[Fakta atau Hoaks] Benarkah KPK Menggerakkan Demo Mahasiswa agar Anarkis?

Jumat, 4 Oktober 2019 18:22 WIB
 
[Fakta atau Hoaks] Benarkah KPK Menggerakkan Demo Mahasiswa agar Anarkis?

Tudingan bahwa Komisi Pemberantasan Korupsi atau KPK menggerakkan demo mahasiswa agar anarkis beredar di media sosial. Narasi itu dibagikan oleh sebuah akun Facebook pada Selasa, 24 September 2019. Akun itu menulis, "Oh ternyata oknum KPK & LSM berkedok anti korupsi jd dalang penggerak demo anarkis mahasiswa. Makin terungkap KPK telah jd sarang gerakan politik radikalis utk menipu rakyat. Memalukan!!!!”

Unggahan itu dilengkapi dengan video yang memperlihatkan sebuah pertemuan antara sekelompok pria dengan anak-anak muda. Di bagian depan ruangan tempat berlangsungnya pertemuan itu, seorang pria berkepala plontos berbicara dengan berapi-api kepada para peserta pertemuan. Di samping pria itu, tampak seorang anak muda yang mengenakan jas berwarna kuning. Ada pula juru bicara KPK, Febri Diansyah, yang duduk di bagian pinggir ruangan.

Gambar tangkapan layar unggahan akun Facebook yang menuding KPK sebagai dalang demo anarkis mahasiswa.

Berikut perkataan pria berkepala plontos itu:

“Bahwa ini bukan sekedar kewajiban nurani bagi kita. Tapi ini adalah kewajiban sejarah bagi kita. Berbanggalah teman-teman yang mendapat kesempatan untuk membuktikan bahwa kalian, kita semuanya ini, bukan hanya punya kewajiban terhadap nurani kita. Tapi kita punya kewajiban terhadap sejarah kita. Dan sejarah ditulis oleh keringat, darah, dan air mata. Jadi, teman-teman sekalian, kita harus bisa membuktikan bahwa yang namanya gerakan mahasiswa, gerakan orang-orang tua, gerakan doa ibu, yang enggak punya apa-apa ini, bisa membuat sebuah perubahan. Faktanya adalah kita bukan hanya menuntut kewajiban nurani kita, tapi kewajiban sejarah yang akan kita buat bersama."

Sejak diunggah, video tersebut telah disaksikan lebih dari 83 ribu kali dan dibagikan sebanyak 1.100 kali.

PEMERIKSAAN FAKTA

Dikutip dari situs Tempo.co, KPK membantah telah melakukan briefing kepada mahasiswa sebelum mereka menggelar demonstrasi untuk menolak pelemahan KPK. Bantahan itu disampaikan oleh Komisioner KPK Alexandar Marwata untuk merespons tudingan yang muncul setelah tersebarnya video yang memperlihatkan pertemuan mahasiswa di dalam gedung KPK.

"Kejadiannya tidak seperti itu," kata Alexander saat ditemui di Solo pada Rabu, 25 September 2019. Menurut dia, KPK tidak pernah memberikan briefing atau pengarahan kepada mahasiswa terkait pelaksanaan demonstrasi.

Alexander mengakui bahwa sempat ada perwakilan kmahasiswa dari beberapa kampus yang mendatangi gedung KPK. "Untuk menyampaikan aspirasi dan dukungan," katanya. Dukungan untuk komisi antirasuah itu memang terus mengalir beberapa waktu belakangan.

KPK lantas menerima kedatangan para mahasiswa itu di ruang konferensi pers yang ada di gedung lembaga itu. Salah satu petugas yang menerima kedatangan mahasiswa itu adalah juru bicara KPK, Febri Diansyah. "Dia kan memang bagian humas," katanya.

Video pertemuan itu belakangan beredar di media sosial. Video tersebut memperlihatkan seorang pria yang tengah bicara berapi-api seolah memberikan pengarahan kepada para mahasiswa. "Yang berbicara itu perwakilan dari mereka, bukan dari KPK," ujar Alexander.

