[Fakta atau Hoaks] Benarkah Dua Juta Warga Cina Masuk ke Indonesia Setiap Tahunnya?

Rabu, 12 Februari 2020 12:18 WIB
 
[Fakta atau Hoaks] Benarkah Dua Juta Warga Cina Masuk ke Indonesia Setiap Tahunnya?

Narasi bahwa lebih dari dua juta warga Cina masuk ke Indonesia setiap tahunnya beredar di media sosial. Narasi itu terdapat dalam sebuah judul artikel di situs Warta-berita.com yang berbunyi "Dubes Cina Buka Kartu: Tiap Tahun, 2 Juta Lebih Warga Kami Masuk Indonesia".

Oleh akun Oyong Alfari, tautan artikel tersebut dibagikan ke Facebook pada 7 Februari 2020. Dalam unggahannya yang telah dibagikan lebih dari 600 kali itu, akun Oyong Alfari juga memberikan narasi, "Akhirnya kebohongan rejim yang selama ini ditutup-tutupi kebongkar juga."

Unggahan ini pun telah dikomentari lebih dari 100 kali. Banyak di antara komentar itu yang mengaitkan judul artikel tersebut dengan tenaga kerja asing (TKA) asal Cina. Akun Merizal-rizal misalnya, berkomentar, "Ada yang bilang tidak banyak TKA Cina di Indonesia."

Gambar tangkapan layar unggahan akun Facebook Oyong Alfari.

Apa benar lebih dari dua juta warga Cina masuk ke Indonesia setiap tahunnya?

PEMERIKSAAN FAKTA

Untuk memeriksa klaim di atas, Tim CekFakta Tempo membuka tautan artikel Warta-berita.com yang dimuat pada 6 Februari 2020 itu dan memeriksa isinya secara menyeluruh. Narasi bahwa "dua juta warga lebih Cina masuk ke Indonesia setiap tahunnya" baru ditemukan di paragraf ke-15. Adapun angka "dua juta lebih" merujuk pada jumlah turis asal Cina, bukan TKA Cina.

Dalam artikel itu, Duta Besar Republik Rakyat Tiongkok untuk Indonesia, Xiao Qian, mengatakan bahwa Cina menjadi negara terbesar kedua penyumbang wisatawan asing di Indonesia. Menurut Qian, setiap tahunnya, ada dua juta lebih warga Cina yang masuk ke Indonesia.

Untuk memastikan informasi itu, mengingat Warta-berita.com tidak mencantumkan alamat serta susunan redaksi, Tempo melakukan pencarian di Google dengan kata kunci dari kalimat di artikel Warta-berita.com itu, yakni "China juga menjadi negara kedua terbesar penyumbang wisawatan asing. Setiap tahunnya, ada 2 juta lebih warga China yang masuk Indonesia."

Hasilnya, ditemukan bahwa artikel Warta-berita.com tersebut serupa dengan berita di laman Liputan6.com berjudul "Indonesia Setop Penerbangan dan Impor dari China, Dubes RRT: Jangan Berlebihan" yang dimuat dua hari sebelumnya, tepatnya pada 4 Februari 2020. Typo yang terdapat di paragraf ke-18 berita Liputan6.com itu pun, yakni pada kata "wisawatan", tidak diubah oleh Warta-berita.com.

Gambar tangkapan layar berita di Liputan6.com.

Berita itu berisi tentang tanggapan Dubes Cina, Xiao Qian, soal langkah pemerintah menyetop penerbangan dari dan ke Cina serta menghentikan impor makanan dan minuman dari Cina untuk mengantisipasi penularan virus Corona Wuhan. "Menurut kami, dalam situasi ini, kita harus tenang, tidak perlu terlalu overreact dan memberikan dampak negatif terhadap perdagangan, investasi, dan pergerakan orang."

Qian khawatir keputusan pemerintah itu dapat merugikan hubungan perdagangan antara kedua negara. Qian juga meyakini bahwa akan ada dampak negatif dari pembatasan wisata terhadap Cina. "Terkait dampak oleh tindakan pembatasan penerbangan dan impor-ekspor, saya pikir dampaknya perlu dihitung secara bertahap. Tapi saya tegaskan lagi, kita berharap tindakan itu tidak perlu diambil," ujarnya.

Menurut Qian, Cina sudah delapan tahun berturut-turut menjadi mitra perdagangan terbesar bagi Indonesia. Cina juga menjadi negara kedua terbesar penyumbang wisatawan asing. Setiap tahunnya, ada dua juta lebih turis dari Cina yang mengunjungi Indonesia. Tak hanya itu, China juga merupakan salah satu sumber investasi terbesar untuk Indonesia. "Itu sebenarnya juga akan merugikan pariwisata Indonesia sendiri."

Pernyataan Qian tersebut juga dimuat oleh sejumlah media lain. Situs Detik.com misalnya, memuat berita itu dengan judul "Dubes China Sayangkan RI Setop Penerbangan Terkait Virus Corona". Sementara situs Kumparan.com memuat berita tersebut dengan judul "China Peringatkan Kerugian Jika RI Setop Perdagangan karena Corona". Dalam kedua berita tersebut, angka "dua juta lebih" merujuk pada jumlah wisatawan Cina.

Berdasarkan arsip pemberitaan Tempo, data Badan Pusat Statistik menunjukkan jumlah kunjungan wisatawan asing ke Indonesia pada 2019 mencapai 16,1 juta kunjungan. Sementara jumlah kunjungan turis Cina yang datang ke Indonesia pada 2019 mencapai 2,07 juta kunjungan.

Selain Cina, negara-negara lain yang menduduki peringkat lima besar turis asing yang datang ke Indonesia yakni Malaysia (2,98 juta kunjungan), Singapura (1,93 juta kunjungan), Australia (1,38 juta kunjungan), dan Timor Leste (1,17 juta kunjungan).

KESIMPULAN

Berdasarkan pemeriksaan fakta di atas, pernyataan Dubes Cina untuk Indonesia, Xiao Qian, mengenai "dua juta lebih warga Cina masuk ke Indonesia" terkait dengan jumlah turis Cina yang datang ke Indonesia selama 2019, bukan TKA Cina. Dengan demikian, narasi yang dibagikan akun Facebook Oyong Alfari menyesatkan karena penyampaiannya mengarahkan ke tafsir yang salah.

IBRAHIM ARSYAD

Anda punya data/informasi berbeda, kritik atau masukan untuk artikel cek fakta ini? Kirimkan ke cekfakta@tempo.co.id



  •  

    Selengkapnya