[Fakta atau Hoaks] Benarkah Puncak Penyebaran Corona Akan Terjadi pada 23 Maret-3 April 2020?

Selasa, 31 Maret 2020 15:09 WIB
 
[Fakta atau Hoaks] Benarkah Puncak Penyebaran Corona Akan Terjadi pada 23 Maret-3 April 2020?

Sebuah pesan berantai yang menyinggung puncak penyebaran virus Corona Covid-19 beredar di grup-grup percakapan WhatsApp sejak Minggu, 29 Maret 2020. Dalam pesan berantai itu, disebutkan bahwa puncak penyebaran virus Corona akan terjadi pada 23 Maret-3 April 2020.

Berikut narasi utuh pesan berantai tersebut:

"Mulai besok, jangan keluar rumah mencari makanan atau untuk apa pun, karena hal yang terburuk dimulai, tanggal inkubasi telah tiba dan banyak yg terinfeksi positif akan menunjukkan gejalanya dan banyak orang bisa tertular, jadi sangat penting untuk tetap di rumah dan tidak berhubungan dengan tidak bertemu orang lain, sangat berhati-hati adalah sangat penting.

Dari 23 Maret hingga 3 April kita harus menjaga diri kita sendiri, karena kita akan berada di puncak penyebaran virus dalam dua minggu, biasanya dalam dua minggu itu semua yang terinfeksi akan muncul kemudian ada dua minggu tenang dan kemudian dua minggu lagi mulai berkurang.

Apa yang terjadi di Italia adalah bahwa siklus ini diabaikan pada musim penularan dan itulah mengapa semua kasus bercampur menjadi satu.

Dan akhirnya, jangan menerima kunjungan dari siapa pun, bahkan dari keluarga yang sama. Ini semua untuk kebaikan semua.

KITA AKAN BERADA DI TINGKAT INFEKSI MAKSIMUM.

JANGAN ABAIKAN PESAN INI, BAGIKAN KE SEMUA KONTAK ANDA."

Gambar tangkapan layar pesan berantai di WhatsApp mengenai puncak penyebaran virus Corona Covid-19.

Apa benar puncak penyebaran virus Corona Covid-19 akan terjadi pada 23 Maret-3 April 2020?

PEMERIKSAAN FAKTA

Dilansir dari situs media Detik.com, ilmuwan matematika Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo, Sutanto Sastraredja, memprediksi puncak infeksi virus Corona Covid-19 terjadi pada pertengahan Mei 2020. Namun, akhir dari pandemi ini tergantung dari kebijakan yang diambil pemerintah.

Dosen Program Studi Matematika Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan (FMIPA) UNS ini memaparkan dinamika populasi Covid-19 secara matematis dengan model SIQR. Dalam model ini, Susceptible (S) digambarkan sebagai orang sehat yang rentan terinfeksi, Infected (I) sebagai orang yang terinfeksi, Quarantine (Q) sebagai proses karantina, dan Recovery (R) sebagai orang yang telah sembuh dari Covid-19.

Sutanto pun mengambil data sejak 2 Maret 2020, saat pertama kali pemerintah mengumumkan bahwa terdapat dua orang yang terinfeksi virus Corona Covid-19, hingga 22 Maret 2020. "Dari data itu saya temukan parameter. Parameter ini kemudian saya masukkan dalam rumus matematika, sehingga bisa menghitung kecepatan orang yang sudah terinfeksi dan yang masuk karantina," ujarnya pada 28 Maret 2020.

Model SIQR ini kemudian dianalisis lagi menggunakan metode numerik Runge-Kutta Orde 4 sehingga menghasilkan sebuah grafik. Kesimpulannya, jika tidak ada perubahan dalam penanganan, diperkirakan bahwa puncak infeksi virus Corona Covid-19 terjadi pada pertengahan Mei 2020.

Hasil yang berbeda ditemukan dalam simulasi yang dibuat oleh Tim dari Pusat Pemodelan Matematika dan Simulasi Institut Teknologi Bandung (ITB). Mereka memprediksi bahwa puncak wabah virus Corona Covid-19 akan terjadi pada pekan kedua hingga ketiga April 2020. Data untuk proyeksi ini merujuk pada data Kementerian Kesehatan yang mencatat jumlah kasus positif Corona di Indonesia sebanyak 369 orang hingga 20 Maret.

Sebelumnya, dalam proyeksi awal, tim dari ITB tersebut memprediksi bahwa wabah Corona di Indonesia akan mencapai puncaknya pada akhir Maret dengan jumlah kasus baru harian mencapai 600 kasus. Sementara itu, wabah ini diprediksi akan berakhir pertengahan April, sekitar 10-12 April, dengan jumlah akumulasi maksimum 8 ribu kasus. Namun, karena data kasus positif bersifat dinamis, hasil proyeksi mengalami perubahan.

"Berdasar data yang ada saat ini, kami memproyeksikan puncaknya akan bergeser di sekitar bulan April antara pekan kedua hingga ketiga," kata ketua tim tersebut, Nuning Nuraini, pada 21 Maret 2020. Tim dari ITB ini juga memproyeksikan bahwa wabah Corona yang dimulai pada awal Maret kemarin bakal berakhir sekitar akhir Mei hingga awal Juni mendatang.

Selain itu, penderita Covid-19 di Indonesia hingga pekan ketiga Mei diperkirakan bisa mencapai 60 ribu orang. Sedangkan proyeksi penyebaran Covid-19 harian, puncak kurvanya bisa menyentuh angka 2 ribu kasus pada masa puncak wabah antara pekan kedua hingga ketiga April.

Tim dari ITB tersebut membuat simulasi dan pemodelan sederhana mengenai prediksi penyebaran Corona lewat pengembangan dari model logistik Richard's Curve karya F.J. Richards. Menurut Nuning, model ini dipakai karena memiliki hasil yang cukup baik dalam menentukan awal, puncak, dan akhir wabah SARS di Hong Kong pada 2003.

Terkait beberapa pandangan mengenai puncak penyebaran virus Corona Covid-19 tersebut, seperti dilansir dari situs media Detik.com pada 29 Maret 2020, juru bicara pemerintah untuk penanganan Covid-19, Achmad Yurianto, mengatakan bahwa perhitungan tersebut bisa benar dan bisa juga tidak.

Menurut Yuri, jika jaga jarak fisik terus dilakukan, bukan tidak mungkin pada minggu keempat April kasus Corona akan menurun. "Ada yang mengatakan, kalau social distancing berhasil, pada minggu kedua-ketiga April itu puncak. Setelah itu, akan ada penambahan kasus baru yang lebih sedikit. Hampir sama grafiknya dengan di Wuhan, di mana-mana. Naik, terus turun," katanya.

KESIMPULAN

Berdasarkan pemeriksaan fakta di atas, narasi bahwa puncak penyebaran virus Corona akan terjadi pada 23 Maret-3 April 2020 tidak terbukti. Beberapa peneliti memang memiliki pendapat yang berbeda tentang puncak penyebaran Corona. Namun, sejauh ini, sejumlah peneliti memprediksi puncak penyebaran Corona terjadi pada pekan kedua hingga ketiga April atau pertengahan Mei.

ZAINAL ISHAQ

Anda punya data/informasi berbeda, kritik atau masukan untuk artikel cek fakta ini? Kirimkan ke cekfakta@tempo.co.id



  •  

    Selengkapnya