[Fakta atau Hoaks] Benarkah Antivirus Corona Ini Ditemukan oleh Para Dokter Israel dan Cina?

Rabu, 12 Februari 2020 17:00 WIB
 
[Fakta atau Hoaks] Benarkah Antivirus Corona Ini Ditemukan oleh Para Dokter Israel dan Cina?

Klaim bahwa antivirus Corona Wuhan yang bernama Remdesivir ditemukan oleh para dokter Israel dan Cina beredar di media sosial. Klaim itu terdapat dalam sebuah gambar yang berisi foto sejumlah tenaga medis serta narasi bahwa para dokter Israel yang diperbantukan ke Wuhan, Cina, berhasil menciptakan vaksin sebagai antivirus Corona.

"Negara Israel perbantukan dokter-dokter terbaiknya ke Wuhan, China, buat atasi Coronavirus dan ciptakan vaksin antivirusnya. Untuk uji coba awal, 427 orang dinyatakan sembuh dengan vaksin baru tersebut kerja sama farmasi Israel dan China," demikian bunyi narasi dalam gambar tersebut.

Selain itu, terdapat pula gambar tangkapan layar sebuah artikel dari situs Batamxinwen. Artikel itu berjudul "Sebanyak 243 Pasien di China Dinyatakan Sembuh dari Corona".

Di Facebook, gambar dengan narasi tersebut diunggah salah satunya oleh akun Hatopma Simanjuntak. Dalam unggahannya pada 11 Februari 2020 itu, akun ini menuliskan narasi, "Antivirus Corona sudah berhasil (fix) ditemukan oleh para dokter Yahudi/Israel bersama dengan dokter China dengan uji coba dan sukses. Nama antivirusnya Remdesivir."

Gambar tangkapan layar unggahan akun Facebook Hatopma Simanjuntak.

Artikel cek fakta ini akan memverifikasi dua hal:
- Benarkah antivirus Corona yang bernama Remdesivir ditemukan oleh para dokter Israel dan Cina?
- Benarkah foto-foto dalam unggahan di atas adalah foto-foto tenaga medis dari Israel yang dikirim ke Wuhan?

PEMERIKSAAN FAKTA

Remdesivir tidak terkait etnis tertentu

Berdasarkan arsip pemberitaan Tempo, Remdesivir adalah obat eksperimental buatan Gilead Sciences, perusahaan bioteknologi Amerika Sering yang fokus dalam penemuan, pengembangan, dan komersialisasi obat-obatan.

Gilead Sciences menjalin kolaborasi dengan pemerintah Cina, pemerintah Amerika, dan sejumlah lembaga kesehatan dunia untuk menguji efisiensi dan efektivitas Remdesivir (GS-5734). Uji klinis pun dilakukan segera setelah, dalam uji laboratorium, obat itu terlihat efektif melawan virus Corona Wuhan.

Remdesivir adalah sebuah nucleotide analogue prodrug yang sebenarnya dikembangkan sebagai obat infeksi virus Marburg dan virus Ebola dari keluarga virus Filoviridae. Kedua virus itu pernah mewabah di Afrika pada 2014-2016.

Awalnya, Remdesivir dan obat malaria Chloroquine muncul sebagai dua antivirus yang paling efektif di antara lima antivirus yang diuji Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika (FDA) secara in vitro (diuji ke sel yang mengandung virus Corona Wuhan serta ke tikus dan hewan nonprimata di laboratorium).

Remdesivir mulai diujikan ke manusia setelah kondisi pasien Corona Wuhan pertama di Amerika semakin kritis. Si pasien pun mengidap pneumonia, dan dokter yang merawatnya mencoba menggunakan Remdesivir pada hari ke-7. Hasilnya, tidak ada efek samping berbahaya yang dilaporkan, sementara kondisi pasien membaik.

Menurut Merdad Parsey, chief medical officer di Gilead Sciences, pihak yang bekerja sama dengan perusahaannya untuk memproduksi Remdesivir antara lain FDA, Pusat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Amerika (CDC), CDC Cina, dan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).