Juru bicara KPK, Febri Diansyah, juga memberikan pernyataan tertulis terkait video yang memperlihatkan pertemuan mahasiswa di dalam gedung KPK. Dia menegaskan bahwa KPK tidak menunggangi unjuk rasa mahasiswa di gedung DPR dan MPR pada 23-24 September 2019. "Hal tersebut tidak benar," ujar Febri Diansyah pada Rabu, 25 September 2019.

Febri mengatakan bahwa para mahasiswa itu datang pada 11-12 September 2019 ke KPK dalam rangka membahas isu antikorupsi. Ia pun mengajak semua pihak untuk menghargai niat tulus dari para mahasiswa dan masyarakat yang menyuarakan pendapatnya itu. "Jangan sampai mahasiswa dituduh digerakkan oleh pihak-pihak tertentu," kata Febri.

Dia pun menuturkan bahwa informasi mengenai pertemuan itu sudah disebarkan melalui siaran pers. Saat itu, Badan Eksekutif Mahasiswa dari berbagai universitas mendatangi KPK sejak Rabu, 11 September 2019, pukul 21.00 WIB, hingga Kamis, 12 September 2019, dini hari. Kedatangan tersebut merupakan bentuk dukungan mereka kepada KPK.

BEM dari berbagai universitas itu juga menyalakan lilin yang membentuk kata "SOS" dan menembakkan lampu laser ke Gedung Merah Putih KPK. Mereka menyatakan "Nyalakan Tanda Bahaya" karena Indonesia semakin dirundung darurat korupsi dengan adanya calon pimpinan KPK yang dianggap bermasalah, revisi Undang-Undang KPK, dan revisi Kitab Undang-Undang Hukum Pidana.

Aksi mahasiswa itu dilanjutkan dengan pertemuan di ruang konferensi pers Gedung Merah Putih KPK. "KPK mengucapkan terima kasih atas banyak dukungan yang diberikan masyarakat agar KPK terus bekerja keras melakukan pemberantasan korupsi," kata Febri.

Dilansir dari laman kantor berita Antara, ada 75 mahasiswa yang mendatangi gedung KPK pada 11-12 September 2019. Mereka berencana untuk bermalam di depan Gedung Merah Putih KPK sebagai simbol bahwa mereka ingin menjaga KPK dari pelemahan serta pihak-pihak yang ingin mengganggu kerja pemberantasan korupsi di Indonesia. Selain itu, mereka juga melakukan pertemuan dengan seluruh pendukung KPK di ruang konferensi pers Gedung Merah Putih KPK.

Pertemuan itu dihadiri oleh BEM Universitas Indonesia, BEM Universitas Trisakti, BEM Universitas Indraprasta PGRI, BEM Universitas Islam Negeri Jakarta, Gerakan Anti Korupsi Lintas Perguruan Tinggi, ahli hukum pidana UI Gandjar Laksmana Bonaprapta, Direktur Pusat Studi Konstitusi Universitas Andalas Feri Amsari, serta pegiat anti korupsi Saor Siagian.

KESIMPULAN

Berdasarkan pemeriksaan fakta di atas, video itu merupakan video ketika mahasiswa dan pegiat antikorupsi mendatangi KPK pada 11-12 September 2019. Rombongan itu ditemui juru bicara KPK, Febri Diansyah. Namun, pertemuan itu bukan membahas demonstrasi mahasiswa. Kedatangan mahasiswa dan pegiat antikorupsi itu merupakan bentuk dukungan kepada KPK. Dengan demikian, narasi bahwa KPK menggerakkan demo mahasiswa agar anarkis sesat karena cara penyampaian atau kesimpulannya keliru serta mengarahkan ke tafsir yang salah.

ZAINAL ISHAQ

Anda punya data/informasi berbeda, kritik atau masukan untuk artikel cekfakta ini? Kirimkan ke cekfakta@tempo.co.id