[Fakta atau Hoaks] Benarkah Nadiem Makarim Sebut NEM, IPK, dan Ranking Tak Berpengaruh pada Kesuksesan?

Jumat, 24 Januari 2020 13:17 WIB
 
[Fakta atau Hoaks] Benarkah Nadiem Makarim Sebut NEM, IPK, dan Ranking Tak Berpengaruh pada Kesuksesan?

Sejumlah akun di Facebook membagikan narasi yang diklaim berasal dari Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Makarim. Narasi itu menyebut bahwa NEM (Nilai Ebtanas Murni, saat ini bernama Nilai Ujian Nasional), IPK (Indeks Prestasi Kumulatif), dan ranking tidak berpengaruh pada kesuksesan anak di kemudian hari.

Salah satu akun yang membagikan narasi itu adalah akun Yuri Riantara, yakni pada Jumat, 24 Januari 2020. Dilengkapi dengan foto Nadiem, akun ini menuliskan narasi yang memiliki kalimat pembuka: "Kata Nadiem Makarim, mematahkan mitos NEM, IPK, dan rangking".

Dalam narasi itu, terdapat klaim bahwa Nadiem telah mengarungi pendidikan selama 22 tahun, mulai dari TK hingga S3. Kemudian, Nadiem mengajar selama 15 tahun di universitas-universitas di tiga negara maju, yakni Amerika Serikat, Korea Selatan, dan Australia, serta di Indonesia.

"Pengalaman hidup saya menunjukkan seperti itu. Saya menjadi saksi betapa tidak relevannya ketiga konsep di atas terhadap kesuksesan hidup seseorang."

Hingga artikel ini dimuat, unggahan akun Yuri Riantara tersebut telah dibagikan lebih dari 400 kali, dikomentari 250 kali, dan disukai lebih dari 1.800 kali.

Gambar tangkapan layar unggahan akun Facebook Yuri Riantara yang memuat narasi keliru mengenai Mendikbud Nadiem Makarim.

Benarkah narasi "mematahkan mitos NEM, IPK, dan ranking" tersebut pernah diucapkan oleh Mendikbud Nadiem Makarim?

PEMERIKSAAN FAKTA

Untuk memeriksa klaim di atas, Tempo menelusuri isi lengkap narasi yang diunggah akun Yuri Riantara itu dan dicocokkan dengan riwayat hidup Nadiem Makariem. Isi dari narasi tersebut yang tidak cocok dengan riwayat hidup Nadiem adalah bahwa Nadiem mengajar selama 15 tahun di universitas-universitas di tiga negara maju, yakni AS, Korsel, dan Australia.

Seperti dalam riwayat hidup Nadiem yang dimuat oleh situs media Tirto.id, Nadiem tidak pernah mengajar di universitas-universitas di AS, Korsel, maupun Australia. Sebelum menjadi Mendikbud, Nadiem pernah bekerja sebagai Management Consultant McKinsey & Company, Co-Founder Zalora Indonesia, Managing Editor Zalora Indonesia, dan CEO PT Go-Jek Indonesia.

Kemudian, Tempo menggunakan mesin pencari Google untuk menelusuri asal artikel tersebut dengan kata kunci "mematahkan mitos NEM, IPK, dan ranking". Hasilnya, artikel itu banyak dimuat di sejumlah situs dan blog dengan keterangan penulis Profesor Agus Budiyono, bukan Nadiem Makarim.

Untuk mendapatkan sumber pertamanya, Tempo menelusuri narasi itu dalam akun Facebook Agus Budiyono. Lewat penelusuran itu, Tempo mendapatkan kolom yang diunggah oleh Agus pada 8 November 2018 dengan judul "Kegembiraan Dalam Belajar: Mematahkan Mitos NEM, IPK dan Rangking".

Gambar tangkapan layar sebagian isi kolom yang ditulis Profesor Agus Budiyono di Facebook.

Saat ini, Agus menjabat sebagai Wakil Ketua Pusat Pemberdayaan Teknologi Indonesia (ICTE), sebuah konsorsium industri, universitas, dan pemerintah untuk mempersiapkan klaster teknologi maju yang muncul di Indonesia.

Sebelumnya, Agus memang pernah mengajar di universitas-universitas di tiga negara maju, seperti yang tertulis dalam kolomnya. Agus pernah menjadi associate professor di RMIT University (Australia), Massachusetts Institute of Technology (AS), dan associate professor di Konkuk University (Korea Selatan). Ia juga pernah mengajar di Institut Teknologi Bandung.

KESIMPULAN

Berdasarkan pemeriksaan fakta di atas, klaim bahwa Mendikbud Nadiem Makarim menyebut NEM, IPK, dan ranking tidak berpengaruh pada kesuksesan adalah klaim yang keliru. Narasi "mematahkan mitos NEM, IPK, dan ranking" itu diambil dari kolom Wakil Ketua ICTE Agus Budiyono di Facebook pada 8 November 2018.

IKA NINGTYAS

Anda punya data/informasi berbeda, kritik atau masukan untuk artikel cek fakta ini? Kirimkan ke cekfakta@tempo.co.id



  •  

    Selengkapnya