali Erbas, mengatakan bahwa untuk menggantikan salat Jumat, warga dapat melakukan salat zuhur. Adapun pada 19 Maret 2020, karena ancaman virus semakin besar, Direktorat Agama Turki memutuskan untuk menutup masjid pada malam Isra Miraj.

Dilansir dari Republika.co.id, Erbas mengatakan bahwa penghentian salat berjamaah di masjid ini akan dilakukan hingga risiko wabah virus Corona Covid-19 berakhir. Namun, menurut Erbas, masjid akan tetap terbuka untuk salat pribadi.

Selain masjid-masjid, gereja dan sinagoge di Istanbul juga menghentikan layanan mereka sebagai respons atas penyebaran virus Corona. Menurut laporan media setempat, gereja dan sinagoge terlihat ditutup di distrik Beyoglu, Istanbul.

Dikutip dari kantor berita Antara, pada 18 Maret 2020, Presiden Turki Erdogan meminta warganya tinggal di rumah untuk meminimalkan kontak sosial hingga ancaman virus Corona Covid-19 menurun. Meskipun demikian, Erdogan tidak mengatakan kepada rakyat Turki untuk meninggalkan pekerjaan mereka.

"Tak satu pun dari warga negara kami harus meninggalkan rumah mereka atau melakukan kontak dengan siapa pun, kecuali jika benar-benar diperlukan, sampai ancaman itu hilang," kata Erdogan. "Warga kami yang akan pergi ke kantor harus langsung kembali ke rumah setelah mereka selesai bekerja."

Kemudian, pemerintah Turki juga mengumumkan kematian kedua akibat virus Corona dan jumlah kasus Covid-19 menjadi 191 di saat pemerintah gencar memerangi Covid-19 dengan menutup kafe, melarang salat berjamaah, dan menghentikan penerbangan ke 20 negara.

Berdasarkan arsip pemberitaan Tempo, Presiden Turki Erdogan juga memberlakukan jam malam untuk warga berusia di bawah 20 tahun mulai 3 April 2020 malam untuk mencegah penularan virus Corona Covid-19. "Kami harus memutuskan untuk memberlakukan jam malam sebagian untuk orang-orang berusia di bawah 20 pada Jumat malam ini," kata Erdogan.

Akhir Maret lalu, pemerintah Turki telah menginstruksikan warganya yang berusia lebih dari 65 tahun serta yang menderita sakit kronis untuk tinggal di rumah. Erdogan juga memutuskan untuk menutup perbatasan di 31 kota termasuk Istanbul bagi semua kendaraan, kecuali untuk transit dan pemasokan produk pangan, kesehatan, dan sanitasi untuk mengatasi penyakit ini.

"Penutupan perbatasan kota akan berlaku selama 15 hari. Periode ini dapat diperpanjang jika diperlukan," ujar Erdogan. Selain itu, Turki mewajibkan penggunaan masker di tempat-tempat umum, transportasi umum, toko-toko, dan tempat kerja. Seluruh penerbangan internasional juga dilarang masuk Turki, perjalanan domestik dibatasi, sekolah, bar, dan warung kopi ditutup.

KESIMPULAN

Berdasarkan pemeriksaan fakta di atas, narasi bahwa Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan menyatakan tidak akan menutup masjid di Turki selama pandemi virus Corona Covid-19 merupakan narasi yang keliru. Sejak 16 Maret 2020, pemerintah Turki telah menutup masjid untuk kegiatan salat berjamaah, termasuk salat Jumat dan Isra Miraj.

ZAINAL ISHAQ

Anda punya data/informasi berbeda, kritik atau masukan untuk artikel cek fakta ini? Kirimkan ke cekfakta@tempo.co.id



  •  

    Selengkapnya