[Fakta atau Hoaks] Benarkah Ketua PBNU Said Aqil Sebut Cina Bukan Komunis dan Justru Arab yang Komunis?

Rabu, 18 Desember 2019 09:25 WIB
 
[Fakta atau Hoaks] Benarkah Ketua PBNU Said Aqil Sebut Cina Bukan Komunis dan Justru Arab yang Komunis?

Narasi bahwa Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), Said Aqil Siradj, menyatakan Cina bukan komunis dan justru Arab Saudi yang komunis viral di media sosial. Narasi ini beredar seiring dengan ramainya pemberitaan tentang dugaan persekusi terhadap etnis minoritas muslim Uighur di Xinjiang, Cina.

Salah satu akun yang membagikan narasi itu adalah akun Usman Wala di Facebook, yakni pada Senin, 16 Desember 2019. Narasi itu terdapat dalam gambar tangkapan layar sebuah artikel di blog Embarxi. Artikel itu berjudul "Said Aqil: Negara China Bukan Negara Komunis, Yang Komunis Itu Justru Arab?".

Namun, akun Usman Wala tidak mencantumkan tautan artikel tersebut. Tidak ada pula keterangan waktu yang tertulis dalam gambar tangkapan layar yang dibagikan akun Usman Wala. Akun Usman Wala hanya menulis narasi, "Trus.. knp nama loe pakai nama ke arab2an???"

Selain akun Usman Wala, gambar tangkapan layar tersebut juga dibagikan oleh akun Putra Inka. Akun ini mengunggah gambar itu ke grup Facebook Anies Baswedan for RI 1 2024-2029. Akun Putra Inka pun menulis narasi yang melengkapi unggahan tersebut, yakni sebagai berikut:

"Apa Karena Ulama Ini Salah Minum Obat Apa Karena Kebanyakan Mengkosumsi MICIN Kok Jadinya Negara Arab Yg Di Benci Dan Di Fitnah Sich Sm Ulama Ini,CHINA Yang Jelas" Melakukan PENINDASAN PEMBANTAIAN Pd MUSLIM UIGHUR Malah MEMFITNAH Negara ARAB Nt Ulama Cap Apa Sich ini Sebenarnya ??? #SAVEUIGHUR Klau Sttus Sy Ini Hilang Lg Ada Yg Gak Beres Setiap Saya Teriak SAVE UIGHUR."

Hingga artikel ini dimuat, unggahan akun Usman Wala telah dikomentari 25 kali dan dibagikan 11 kali. Sementara unggahan akun Putra Inka telah dikomentari 398 kali dan dibagikan 288 kali.

Gambar tangkapan layar unggahan akun Putra Inka yang memuat informasi keliru terkait Ketua PBNU Said Aqil Siradj.

Benarkah Said Aqil menyatakan bahwa Cina bukan negara komunis dan justru Arab Saudi yang komunis?

PEMERIKSAAN FAKTA

Terkait foto

Pertama-tama, Tim CekFakta Tempo memeriksa foto dalam gambar tangkapan layar yang diunggah akun Usman Wala dan akun Putra Inka. Hasilnya, foto itu pertama kali dimuat oleh situs Tribunnews pada 21 Oktober 2018 dalam berita yang berjudul "Ketua PBNU: Kampanye di Pesantren Dilarang, Silaturahmi Boleh".

Berita itu berisi tentang komentar Said Aqil mengenai larangan kampanye pasangan calon presiden dan calon wakil presiden di lingkungan pendidikan, termasuk pesantren. Komentar tersebut disampaikan oleh Said Aqil di Tzu Chi Center, Jalan Pantai Indah Kapuk, Jakarta Utara.

Foto yang sama dengan angle yang berbeda dimuat oleh laman CNN Indonesia, juga pada 21 Oktober 2018, dalam berita yang berjudul "PBNU Tak Permasalahkan Kunjungan Capres-Cawapres ke Pesantren". Isi berita ini serupa dengan isi berita Tribunnews. Wawancara dengan Said Aqil pun dilakukan di lokasi yang serupa, kawasan Pantai Indah Kapuk.

Baik berita Tribunnews maupun berita CNN Indonesia sama-sama tidak berisi tentang pernyataan Said Aqil bahwa Cina bukan negara komunis dan justru Arab Saudi yang komunis.

Terkait isi artikel

Blog Embarxi memang pernah memuat artikel dengan judul "Said Aqil: Negara China Bukan Negara Komunis, Yang Komunis Itu Justru Arab?". Namun, berdasarkan penelusuran Tempo di mesin pencarian Google, tidak ditemukan berita dari media kredibel yang memuat pernyataan Said Aqil mengenai klaim yang ada pada judul tersebut.

Berdasarkan penelusuran itu, Tempo juga menemukan berita asli yang dikutip oleh blog Embarxi. Berita itu dipublikasikan oleh situs Times Indonesia pada 17 Juli 2019. Isi artikel dalam blog Embarxi di atas sama dengan isi berita Times Indonesia tersebut. Namun, berita di Times Indonesia itu berjudul "KH Said Aqil Siradj: Negara China bukan Negara Komunis".