Sejalan dengan uji klinis yang dikabarkan bakal dilakukan di Cina, Gilead Sciences mengembangkan uji laboratorium Remdesivir terhadap sampel virus Corona Wuhan dan menyediakan obat eksperimen itu secara terbatas ke kalangan dokter untuk penggunaan darurat.

Terkait artikel yang berjudul "Sebanyak 243 Pasien di China Dinyatakan Sembuh dari Corona", situs Batamxinwen memang pernah mempublikasikannya pada 1 Februari 2020. Artikel itu dikutip dari berita di Antara yang terbit pada tanggal yang sama. Namun, dalam berita itu, tidak dijelaskan obat yang digunakan untuk menyembuhkan para pasien itu.

Berdasarkan penelusuran di atas, Remdesivir awalnya diproduksi oleh Gilead Sciences. Saat ini, uji klinis dan pengembangan Remdesivir sebagai antivirus Corona Wuhan dilakukan lewat kolaborasi bersama berbagai lembaga, tidak terkait dengan etnis maupun agama tertentu.

Bukan foto-foto tenaga medis dari Israel

Dengan reverse image tools dari Yandex dan TinEye, Tempo menemukan empat foto dalam gambar unggahan akun Hatopma Simanjuntak bukanlah foto tenaga medis dari Israel yang dikirim ke Wuhan. Berikut ini fakta atas foto-foto yang diklaim sebagai foto-foto tenaga medis dari Israel itu:

Foto 1

Foto ini pertama kali dipublikasikan pada 18 Juni 2015 di situs stok foto Big Stock Photo. Foto yang berjudul "Surgeon with national flag on background-Israel" itu adalah foto milik salah satu kontributor situs itu, Niyazz. Foto ini tidak terkait dengan wabah virus Corona Wuhan yang dilaporkan pertama kali pada Desember 2019.

Sumber: Big Stock Photo

*****

Foto 2

Foto ini adalah foto tim medis dari Israel yang membantu perawatan korban Topan Haiyan di Filipina pada 20 November 2013. Foto tersebut dimiliki oleh Unit Kehumasan Pasukan Pertahanan Israel (Israel Defense Forces). Foto tersebut pernah digunakan oleh beberapa media dalam beritanya, salah satunya Times of Israel pada 18 Oktober 2016.

Sumber: Times of Israel

*****

Foto 3

Foto ini adalah foto seorang tenaga media yang sedang memeriksa infus seorang pasien di Unit Perawatan Intensif (ICU) Rumah Sakit Zhongnan Universitas Wuhan, Cina, pada 24 Januari 2020. Foto ini adalah foto milik kantor berita Cina, Xinhua.

Sumber: South China Morning Herald

*****

Foto 4

Foto ini adalah foto Ali Mohamed Zaki, ahli virologi dari Rumah Sakit Dr. Soliman Fakeeh di Jeddah, Arab Saudi, yang menemukan salah satu jenis virus Corona pada 2012. Virus Corona yang ditemukan oleh Zaki adalah virus Corona jenis Middle East Respiratory Syndrom Coronavirus (MERS-CoV).

Sumber: Tempo

KESIMPULAN

Berdasarkan pemeriksaan fakta di atas, Remdesivir awalnya diproduksi oleh Gilead Sciences. Saat ini, uji klinis dan pengembangan Remdesivir sebagai antivirus Corona Wuhan sedang dilakukan lewat kolaborasi bersama berbagai lembaga, tidak terkait dengan etnis maupun agama tertentu. Empat foto dalam unggahan akun Facebook Hatopma Simanjuntak pun bukanlah foto tenaga medis dari Israel. Dengan demikian, unggahan akun tersebut menyesatkan.

IKA NINGTYAS

Anda punya data/informasi berbeda, kritik atau masukan untuk artikel cek fakta ini? Kirimkan ke cekfakta@tempo.co.id



  •  

    Selengkapnya