Dalam berita ini, Said Aqil menyatakan bahwa tidak benar jika Cina adalah negara komunis. Wacana bahwa Cina adalah negara komunis, menurut Said Aqil, hanya bagian dari skenario politik beberapa kelompok yang ingin menjatuhkan pemerintahan Presiden Joko Widodo atau Jokowi.

Hal ini pun dianggap sebagai kasus yang wajar bagi Indonesia sebagai penganut sistem demokrasi di mana terdapat potensi adanya penggunaan agama dan keyakinan sebagai alat politik.

"Sudah tidak ada ateisme, komunisme, dan yang lainya, sudah tidak ada. Semua itu sudah menjadi kepentingan politik," kata Said Aqil dalam acara bedah buku "Islam Indonesia dan China, Pergumulan Santri Indonesia di Tiongkok" di kantor PBNU, Jakarta Pusat.

Setelah dibaca hingga selesai, tidak ada satu pun pernyataan Said Aqil bahwa "justru Arab Saudi yang komunis", baik dalam berita di Times Indonesia maupun dalam artikel di blog Embarxi.

Gambar tangkapan layar berita yang diunggah situs Times Indonesia.

Berita ini juga dimuat oleh situs Historia.id. Dalam berita yang berjudul "Muslim Uighur dalam Pandangan NU", tertulis bahwa Cina hingga kini tetap acap dicap sebagai negara yang memusuhi Islam karena sejak 1949 diperintah partai komunis yang pembentukannya juga dipelopori oleh Henk Sneevliet laiknya Partai Komunis Indonesia (PKI).

Padahal, "komunisme sudah hancur. Kebencian terhadap Cina sengaja dikembangkan demi tujuan politik belaka. Cina bukan lagi negara komunis. Komunis dari mananya? Wong bikin usaha saja bebas di sana," ujar Said Aqil.

Adapun saat memberikan keynote speech dalam acara bedah buku tersebut, yang videonya diunggah oleh kanal NU Channel di YouTube, Said Aqil tidak tercatat menyatakan bahwa Cina bukan negara komunis.

Pada menit 1:00:01 hingga menit 1:01:24, Said Aqil berkata:

"Kita harus saling menghormati budaya semuanya, siapa saja. Perintah Al-quran. Kamu jangan caci maki satu sama lain. Allah memberikan kelengkapan, kesempurnaan, masing-masing bangsa, umat itu, dengan nilainya, dengan budayanya. Kita menghormati budaya Cina. Cina menghormati budaya kita. Masing-masing bangsa punya budaya, masing-masing membawa nilai dan kelebihannya sendiri-sendiri. Kita harus menghormati, tidak boleh meremehkan atau menghina. Oleh karena itu, kita menghormati budaya Cina, peradaban dan kemajuan Cina ini kita hormati betul. Bahkan, kita harus menimba ilmu dari sana di saat sekarang kita sedang getol-getolnya membangun. Dan saya jamin Cina bukan penjajah. RRC bukan kolonial. Kolonial itu Inggris, Prancis, Itali, Belanda. Itu kolonial. Cina itu pedagang. Rajin dagang kemana-mana."

Hingga Said Aqil menutup pidatonya, yakni pada menit 1:04:37, tidak ditemukan pernyataan yang menyebut "Cina bukan negara komunis" maupun "justru Arab yang komunis".

Gambar tangkapan layar video yang diunggah kanal NU Channel di YouTube yang memperlihatkan Ketua PBNU Said Aqil Siradj saat memberikan keynote speech dalam acara bedah buku "Islam Indonesia dan China, Pergumulan Santri Indonesia di Tiongkok".

Bukan media kredibel

Blog Embarxi bukanlah situs media yang kredibel karena hanya mengambil konten dari situs media lain tanpa menyebutkan sumbernya. Selain itu, blog tersebut tidak mencantumkan penanggung jawab dan alamat perusahaan.

Padahal, ketentuan terkait ini diatur dalam Pasal 12 Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers yang berbunyi "Perusahaan pers wajib mengumumkan nama, alamat, dan penanggung jawab secara terbuka melalui media yang bersangkutan; khusus untuk penerbitan pers ditambah nama dan alamat percetakan."

Selain itu, dalam blog Embarxi, tidak ditemukan Pedoman Pemberitaan Media Siber. Padahal, kewajiban untuk memuat Pedoman Pemberitaan Media Siber oleh perusahaan media juga tercantum dalam Pasal 8 Undang-Undang Pers.

KESIMPULAN

Berdasarkan pemeriksaan fakta di atas, narasi bahwa Ketua Umum PBNU, Said Aqil Siradj, menyatakan Cina bukan komunis dan justru Arab Saudi yang komunis merupakan narasi yang keliru.

ZAINAL ISHAQ

Anda punya data/informasi berbeda, kritik, atau masukan untuk artikel cek fakta ini? Kirimkan ke cekfakta@tempo.co.id



  •  

    Selengkapnya